Saturday, March 15, 2008

MULAI 2009, GURU AUSTRALIA DIIZINKAN IKUTI ELTF DI INDONESIA

Pemerintah Australia mungkin mulai mengizinkan para guru bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Australia untuk mengikuti program "Endeavour Language Teacher Fellowships" (ELTF) di Indonesia mulai 2009, kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra, Dr.R.Agus Sartono,MBA.

Kemungkinan mulai diizinkannya para guru Australia peserta program ELTF untuk mendalami kemampuan berbahasa Indonesia mereka di Indonesia itu didasarkan pada hasil pertemuannya dengan Atase Pendidikan Australia di Jakarta, Dr.Shannon Smith, Februari lalu, katanya dalam penjelasannya kepada ANTARA, Sabtu.

"Ketika itu, saya menyampaikan 'concern' (keprihatinan) tentang masih dilarangnya guru pengajar bahasa Indonesia yang memperoleh 'Endeavour Language Teaching Fellowship' untuk melakukan professional development (pengembangan profesional) di Indonesia," katanya.

Kondisi yang sama justru tidak dialami para guru bahasa asing lainnya karena mereka dibolehkan untuk mengikuti program pengembangan profesional ELTF mereka di negara asal bahasa. Para guru Australia yang mengajar bahasa Indonesia terkendala oleh pemberlakuan "travel advisory" (peringatan perjalanan), katanya.

"Atas masalah ini dijanjikan bahwa tahun 2009 para guru akan diijinkan untuk berkunjung ke Indonesia dan melakukan program serupa di Indonesia," kata Agus Sartono.

Pada Januari lalu, sedikitnya 26 orang guru bahasa Indonesia se-Australia terpaksa mengikuti program ELTF di Universitas Charles Darwin di Darwin, ibukota negara bagian Northern Territory (NT).

Agus Sartono mengatakan, program peningkatan kemampuan bahasa Indonesia bagi para guru Australia itu menjadi satu-satunya program ELTF yang tidak diselenggarakan di negara asal bahasa sebagai dampak negatif dari pemberlakuan "peringatan perjalanan" (travel advisory).

"Program bahasa Indonesia ini adalah satu-satunya yang masih dilakukan di dalam negeri Australia akibat Pemerintah Federal Australia masih memberlakukan 'travel advisory' (peringatan perjalanan) kepada Indonesia, sedangkan program bahasa-bahasa asing lainnya dilakukan 'in country' (di negara asal bahasa)," katanya.

"Saya berharap kebijakan ini bisa dievaluasi kembali karena pelaksanaan program semacam ini tanpa membolehkan guru-guru Australia ke Indonesia menjadi semacam 'disinsentif'," katanya.

Agus mengatakan, pihaknya hanya menuntut pemberlakuan "peringatan perjalanan" selektif untuk daerah tertentu saja dan bukan seluruh wilayah Indonesia karena hanya dengan begitu tindak lanjut kerja sama timbal balik bidang pendidikan dan kebudayaan kedua negara bisa berjalan lebih baik.

"Artinya dengan begitu kerja sama di bidang pendidikan, seperti pertukaran pelajar tidak terhambat karena faktanya 'travel advisory' ini memang menghambat," katanya.

Sebagai contoh, Anggoro Rini, guru SMP Negeri 5 Yogyakarta yang hadir dalam program ELTF di Darwin ini mengatakan kepada dirinya bahwa setidaknya sudah ada empat SLTA Australia yang bersedia membangun kerja sama "sister school" (sekolah kembar) dengan SMP Negeri 5 Yogyakarta, kata Agus.

"Nah ini kan perlu ada langkah konkrit Pemerintah Federal Australia untuk meninjau kembali 'travel advisory' untuk Indonesia karena hal itu merupakan hambatan terbesar selama ini," katanya.

Berbeda dengan program Bahasa Indonesia, para guru Australia penerima beasiswa ELTF Departemen Pendidikan, Ketenagakerjaan, dan Hubungan Tempat Kerja (DEEWR) yang mengikuti program Bahasa China, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Spanyol dan Arab justru menjalaninya di negara asal bahasa-bahasa itu.

*) My news for ANTARA on March 15, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity