Najwa Shihab, presenter kondang Metro TV, kembali ke bangku kuliah setelah bertahun-tahun menyapa jutaan pemirsa televisi Tanah Air sejak lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 2000. Kehadirannya di perguruan tinggi papan atas Australia yang berdiri sejak 1853 itu tidak terlepas dari beasiswa "Australian Leadership Awards" yang diterimanya bersama 169 orang "pemimpin muda" lainnya dari 30 negara di kawasan Asia Pasifik.
"Selain saya, ada 24 orang Indonesia lain yang juga menerima beasiswa ALA tahun 2008. Kita tiba di Australia Januari lalu," katanya kepada ANTARA yang menghubunginya via telepon beberapa saat sebelum ia menyampaikan pidato di depan para pejabat pemerintah Australia mewakili para penerima ALA dalam sebuah acara di gedung Parlemen Australia Canberra, Selasa malam.
Selain ALA, ia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menerima Allison Sudjarad Awards, penghargaan baru pemerintah Australia bagi orang-orang Indonesia berprestasi tinggi untuk mengenang jasa Allison Sudrajad, diplomat karir yang tewas bersama empat warga Australia lainnya dalam kecelakaan pesawat Boeing 737-400 Garuda Indonesia di Yogyakarta 7 Maret 2007 lalu.
Allison yang memimpin Badan Pembangunan Internasional Australia (AusAID) di Indonesia selama bertahun-tahun sebelum ajal menjemputnya di Yogyakarta setahun lalu itu adalah sosok yang "dekat di hati" banyak orang Indonesia penerima beasiswa pemerintah Australia.
Di mata Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bill Farmer, program beasiswa ALA yang kini diterima Najwa adalah salah satu dari sekian banyak "warisan" penting Allison bagi Indonesia. Program ALA tersebut diluncurkan di Indonesia tahun 2006.
Bagi Najwa Shihab yang kondang sebagai anchor program berita "Metro Hari Ini" dan talk show "Today's D
ialogue" Metro TV ini, kesempatan kembali ke kampus adalah bagian dari pengejawantahan filosofinya tentang pentingnya "long life education".Alumnus Fakultas Hukum UI angkatan tahun 1996 dan ibu dari Izzat ini melihat pendidikan sebagai sesuatu yang akan terus diperlukan setiap orang,termasuk para pemimpin.
"Dalam pidato saya Selasa malam ini, saya menekankan poin penting 'life long education' bagi para pemimpin. Kesempatan belajar di perguruan tinggi pun adalah bagian dari upaya menambah terus pengetahuan."
Ia kemudian mengutip pesan mantan presiden Amerika Serikat John F.Kennedy bahwa para pemimpin itu sejatinya adalah "long life learner" (orang yang tak pernah berhenti belajar-red.).
Di dalam pidatonya itu, Najwa yang berada di Canberra selama tiga hari untuk mengikuti konferensi kepemimpinan bersama para penerima beasiswa ALA lainnya ini juga menyinggung secara umum berbagai tantangan bersama negara-negara di kawasan Asia Pasifik.
"Kita merumuskan bersama masalah-masalah yang dihadapi dan peluang-peluang kerja sama yang mungkin dilakukan oleh para pemimpin muda di kawasan Asia Pasifik untuk menyelesaikan masalah tersebut di tengah banyaknya problem internal di negara masing-masing."
"Saya mengangkat hal-hal umum dan referensi saya adalah pengalaman saya sebagaijurnalis Indonesia. Dunia kini memang semakin mudah disalahpahami dan tersulut konflik. Karena itu, penting sekali dikembangkan kemampuan 'cultural adaptability' (adaptabilitas budaya) dan penghargaan terhadap perbedaan budaya," katanya.
Dengan bekal beasiswa ALA yang diterimanya, Najwa Shihab kini berkesempatan mewujudkan "pesan Kennedy".
Di salah satu pusat keunggulan Australia itu pula, jurnalis perempuan kelahiran Makassar 16 September 1977 ini berkesempatan mengisi "kedahagaannya" akan beragam materi kuliah yang disukainya, seperti hukum komunikasi dan politik hukum.
Tidak hanya itu, selama satu setengah tahun masa studinya, ia bersama anak dan suaminya yang juga sedang studi di Melbourne berkesempatan pula belajar dan merasakan langsung denyut nadi multi-kulturalisme Australia.
*) My news for ANTARA on March 18, 2008

No comments:
Post a Comment