Thursday, February 21, 2008

KETIKA MINUMAN KERAS SUDAH RISAUKAN AUSTRALIA


Oleh Rahmad Nasution

Kebiasaan pesta minuman keras di Australia kini tidak saja merisaukan kalangan tertentu seperti para aktivis pusat rehabilitasi alkohol dan aparat kepolisian, melainkan juga Perdana Menteri Kevin Rudd.

Kegalauan PM Rudd pada apa yang disebutnya "epidemi pesta minuman keras di Australia" itu semakin nyata setelah ia bertemu para perwira polisi negara itu pekan ini (AAP 20/2).

"Saya mengkhawatirkan apa yang saya gambarkan sebagai epidemi pesta minuman keras di seluruh negeri. Ini tidak baik. Saya sudah mulai membahas apa saja yang mungkin dilakukan (untuk mengatasi masalah ini) dengan Menteri Kesehatan Nicola Roxon," katanya.

Kekhawatiran PM Rudd itu sangat beralasan mengingat masalah kekerasan yang disebabkan oleh minuman keras cenderung semakin membesar di Australia.

Bahkan, minuman keras, menurut AAP, merupakan penyumbang kedua terbesar setelah rokok bagi beban penyakit kronis di Australia dengan ongkos ekonomi yang harus ditanggung masyarakat sebesar 15 miliar dolar Australia per tahun.

Hasil survei Biro Pusat Statistik Australia (ABS) tahun 2004-2005 menunjukkan tren peningkatan konsumsi minuman keras beresiko tinggi.

Pola konsumsi minuman keras di Australia berdasarkan survei kesehatan tahun 2004-2005 itu menunjukkan, sebanyak 62 persen responden orang dewasa mengaku mengonsumsi minuman beralkohol seminggu sebelum mengikuti survei.

Sekitar satu dari setiap delapan orang responden dewasa masuk kategori pengonsumsi alkohol beresiko tinggi. Kategori ini mewakili 13 persen dari keseluruhan orang dewasa atau sekitar dua juta orang pada 2004-2005.

Proporsi warga berusia dewasa yang masuk kategori pengonsumsi alkohol beresiko tinggi itu terus naik dalam tiga kali survei kesehatan nasional dilakukan, yakni dari 8,2 persen tahun 1995 naik menjadi 10,8 persen tahun 2001, dan naik lagi menjadi 13,4 persen pada 2004-2005.

Ditilik dari umur dan jenis kelamin kelompok peminum beresiko tinggi di Australia itu, ABS menyebutkan bahwa 15 persennya adalah kaum pria dan 12 persennya wanita namun dari tiga kali survei kesehatan, tren kedua kelompok ini meningkat.

Proporsi konsumen wanita beresiko tinggi naik dari 6,2 persen menjadi 11,7 persen, sedangkan kaum pria naik dari 10,3 persen menjadi 15,2 persen.

Pola konsumsi pada apa yang disebut PM Rudd sebagai "binge drinking" (pesta minuman keras) yang diyakini banyak pihak sebagai faktor penyebab terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor dan aksi kekerasan itu tidak hanya merasuki orang-orang berumur 18 tahun ke atas tetapi juga mereka yang berusia 14 tahun-an.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dapat meningkatkan resiko terserang penyakit hati, strok, berbagai penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah, serta beberapa jenis kanker.

Selain itu, kebiasaan mengonsumsi minuman keras secara berlebihan itu juga bisa memicu terjadinya kematian akibat kecelakaan, tindak kekerasan dan bunuh diri.

Hasil studi Yayasan Pendidikan dan Rehabilitasi Alkohol (AER) Australia baru-baru ini semakin menegaskan berbagai dampak negatif minuman keras di negara itu.

Disebutkan kebiasaan mengonsumsi minuman keras itu telah pula menjadi sumber utama aksi kekerasan di rumah tangga serta kekerasaan seksual dan verbal terhadap anak di Australia.

Kondisi ini tercermin dari hasil studi AER Australia yang menanyakan pengalaman 1000 orang terkait dengan minuman keras pada saat perayaan Natal dan tahun baru.

Ketua AER, Daryl Smeaton, mengatakan, pada periode perayaan Natal dan tahun baru itu, sekitar 2,2 juta warga Australia berusia di atas 14 tahun mengalami pelecehan fisik maupun verbal dari para pemabuk.

Kebiasaan mengonsumsi minuman keras merupakan penyebab utama terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, pelecehan anak, serta pemicu 30 persen kematian dalam kecelakaan lalu lintas di Australia, katanya.

Untuk mengatasi masalah ini, ia mengimbau seluruh jenjang pemerintahan diharapkan bertindak, dan jam bisnis bar dan toko penjual minuman keras berizin dibatasi guna mengakhiri aksi pelanggaran yang dipicu oleh minuman keras.

Pemerintah Federal Australia telah melihat alkohol sebagai salah satu penyebab penyakit kronis (isu kesehatan) namun sepatutnya pula pemerintah mengakui bahwa alkohol juga merupakan masalah sosial di negara benua berpenduduk 21 juta jiwa ini, katanya.

Menurut Smeaton, langkah pertama yang perlu diambil adalah membatasi jam bisnis bar untuk menghindari para pemabuk berkumpul di jalan hingga larut malam.

Apa yang telah ditunjukkan oleh hasil survei kesehatan nasional tahun 2004-2005 bahwa di antara para pengonsumsi minuman keras itu adalah anak-anak berusia 14 tahun juga diakui AER Australia.

Yayasan ini mencatat bahwa separuh pria dan sepertiga wanita Australia mengonsumsi minuman keras pada tingkat yang berisiko. Di antara mereka itu ada yang baru berusia antara 14 dan 17 tahun.

AER Australia juga mencatat, sekitar 20 persen anak laki-laki dan 25 persen anak perempuan di Australia mengonsumsi alkohol sekali sebulan pada level yang merusak kesehatan mereka.

Setidaknya dua juta warga Australia bermasalah dengan minuman keras, dan kondisi ini sudah semakin membuka mata pemerintah untuk menangani masalah yang telah merisaukan banyak pihak di negara itu. Bagaimana dengan Indonesia?

*) my news article for ANTARA on Feb 21, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity