Universitas Newcastle (UN) Australia berkomitmen membantu 17 perguruan tinggi negeri (PTN) yang tergabung dalam Konsorsium PTN Kawasan Timur Indonesia (KPTN KTI) untuk masuk ke dalam jajaran universitas berkelas dunia.Komitmen itu disampaikan Pro Vice Chancellor UN, Prof. Dr. William R. Purcell, dalam acara penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang kerja sama UN dengan KPTN KTI di kampus Universitas Udayana (Unud) Selasa (4/3), kata Atase Pendidikan dan kebudayaan RI di KBRI Canberra, Dr.R.Agus Sartono,MBA, dalam penjelasannya kepada ANTARA, Rabu.
"Prof. Dr. William R. Purcell menyampaikan bahwa melalui MoU ini, the University of Newcastle ingin membantu PTN di Indonesia menjadi world class university (universitas kelas dunia) sejalan dengan strategi jangka panjang Depdiknas," katanya.
Mengutip pernyataan Prof.Purcell, Agus mengatakan, pekan lalu, para rektor (vice chancellor) universitas-universitas di Australia dan pemerintah federal membahas strategi jangka panjang pendidikan, termasuk kerja sama dengan universitas di luar negeri.
Mengenai MoU yang penandatanganannya di Kampus Unud Bukit Jimbaran turut ia saksikan itu, Agus mengatakan, nota kerja sama ini merupakan yang terbesar dalam lima tahun terakhir karena melibatkan 17 PTN dan satu Program Pascasarjana.
"MoU ini merupakan realisasi dari kunjungan KPTN KTI ke Canberra pada 30 Juli ? 3 Agustus 2007
yang lalu yang kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Newcastle," katanya.
Penandatangan MoU yang dilakukan Pro Vice Chancellor Bidang internasional UN Prof. William R. Purcell dengan para rektor dari 17 PTN KTI itu juga dihadiri Kanselor Pendidikan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Dr. Shannon Smith, Ketua KPTN KTI Prof. Dr.Lucky Sondakh dan Direktur Eksekutif KPTN KTI Prof.Dr.Andi Lolo.
Ia mengatakan, ia sangat bergembira dengan penandatanganan MoU yang seharusnya sudah dilaksanakan pada pertengahan Desember 2007 di kampus Universitas Tadulako, Palu.
Agus mengatakan, kerja sama 17 PTN di Kawasan Timur Indonesia dengan UN itu sangat tepat mengingat UN merupakan universitas yang memiliki "reputasi bagus".
"Pendapatan tahunan UN tercatat 400 juta dolar Australia, sedangkan pendapatan dari risetnya tercatat 80 juta dolar Australia. UN juga masuk dalam top 100 dunia untuk bidang tekni (engineering), sains komputer dan teknologi, serta berada di ranking 63 dunia untuk bidang sains biomedis," katanya.
Untuk menarik minat mahasiswa asing, terutama dari Indonesia, UN juga melengkapi dirinya dengan fasilitas akomodasi dalam kampus (on campus housing) dan musholla bagi para mahasiswa Muslim yang sangat memadai, katanya.
Tuntut keberpihakan pemerintah
Agus mengatakan, dalam acara itu, Ketua KPTN KTI Prof. Dr.Lucky Sondakh kembali menegaskan perlunya Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sebagai perpanjangan tangan Pemerintah RI di bidang pendidikan untuk "menunjukan keberpihakan kepada PTN Kawas
an Timur Indonesia".
"Hal ini dimaksudkan untuk membantu PTN-PTN di Kawasan Timur Indonesia mengejar ketertinggalan dengan PTN-PTN Kawasan Barat Indonesia," katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif KPTN KTI Prof. Dr. Andi Lolo menyampaikan penghargaan atas kesediaan Adikbud KBRI Canberra yang khusus datang ke Denpasar untuk memberikan dukungan pada penandatangan MoU yang program utamanya mencakup pengembangan dan pertukaran staf pengajar, pertukaran mahasiswa serta kerja sama riset itu.
Agus mengatakan, Dr.Shannon Smith juga menyambut baik terlaksananya MoU ini karena dilihat dari efektivitasnya, kerja sama yang dapat melibatkan belasan universitas di Indonesia merupakan pendekatan yang sangat bagus.
Dalam pandangan Shannon Smith, saat ini adalah kesempatan yang baik untuk belajar di Australia. Ia juga menyambut baik program Depdiknas yang menyediakan 3.000 beasiswa bagi para dosen PTN dan perguruan tinggi swasta (PTS) dari seluruh Indonesia.
"Jika ada 500 orang (penerima beasiswa Depdiknas) saja yang melanjutkan studinya ke Australia, itu merupakan jumlah yang sangat besar. Perlu dicatat bahwa setiap tahun Pemerintah Australia menyediakan beasiswa sebanyak 200-300 orang," katanya seperti disampaikan Agus.
Adikbud Agus Sartono mengatakan, kehadirannya dalam acara penandatanganan MoU di kampus Unud itu merupakan bukti nyata dukungan penuh KBRI Canberra, dan diharapkan langkah yang telah diambil KPTN KTI juga diikuti oleh Forum Rektor Indonesia.
"Saya
berencana mempertemukan Forum Rektor Indonesia dengan Vice Chancellor Committee atau Universities Australia (mewakili 38 universitas di Australia-red.) pada 2008 ini," katanya.
"Semoga MoU yang ada bisa segera direalisasikan dan tidak menjadi dokumen statis tanpa tindak lanjut," katanya menambahkan.
Selain Unud dan Universitas Tadulako, universitas lain yang ikut dalam KPTN-KTI itu adalah Univeritas Hasanuddin (Makassar),Universitas Mulawarman (Samarinda), Universitas Haluoleo (Kendari), Univeritas Negeri Manado (Tondano), dan STSI Denpasar.
Seterusnya, Universitas Negeri Papua (Manokwari), IKIP Negeri Gorontalo, Universitas Pattimura (Ambon), Universitas Cendrawasih (Jayapura), Universitas Mataram, Universitas Lambung Mangkurat (Banjarmasin), Universitas Palangkaraya (Palangkaraya), Universitas Sam Ratulangi (Manado), dan Universitas Nusa Cendana (Kupang).

No comments:
Post a Comment