Tuesday, March 4, 2008

AUSTRALIA SAMBUT RESOLUSI BARU DK-PBB TENTANG IRAN

Australia menyambut baik Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1803 yang menegaskan kembali apa yang disebut keprihatinan serius komunitas internasional pada kegiatan nuklir Iran.

Menteri Luar Negeri Stephen Smith, dalam pernyataannya, Selasa, mengatakan, resolusi baru itu akan "memperkuat sanksi terhadap Iran".

"Pemerintah Australia mengimbau Iran untuk menghentikan semua kegiatan yang berhubungan dengan pengayaan dan reprosesing sesuai dengan isi resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB," kata Smith.

Dengan keluarnya Resolusi DK PBB Nomor 1803 itu, pemberlakuan larangan bepergian kepada semua orang yang terkait dengan kegiatan penyebaran nuklir Iran maupun sistim pengiriman senjata nuklir diperluas.

Resolusi ke-empat yang diambil DK PBB itu juga memperluas daftar barang yang masuk dalam larangan ekspor ke Iran, katanya.

"Australia akan menjalankan semua yang telah digariskan dalam resolusi itu ...," katanya.

Terkait dengan masalah resolusi DK PBB itu, Juru Bicara Kepresidenan RI Dino Patti Djalal di Jakarta, Selasa, mengatakan, Indonesia menilai Iran kooperatif dalam penelitian dan pengembangan nuklir yang dilakukan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

Karenanya, Indonesia bersikap "abstain" dalam pemungutan suara untuk resolusi atas sanksi tambahan bagi Iran di DK PBB hari Selasa dinihari WIB atau Senin siang waktu New York, Amerika Serikat.

Sikap abstain itu diambil Indonesia setelah melihat adanya kemajuan sikap Iran yang lebih kooperatif menyusul adanya resolusi PBB sebelumnya, kata Dino.

"Indonesia mengambil posisi untuk abstain dan merupakan satu-satunya dari 15 negara anggota DK PBB dalam voting tersebut yang abstain. Duta Besar Indonesia Marty Natalegawa telah menjelaskan perihal posisi Indonesia dalam pemungutan suara itu," katanya.

*) my news item for ANTARA on March 4, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity