Pemerintah Australia mungkin mulai mengizinkan para guru bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Australia untuk mengikuti program "Endeavour Language Teacher Fellowships" (ELTF) di Indonesia mulai 2009, kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra, Dr.R.Agus Sartono,MBA.Kemungkinan mulai diizinkannya para guru Australia peserta program ELTF untuk mendalami kemampuan berbahasa Indonesia mereka di Indonesia itu didasarkan pada hasil pertemuannya dengan Atase Pendidikan Australia di Jakarta, Dr.Shannon Smith, Februari lalu, katanya dalam penjelasannya kepada ANTARA, Sabtu.
"Ketika itu, saya menyampaikan 'concern' (keprihatinan) tentang masih dilarangnya guru pengajar bahasa Indonesia yang memperoleh 'Endeavour Language Teaching Fellowship' untuk melakukan professional development (pengembangan profesional) di Indonesia," katanya.
Kondisi yang sama justru tidak dialami para guru bahasa asing lainnya karena mereka dibolehkan untuk mengikuti program pengembangan profesional ELTF mereka di negara asal bahasa. Para guru Australia yang mengajar bahasa Indonesia terkendala oleh pemberlakuan "travel advisory" (peringatan perjalanan), katanya.
"Atas masalah ini dijanjikan bahwa tahun 2009 para guru akan diijinkan untuk berkunjung ke Indonesia dan melakukan program serupa di Indonesia," kata Agus Sartono.
Pada Januari lalu, sedikitnya 26 orang guru bahasa Indonesia se-Australia terpaksa mengikuti program ELTF di Universitas Charles Darwin di Darwin, ibukota negara bagian Northern Territory (NT).
Agus Sartono mengatakan, program peningkatan kemampuan bahasa Indonesia bagi para guru Australia itu menjadi satu-satunya program ELTF yang tidak diselenggarakan di negara asal bahasa sebagai dampak negatif dari pemberlakuan "peringatan perjalanan" (travel advisory).
"Program bahasa Indonesia ini adalah satu-satunya yang masih dilakukan di dalam negeri Australia akibat Pemerintah Federal Australia masih memberlakukan 'travel advisory' (peringatan perjalanan) kepada Indonesia, sedangkan program bahasa-bahasa asing lainnya dilakukan 'in country' (di negara asal bahasa)," katanya.
"Saya berharap kebijakan ini bisa dievaluasi kembali karena pelaksanaan program semacam ini tanpa me
mbolehkan guru-guru Australia ke Indonesia menjadi semacam 'disinsentif'," katanya.
Agus mengatakan, pihaknya hanya menuntut pemberlakuan "peringatan perjalanan" selektif untuk daerah tertentu saja dan bukan seluruh wilayah Indonesia karena hanya dengan begitu tindak lanjut kerja sama timbal balik bidang pendidikan dan kebudayaan kedua negara bisa berjalan lebih baik.
"Artinya dengan begitu kerja sama di bidang pendidikan, seperti pertukaran pelajar tidak terhambat karena faktanya 'travel advisory' ini memang menghambat," katanya.
Sebagai contoh, Anggoro Rini, guru SMP Negeri 5 Yogyakarta yang hadir dalam program ELTF di Darwin ini mengatakan kepada dirinya bahwa setidaknya sudah ada empat SLTA Australia yang bersedia membangun kerja sama "sister school" (sekolah kembar) dengan SMP Negeri 5 Yogyakarta, kata Agus.
"Nah ini kan perlu ada langkah konkrit Pemerintah Federal Australia untuk meninjau kembali 'travel advisory' untuk Indonesia karena hal itu merupakan hambatan terbesar selama ini," katanya.
Berbeda dengan program Bahasa Indonesia, para guru Australia penerima beasiswa ELTF Departemen Pendidikan, Ketenagakerjaan, dan Hubungan Tempat Kerja (DEEWR) yang mengikuti program Bahasa China, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Spanyol dan Arab justru menjalaninya di negara asal bahasa-bahasa itu.
*) My news for ANTARA on March 15, 2008

No comments:
Post a Comment