Monday, March 17, 2008

INDONESIA DUKUNG KAMPANYE "SEJAM MATI LAMPU" WWF-AUSTRALIA






Kedutaan Besar RI dan Wisma Indonesia di Canberra ikut mendukung kampanye mematikan lampu selama satu jam "Earth Hour" World Wild Fund for Nature (WWF) Australia pada 29 Maret mendatang.

Dukungan perwakilan pemerintah RI di Canberra itu disampaikan Juru Bicara KBRI Canberra Dino Kusnadi kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Selasa, sebagai bentuk kepedulian pada kampanye pengurangan emisi karbon dan penyelamatan lingkungan.

"KBRI Canberra dan Wisma Indonesia (rumah kediaman Dubes RI) akan mematikan lampu selama satu pada 29 Maret itu. Bagi seluruh staf KBRI Canberra lainnya juga diimbau untuk melakukan hal yang sama selama tidak mengganggu tugas penting hari itu," katanya.

Dino Kusnadi mengatakan, gerakan "Earth Hour" yang pada mulanya digagas WWF di Sydney pada 31 Maret 2007 dan kemudian diperluas menjadi inisiatif global di Bali pada 14 Desember 2007 ini sudah mendapat dukungan banyak kota di Australia dan dunia.

Gerakan mematikan lampu secara serempak selama satu jam pada 29 Maret 2008 itu sangat baik untuk mengurangi beban polusi karbon dioksida di bumi. Karena itu KBRI Canberra dan Wisma Indonesia mendukung gerakan ini, katanya.

Sementara itu, Kath Eggleston dari WWF-Australia yang dihubungi ANTARA secara terpisah mengatakan, jumlah kota-kota besar di dunia yang mendukung gerakan mematikan lampu selama sejam ini akan bertambah.

"Kami masih terus memperbaharui jumlah kota di dunia yang mendukung gerakan ini. Jumlah terakhirnya baru bisa diketahui pada 28 Maret," katanya.

Menjawab pertanyaan apakah ada di antara kota-kota di dunia itu berasal dari Indonesia, terlebih lagi Bali merupakan wilayah Indonesia yang menjadi tempat diluncurkannya inisiatif global gerakan "Earth Hour" global Desember 2007 lalu, Enggleston secara diplomatis mengatakan hal itu mungkin lebih diketahui oleh perwakilan WWF-Indonesia.

"Anda mungkin bisa mengetahuinya dengan menghubungi perwakilan WWF-Indonesia," katanya seraya memberikan nomor kontak WWF-Indonesia.

Namun dari informasi yang dipublikasi "Earth Hour" melalui laman (situs)-nya http://www.earthhour.org, tak satu pun nama kota di Indonesia ada di antara nama-nama kota di Australia dan dunia yang sudah bersedia mendukung gerakan 29 Maret 2008 itu.

Hingga 20 Februari 2008, setidaknya 24 kota sudah bersedia mendukung kampanye perubahan iklim "Earth Hour" WWF ini. Ke-24 kota itu adalah Atlanta, San Francisco, Phoenix, Bangkok, Ottawa, Vancouver, dan Montreal Dublin.

Selanjutnya Sydney, Perth, Melbourne, Canberra, Brisbane, Adelaide, Copenhagen, Aarhus, Aalborg, Odense, Manila, Suva, Chicago, Tel Aviv, Toronto dan Christchurch.

Gerakan mematikan lampu selama sejam itu bermula dari inisiatif WWF Australia di Sydney pada 31 Maret 2007.

Saat itu, sekitar 2,2 juta orang warga dan 2.100 perusahaan di kota metropolitan terbesar Australia itu serentak mematikan lampu selama satu jam pada tanggal tersebut.

WWF Australia memperkirakan emisi karbon yang bisa dikurangi dari gerakan mematikan lampu selama satu jam dalam setahun penuh di Sydney itu setara dengan mengeluarkan 48.616 unit mobil dari jalan-jalan kota itu.

setelah keberhasilan di Sydney itu, para aktivis lingkungan hidup Australia lalu memperluas inisiatif mereka ini ke tingkat global dengan meluncurkan gerakan "Earth Hour" secara global di Bali (Indonesia) pada 14 Desember 2007.

Saat itu, Direktor Jenderal WWF, James Leape, mengungkapkan terima kasihnya kepada para wali kota dan pejabat negar yang ikut mendukung gerakan yang disebutnya "kegiatan global unik yang memperlihatkan komitmen" bersama untuk merespons tantangan perubahan iklim.

"Selama 'Earth Hour' itu, kalangan pemerintah, pengusaha, pimpinan masyarakat, dan warga perorangan mematikan lampu-lampu di tempat mereka. Aksi nyata mereka ini dapat membantu mewujudkan satu perubahan di tengah tantangan besar dunia saat ini," katanya.

Pemimpin WWF-Australia, Greg Bourne, dalam pernyataan persnya mengatakan, gerakan "Earth Hour" bermula di Sydney dan diikuti oleh 2,2 juta orang. Di antara ikon kota Sydney yang sempat "gelap" pada Maret 2007 lalu adalah gedung Opera Sydney dan jembatan pelabuhan Sydney (Sydney Harbour Bridge).

"Peristiwa di Sydney itu membawa pesan global yang kuat bahwa setiap orang bisa ikut dalam merespons tantangan perubahan iklim dunia. Dan, kami ingin pesan itu sampai ke semua orang di dunia," katanya.

*)My news for ANTARA on March 18, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity