Oleh Rahmad NasutionIndonesia mulai melirik potensi besar pasar kerja di Australia. Pada 2008, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2 TKI) sudah mematok target pengiriman sebanyak 500 orang tenaga kerja terampil dan setengah terampil ke negara itu.
Selama berpuluh tahun, pasar kerja Australia lebih sering diisi oleh orang-orang Indonesia yang berstatus "residen tetap", " mahasiswa" atau pun "suami atau istri" mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negara industri maju berpenduduk sekitar 21 juta jiwa itu.
Baru belakangan dalam empat tahun terakhir, sejumlah tenaga perawat Indonesia yang sudah mengantongi status "registered nurses" (perawat terdaftar) berhasil bekerja di sejumlah rumah sakit di negara bagian Northern Territory, New South Wales, dan Queensland.
Target pengiriman 500 orang pekerja terampil dan setengah terampil Indonesia ke Australia itu terungkap dalam kunjungan kerja delapan orang anggota delegasi BNP2 TKI ke Melbourne Februari lalu.
Menurut Minister Counsellor/Ekonomi KJRI Melbourne, Jahar Gultom, para anggota delegasi BNP2 TKI itu telah pun bertemu dengan berbagai pihak terkait di negara bagian Victoria untuk menjajaki peluang pengiriman TKI terampil dan setengah terampil yang bisa bekerja di bidang pemetikan buah, konstruksi, keperawatan, pertambangan, dan pendidikan yaitu sebagai guru Bahasa Indonesia.
Para anggota delegasi BNP2 TKI, termasuk Deputi Kerja Sama dan Promosi Luar Negeri Ramli Saud dan Deputi Bidang Penempatan Ade Adam Noch, itu, juga mendapatkan gambaran tentang aturan keimigrasian Australia bagi para tenaga kerja asing dari pertemuan mereka dengan pengacara imigrasi setempat.
"Terjadi diskusi yang produktif antara para anggota delegasi dengan para wakil lembaga-lembaga terkait di Melbourne. Mereka pun sudah mendapat gambaran tentang syarat kemampuan berbahasa Inggris setiap calon tenaga kerja asing," kata Gultom.
Dalam hal ini, bagi pekerja setengah terampil, pemerintah Australia mematok skor IELTS (International English Language Testing System) sebesar 4,5, sedangkan bagi calon pekerja terampil s
eperti perawat, skor IELTSnya harus 7,0, katanya.
IELTS adalah alat ukur kemampuan berbahasa Inggris bagi para penutur asing yang sering digunakan oleh lembaga pemerintah dan non pemerintah di Australia untuk merekrut para pekerja maupun mahasiswa mancanegara dari negara-negara non-berbahasa Inggris.
"Prasyarat bahasa Inggris bagi perawat ini sangat tinggi tapi prasyarat ini harus dipenuhi," kata Gultom.
Para delegasi PNP2 TKI itu juga berkesempatan bertemu dan berdialog dengan 22 orang wakil agensi perekrutan tenaga kerja asing dan wakil sektor usaha sebagai pengguna.
Para wakil pengguna tenaga kerja asing itu berasal dari perusahaan konstruksi, teknologi informasi, pertambangan, dewan perawat negara bagian Victoria, perdagangan, pertanian, dan pendidikan.
Mereka pun bertemu dengan wakil Fakultas Ilmu-Ilmu Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Universitas Monash untuk membicarakan masalah kerja sama pendidikan dan pelatihan bagi tenaga perawat Indonesia sehingga mereka dapat memenuhi standardisasi rumah sakit-rumah sakit di Australia, kata Gultom.
Keseriusan BNP2 TKI untuk mulai menginfiltrasi pasar kerja Australia itu juga tercermin dari penyelenggaraan pertemuan di Bali pada 27-28 Maret 2008 yang dijadwalkan akan dihadiri Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb serta seluruh kepala perwakilan RI di negara benua itu.
Di dalam pertemuan tersebut, para kepala perwakilan RI di Australia akan memaparkan berbagai peluang dan tantangan pasar kerja di wilayah tugas mereka masing-masing.
Dalam kaitan ini, persyaratan sertifikasi dan kemampuan berbahasa Inggris yang diukur dengan skor capaian IELTS tampaknya merupakan dua tantangan utama yang akan "menghadang" banyak pekerja Indonesia yang hendak mengadu nasib di negeri Kangguru.
Pandangan itu setidaknya disampaikan Konsul RI di Perth, Dr.Aloysius L.Madja, Konsul Jenderal RI di Sydney, Sudaryomo Hartosudarmo, dan Konsul RI di Darwin, Harbangan Napitupulu.
Dilihat dari peluang pasar kerja, negara bagian Australia Barat saja misalnya memerlukan sedikitnya 400 ribu orang tenaga kerja dalam sepuluh tahun mendatang di berbagai sektor, seperti hospi
taliti, kesehatan, pertanian, pertambangan, pendidikan, dan konstruksi.
"Angka 400 ribu tenaga kerja itu didasarkan pada hasil studi-studi ekonomi selama ini. Di antara bidang-bidang yang memerlukan adalah pertambangan, hospitaliti (restauran dan perhotelan-red), kesehatan (perawat), pertanian, dan pendidikan (guru)," kata Konsul RI di Perth, Dr.Aloysius L.Madja.
Selain itu, bidang pekerjaan lain seperti supir taksi dan tenaga satpam juga masih terbuka. Hanya saja, para pekerja asing khususnya dari negara-negara non-berbahasa Inggris, seperti Indonesia, harus memenuhi persyaratan kemampuan bahasa Inggris yang sudah ditetapkan, katanya.
Kesadaran Pemerintah Daerah (Pemda) di Tanah Air pada besarnya peluang kerja di Australia yang bisa diisi para tenaga kerja asal daerah juga sudah tumbuh.
Sebagai contoh, pada 6 Desember 2007 lalu, kantor Departemen Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur bahkan sudah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan "Overseas Staff Solution", sebuah perusahaan perekrut tenaga kerja asing, di Australia Barat.
MoU tersebut, kata Madja, membuka peluang Jawa Timur untuk memasok tenaga-tenaga kerja terampil asal daerah itu untuk memasuki pasar kerja di Australia Barat.
"Premier (kepala pemerintah) negara bagian Australia Barat pun sudah meninjau balai latihan kerja di Jawa Timur. Artinya ada peluang untuk tenaga kerja kita. Tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkannya dengan memenuhi persyaratan yang mereka (pihak Australia) sudah tetapkan," katanya.
Hanya saja, persyaratan IELTS yang sudah dipatok sedemikian rupa oleh pihak Australia harus dapat dipenuhi.
Madja mengatakan, batas skor IELTS minimal bagi para calon tenaga kerja di sektor pertambangan Australia diupayakan sebesar 4,5 supaya mereka setidaknya memiliki kemampuan komunikasi dasar dalam bahasa Inggris.
"Namun, bagi tenaga perawat, skor IELTS-nya relatif tinggi, yakni 7.0. Tantangan lain adalah kualifikasi dan sertifikasi," katanya.
Di sektor konstruksi jalan dan perumahan, khususnya di wilayah utara Australia Barat, peluang kerjanya juga besar namun para tenaga kerja Indonesia dituntut mampu bersaing dengan para pekerja asing lainnya karena pemerintah Timor Leste sendiri pernah meminta 5.000 warganya diterima bekerja di Australia Barat, katanya.
Sependapat dengan Madja, Konsul Jenderal RI di Sydney, Sudaryomo Hartosudarmo, juga melihat masalah IELTS sebagai tantangan besar bagi para pekerja Indonesia
khususnya mereka yang ingin berkarir sebagai tenaga perawat di rumah sakit-rumah sakit di Australia.
Untuk tiga negara bagian yang masuk wilayah tugas KJRI Sydney, yakni New South Wales, Queensland, dan Australia Selatan, setidaknya ada tiga bidang pekerjaan yang peluangnya besar bagi para pekerja asing, termasuk Indonesia. Ketiga bidang itu adalah "nursing" (keperawatan), juru masak, serta akuntan dan teknologi informasi.
Dari ketiga bidang itu, Sudaryomo mengatakan, ia akan menfokuskan pemanfaatan peluang kerja di bidang keperawatan. "Sebenarnya kita sudah mencoba memanfaatkan peluang ini dengan mengirim 220 mahasiswa Indonesia ke program pendidikan keperawatan Universitas Teknologi Sydney," katanya.
Banyak di antara mereka sudah merampungkan studinya dan mendapatkan gelar akademis "Bachelor of Nursing" (sarjana keperawatan) namun mereka menghadapi kendala skor IELTS yang dinaikkan dari 6.0 menjadi 7.0 saat mau memasuki melamar pekerjaan, katanya.
"Kalau sebelum 8 Februari 2008, dengan total skor IELTS 6.0, mereka sudah bisa bekerja di rumah sakit-rumah sakit, namun setelah 8 Februari 2008, Nursing Board of Australia (Badan Keperawatan Australia) mematok peraturan baru yang mengharuskan seorang 'registered nurse' harus memiliki skor IELTS 7.0," katanya.
Akibatnya banyak di antara anak-anak Indonesia itu harus kembali berjuang untuk menaikkan skor IELTS mereka menjadi 7.0. "Dan ini problem besar untuk anak-anak kita," katanya.
Konsul RI di Darwin, Harbangan Napitupulu, juga melihat IELTS sebagai tantangan yang mau tidak mau harus mampu dijawab para calon tenaga kerja terampil dan setengah terampil Indonesia yang akan memasuki pasar kerja Australia.
Di Darwin dan wilayah-wilayah lain di Northern Territory, menjadi tenaga perawat, mekanik, satpam, serta pekerja restoran dan perhotelan masih sangat terbuka, katanya.
Napitupulu mengatakan, peluang-peluang kerja yang ada akan semakin terbuka dimasuki para pekerja asal Indonesia jika PJTKI dan organisasi-organisasi kemasyarakatan Indonesia memiliki hubungan yang baik dengan organisasi-organisasi perekrut tenaga kerja asing di Australia.
Di Darwin sendiri terdapat setidaknya tujuh perusahaan perekrut tenaga kerja, katanya.
Keinginan pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan peluang pasar kerja di Australia tidak bersifat jangka pendek tapi sebaliknya jangka panjang. Dengan demikian, keseriusan pemerintah dan seluruh elemen pemangku kepentingan (stake holder) dalam menyiapkan tenaga kerja nasional ya
ng terampil sangat dituntut.
Pemerintah Australia sendiri akan mengalokasikan dana sebesar 1,2 miliar dolar Australia dalam empat tahun ke depan untuk mendukung upaya memperbaiki mutu keterampilan para tenaga kerjanya.
Perdana Menteri Australia Kevin Rudd saat berbicara dalam konferensi "ABARE Outlook 2008" bertajuk "Tantangan Pertanian Australia di Masa Mendatang" pada 4 Maret 2008 lalu di Canberra menegaskan bahwa dengan dana 1,2 miliar dolar itu, pemerintah ingin membangun 450 ribu balai latihan kerja tambahan.
"Kita (Australia) harus melakukan investasi sumber daya manusia kalau Australia ingin menikmati pertumbuhan berkelanjutan dan daya saing yang kuat dalam perekonomian global," katanya.
Selain memperbaiki keterampilan para pekerjanya, Australia di bawah pemerintahan PM Rudd juga giat mengampanyekan revolusi di bidang pendidikan nasionalnya untuk mendukung upaya membangun produktivitas dan daya saing Australia yang unggul di pasar global.
Di tengah geliat Australia meningkatkan keunggulan sumber daya manusianya, Indonesia memulai langkah penetrasi pasar kerja negara tetangga di selatan ini. Tantangan bagi para TKI yang ingin "mengadu nasib" di negara Kangguru itu pun akan bertambah.

No comments:
Post a Comment