Wednesday, March 5, 2008

JANGAN LAGI ADA "PENGALAMAN BURUK" DI UNIVERSITAS AUSTRALIA

Pemerintah RI berharap para mahasiswa riset asal Indonesia di berbagai universitas di Australia tidak lagi pernah mengalami pengalaman buruk akibat seringnya terjadi "gonta-ganti" dosen pembimbing yang dapat mengancam studi mereka.

Harapan itu disampaikan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra, Dr.R.Agus Sartono,MBA kepada ANTARA, Rabu, sehubungan dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama antara Universitas Newcastle (UN) dan Konsorsium PTN Kawasan Timur Indonesia (KPTN KTI) di Universitas Udayana (Unud) Bali.

"Semoga masalah pergantian dosen pembimbing mahasiswa doktoral hingga empat-lima kali tidak terjadi di Universitas Newcastle. Saya yakin bahwa Universitas Newcastle memiliki komitmen yang kuat untuk manjaga reputasinya," kata Agus Sartono.

MoU yang ditandatangani Pro Vice Chancellor Bidang internasional UN Prof. William R. Purcell dan para rektor dari 17 PTN KTI di Kampus Unud Bukit Jimbaran Bali hari Selasa (4/3) itu mencakup kerja sama pengembangan dan pertukaran dosen, pertukaran mahasiswa dan kerja sama penelitian.

Ia mengatakan, Februari lalu, ia sempat memperingatkan salah satu universitas di Australia agar serius memperhatikan masalah "gonta-ganti" dosen pembimbing di lingkungan universitas tersebut karena kondisi itu mengancam keberlangsungan studi mahasiswa.

Pengalaman kurang baik itu dialami sejumlah mahasiswa Indonesia penerima beasiswa TPSDP (Technological and Professional Skills Development Sector Project) Depdiknas di salah satu universitas di Perth, Australia Barat tersebut, kata Agus.

Ia mengatakan, ia yakin masalah yang sama tidak akan terjadi di UN karena perguruan tinggi yang masuk dalam top 100 dunia untuk bidang teknik (engineering), sains komputer dan teknologi, serta berada di ranking 63 dunia untuk bidang sains biomedis ini memiliki "reputasi bagus".

Untuk menarik minat mahasiswa asing, terutama dari Indonesia, UN sudah melengkapi dirinya dengan fasilitas akomodasi dalam kampus (on campus housing) dan musholla bagi para mahasiswa Muslim yang sangat memadai, katanya.

Mengenai MoU UN dan KPTN KTI itu, Agus Sartono mengatakan, penandatanganan MoU yang melibatkan 17 PTN plus satu Program Pascasarjana itu patut disambut baik untuk mendorong lebih banyak universitas Indonesia yang masuk daftar perguruan tinggi kelas dunia.

"Program nyata, tahun ini disediakan beasiswa bagi 3.000 orang dosen PTN/PTN seluruh Indonesia. Memang kendala terbesar adalah penguasaan bahasa Inggris," katanya.

Untuk itu, para rektor PTN dan PTS di seluruh Indonesia diharapkan dapat mendorong para dosen universitas masing-masing untuk terus memperkuat kemampuan berbahasa Inggris mereka, kata Agus Sartono.

"Lebih baik lagi apabila universitas mengadakan 'predeparture program' (program kesiapan pra-keberangkatan) bagi staf yang akan belajar di luar negeri," katanya.

KPTN KTI beranggotakan sedikitnya 17 PTN, yakni Universitas Tadulako (Palu), Universitas Udayana (Bali),Univeritas Hasanuddin (Makassar),Universitas Mulawarman (Samarinda), Universitas Haluoleo (Kendari), Univeritas Negeri Manado (Tondano), dan STSI Denpasar.

Seterusnya, Universitas Negeri Papua (Manokwari), IKIP Negeri Gorontalo, Universitas Pattimura (Ambon), Universitas Cendrawasih (Jayapura), Universitas Mataram, Universitas Lambung Mangkurat (Banjarmasin), Universitas Palangkaraya (Palangkaraya), Universitas Sam Ratulangi (Manado), dan Universitas Nusa Cendana (Kupang).

*) My news item for ANTARA on March 5, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity