Oleh Rahmad Nasution Momen yang ditunggu-tunggu itu tiada lain adalah datangnya pengakuan diplomatik internasional atas kemerdekaan wilayah di sebelah tenggara Eropa yang berpenduduk mayoritas etnis
Setelah Presiden Amerika Serikat (AS), George W.Bush, menunjukkan dukungannya pada kemerdekaan Kosovo dalam sebuah wawancara dengan Stasiun Televisi NBC dari Arusha, Tanzania, awal pekan ini, Australia pun memberikan pengakuan resmi.
Sebagai "kekuatan menengah" dalam percaturan politik global,
Beberapa negara lain yang telah mengakui deklarasi kemerdekaan wilayah yang didera konflik berdarah di akhir tahun 1990-an itu adalah AS,
Sehari sebelum Menteri Luar Negeri Australia, Stephen Smith, mengumumkan dukungan resmi dan kesiapan membangun hubungan diplomatik dengan Pristina, Perdana Menteri Kevin Rudd hari Senin (18/2) sudah pun mengindikasikan sikap Canberra itu.
PM Rudd menyebut deklarasi kemerdekaan sepihak yang ditentang keras
Bahkan ia menegaskan janji pemerintahnya untuk memberikan pengakuan diplomatik pada kesempatan pertama.
Argumentasi utama
Bagi PM Rudd, sejarah Kosovo yang kelabu itu mendorong
"Ini adalah langkah aksi yang tepat. Karenanya secara diplomatik, kami akan memberikan pengakuan pada kesempatan pertama," katanya.
Di beberapa
Presiden Perhimpunan Kesejahteraan Serbia Ortodoks (SOWA) New South Wales, Marko Marinkovich, seperti dikutip ABC, tegas menolak deklarasi kemerdekaan Kosovo dan bertekad mencari cara untuk menyalurkan aspirasi penolakan mereka itu.
Sebaliknya, warga masyarakat keturunan
Dalam pernyataannya itu, Menlu Smith menggarisbawahi sikap
"Sejumlah negara lain juga diharapkan segera memberikan dukungan yang sama," katanya.
Sejarah kelabu rakyat Kosovo dan terjalnya jalan menuju perdamaian sejak pecah konflik berdarah di akhir tahun 1990-an menjadi alasan
Kerja keras PBB dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sejak 1999 untuk membantu rakyat Kosovo membangun kembali kehidupannya maupun berdirinya lembaga-lembaga mandiri di sana juga menjadi pendorong Canberra untuk segera bersikap.
Dalam pandangan Australia, tentu banyak pekerjaan rumah yang masih harus dirampungkan komunitas internasional, khususnya PBB dan Uni Eropa, untuk memastikan langgengnya upaya membangun masa depan perdamaian di Kosovo dan di kawasan Eropa pada umumnya.
Namun, terlepas dari pekerjaan rumah yang masih menyisa itu, apa yang diinginkan
Kedua hal ini dipandang
Selain itu, jurang perbedaan politik yang masih menganga antara Kosovo dan
Pemerin
tah
Kritik karena abaikan PBB
Dukungan politik yang diberikan
Menlu Smith dalam satu kesempatan pernah menegaskan tekad
Pilar pertama adalah aliansi
Menanggapi keputusan
Langkah Canberra itu juga bisa saja mendorong negara-negara yang menentang deklarasi kemerdekaan Kosovo, seperti Rusia, China, Rumania, dan Spanyol karena khawatir masalah Kosovo akan menjadi preseden dalam tatanan global untuk "menepikan" Australia.
Keputusan Canberra itu tampaknya juga didorong oleh nilai dasar "fair go" yang menjadi pedoman pemerintahan Partai Buruh pimpinan PM Rudd dalam membangun hubungan domestik dan luar negerinya.
Nilai dasar "fair go" ini bertumpu pada "sivilitas", "rasa menghargai" dan "harga diri".Dalam konteks ini, seperti pernah dikatakan Menlu Smith dalam satu acara di Canberra, Desember 2007 lalu, Australia akan mengulurkan tangan kepada "mereka yang kurang beruntung dan siap sedia untuk mereka".
Akankah dukungan diplomatik Australia dan negara-negara sekutunya itu benar-benar akan mengakhiri "status Kosovo" dan, seperti yang diyakini Presiden AS, George W.Bush, akan menghapus hak moral Serbia untuk terus menguasai rakyat Kosovo yang telah banyak menderita di masa pemerintahan Slobodan Milosevic?
Ditilik dari sikap Presiden Serbia, Boris Tadic, yang keras dengan janji tidak pernah mengakui kemerdekaan Kosovo, langkahnya menarik duta besarnya dari AS, serta penolakan dua negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (Rusia dan China), maka solusi paripurna atas masalah Kosovo masih jauh dari rampung.
Dalam hal ini, kehati-hatian
Mengapa? Berbeda dengan
Kondisi riil itu tiada lain adalah adanya gerakan separatis yang masih mengancam keutuhan Negara Kesatuan RI, khususnya di Papua Barat yang kaya akan sumberdaya alam.
Pengalaman sejarah bangsa Indonesia yang tidak pernah sepi dari ancaman separatisme, kehilangan Timor Timur tahun 1999, dan statusnya sebagai anggota tidak tetap DK PBB boleh jadi merupakan faktor pendorong di balik kehati-hatian Jakarta.
Cara yang paling aman bagi

No comments:
Post a Comment