Australia harus mengeluarkan 400 juta dolar jika pemerintahan Perdana Menteri Kevin Rudd membatalkan proyek pengadaan pesawat tempur "F/A-18 Super Hornet" yang telah disepakati pemerintah sebelumnya dengan Amerika Serikat (AS). Perkiraan dana yang harus dikeluarkan pemerintah federal
Ia mengatakan, dana pembatalan yang harus disiapkan itu sesuai dengan nilai kontrak yang sejauh ini ada. Biaya itu akan terus membesar karena semakin lama
Perihal dana pembatalan itu mengemuka setelah 18 Februari lalu Menteri Pertahanan Joel Fitzgibbon mengumumkan struktur dan rincian peninjaun kembali pemerintahan Partai Buruh atas kepatutan rencana kemampuan tempur udara
Peninjauan kembali itu akan membantu pemerintah menilai rencana yang ada sekarang dan menyampaikan pertimbangan tentang kemampuan tempur udara
Menurut Menh
an Fitzgibbon, peninjauan kembali itu akan dilakukan dalam dua tahap.
Pada tahap pertama, dilakukan penilaian terhadap persyaratan kemampuan tempur udara Australia antara tahun 2010 dan 2015, dan kelayakan mempertahankan pesawat tempur F-111 hingga setelah 2010.
Seterusnya dilakukan pula analisa perbandingan pesawat tempur yang ada untuk mengisi ketimpangan yang terjadi akibat penarikan F-111, serta penilaian terhadap status rencana mendapatkan F/A-18 Super Hornet.
Pada tahap kedua, peninjauan kembali itu akan mempertimbangkan tren kekuatan udara di kawasan Asia Pasifik hingga tahun 2045, dan kemampuan relatif pesawat tempur generasi sekarang maupun generasi ke-empat dan kelima seperti "Joint-Strike Fighter".
Dalam peninjauan kembali tahan dua itu, tim peninjau juga akan mengkaji F-22 dengan tetap mempertimbangkan masalah industri yang relevan dengan perkembangan kemampuan tempur udara
Isu pengadaan FA-18 Super Hornet yang telah disepakati pemerintahan PM John Howard dengan AS itu tidak terlepas dari rencana Angkatan Bersenjata Australia (ADF) mengisi ketimpangan saat pesawat-pesawat F-111 dan "Joint Strike Fighter" dipensiunkan pada 2014.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Udara
Ia mengatakan, Super Hornet itu memiliki kemampuan yang "sangat baik" dan sejauh ini tidak ada bandingannya yang lebih baik di kawasan Asia Pasifik.
Isu penarikan
pesawat tempur F-111 pada 2010 untuk digantikan dengan pesawat tempur super canggih F/A-18 F-Super Hornet yang selama ini dimiliki Angkatan Laut AS semakin bergulir kencang sejak 3 Mei 2007.
Saat itu, ADF menyebutkan, pihaknya telah melakukan kontrak pertama akuisisi 24 unit F/A-18 F Super Hornet dan sistem pendukungnya senilai 2,9 miliar dolar Australia dengan Angkatan Laut AS.
Berbagai masalah lainnya, termasuk akuisisi senjata, direncanakan selesai 2007, sedangkan pelatihan bagi para personil militer Australia di AS dimulai pada 2009 atau setahun sebelum penarikan F-111.
Menurut Departemen Pertahanan
Pesawat tempur buatan Boeing dan pertama kali terbang pada 29 November 1995 ini dinilai berkemampuan tinggi, terbukti dalam operasi tempur, dan memiliki multi peran.
Angkatan laut AS menggunakan jenis Super Hornet yang memiliki seri E dan F ini hingga tahun 2030.
Sebanyak 24 pesawat Super Hornet
Situs "Airforce-Technology.Com" menyebutkan, ukuran pesawat tempur Super Hornet lebih besar 25 persen dari pendahulunya, F/A-18C/D, namun mengandung bagian-bagian struktur 42 persen lebih sedikit dari pendahulunya itu.
Pesawat tempur canggih ini memiliki 11 stasiun senjata dan dapat dilengkapi dengan persenjataan, seperti misil dari udara ke udara AIM-9 Sidewinder, AIM-7 Sparrow dan AIM-120 AMRAAM.
*) my news item that ANTARA published on Feb 20, 2008.

No comments:
Post a Comment