Media massa Australia dan Indonesia dihimbau untuk menahan diri dan tidak mudah menyediakan ruang bagi individu maupun kelompok garis keras dalam masyarakat beragama manapun yang suka menyulut terjadinya "clash of fundamentalism".Imbauan itu disampaikan Cendekiawan Muslim Indonesia yang juga Dosen Fakultas Hukum Universitas Wollongong, Dr.Nadirsyah Hosen, dalam perbincangan dengan ANTARA,Selasa, menanggapi kasus pernyataan kontroversial Ustadz Abu Bakar Ba'asyir, di media Australia.
Sikap menahan diri media di mana pun, termasuk Australia dan Indonesia, itu penting karena saat ini kaum moderat dalam mayoritas penduduk Muslim dan non-Muslim di dunia, termasuk Australia dan Indonesia, dikepung oleh pertarungan individu atau kelompok fundamentalis dari kalangan Muslim maupun non-Muslim atau yang kemudian dikenal dengan "clash of fundamentalism", katanya.
"Kita sekarang ini dikepung oleh pertarungan orang-orang fundamentalis baik di lingkungan Muslim dan non-Muslim sehingga orang-orang Muslim dan non-Muslim yang moderat dan toleran diprovokasi oleh kejadian-kejadian ini padahal mayoritas adalah orang-orang moderat yang tidak punya masalah," katanya.
Dalam kasus pernyataan kontroversial Ustadz Ba'asyir, selama ini setiap pernyataan maupun tindakan pemimpin Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, ini mudah menyita perhatian publik di Australia.
Bahkan Menteri Luar Negeri Australia, Stephen Smith, terprovokasi oleh media di negaranya untuk juga ikut menanggapi pernyataan kontroversial Ustadz Ba'asyir, katanya.
"Seharusnya Menlu Stephen Smith tidak perlu sampai menanggapi Ba'asyir. Hebatnya lagi tidak satu pun media (di Australia) mengontak Indonesianis untuk memperkaya isi berita mereka. Akhirnya, pernyataan Ba'asyir menjadi wah ...," kata Nadirsyah Hosen.
Padahal seruan kontroversial Ustadz Ba'asyir kepada jamaah pengajiannya untuk melakukan tindak kekerasan terhadap para turis Australia dan turis asing lainnya pada Oktober 2007 lalu itu tidak diberi tempat oleh media di Indonesia, katanya.
Sejak keluarnya seruan kontroversial Ustadz Ba'asyir itu, tidak pula terdengar ada satu kasus pemukulan pun terhadap turis asing di Indonesia. Kenyataan ini semakin membuktikan bahwa "omongan" Ustadz Ba'asyir juga diabaikan publik, katanya.
Di Indonesia, Ustadz Abu Bakar Ba'asyir tidak mewakili suara mayoritas umat Islam sehingga sudah sepatutnya media di Australia menahan diri untuk memberikan ruang yang begitu besar kepadanya.
Berbeda halnya kalau pernyataan dibuat oleh tokoh Muslim moderat Indonesia yang mewakili organisasi-organisasi besar Islam, seperti Hasyim Muzadi dan Din Syamsuddin yang mewakili organisasi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, katanya.
"Ba'asyir bukan suara mayoritas umat Islam Indonesia," kata Nadirsyah Hosen.
Seruan kontroversial pemimpin Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI) itu mencuat ke publik Australia setelah media setempat hari Senin (24/3) mempublikasi apa yang diklaim sebagai isi rekaman video ceramah agamanya di depan ratusan warga desa di Jawa Timur, Oktober 2007.
ABC misalnya menyebut Ba'asyir dalam ceramahnya yang diabadikan dalam bentuk video oleh seorang peneliti universitas di Darwin, Australia, antara lain menganjurkan jamaahnya untuk memukul para turis asing yang tidak menghormati cara-cara Islami.
Ba'asyir seperti dikutip ABC dari isi video itu juga meminta jamaah pengajiannya agar "tidak menoleransi" para turis non Muslim yang dianalogikannya bak "ulat, ular, dan belatung yang merangkak".
Ba'asyir menyebut para turis yang mempertontonkan kulit tubuh mereka di pantai pasir seperti di Bali itu, menurut Ba'asyir, telah menghancurkan nilai-nilai moral.
Menanggapi pernyataan dan seruan kontroversial Ustadz Ba'asyir itu, Menlu Stephen Smith mengutuk pernyataan yang mengancam keselamatan warga Australia dan warga asing di Indonesia.
Di mata Nadirsyah Hosen, seruan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir kepada jamaah pengajiannya Oktober 2007 lalu itu bertentangan dengan ajaran Islam dan berpotensi mengganggu upaya menyukeskan Tahun Kunjungan Wisata (VIY) 2008.
Dalam Islam, mengatakan turis asing seperti binatang sangat jauh dari akhlak yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, katanya.
Namun Nadirsyah Hosen mempertanyakan alasan dan motivasi peneliti di Darwin itu membuka isi video rekaman pengajian Ustadz Ba'asyir ke media Australia pada Maret 2008 atau enam bulan setelah pengajian di Jawa Timur tersebut tanpa terjadi insiden terhadap turis Australia dan turis asing lainnya di Indonesia.
ANTARA mencatat beberapa kejadian dan tindakan yang berpotensi menyulut kesalahpahaman antarumat beragama di dunia adalah pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad di Suratkabar Jyllands Posten, Denmark, dan film karya sineas Belanda Geert Wilders yang menyerang Islam dan Al Qur'an.

No comments:
Post a Comment