Thursday, February 28, 2008

INDONESIA TARGETKAN PENGIRIMAN 500 TKI KE AUSTRALIA

Indonesia menargetkan pengiriman 500 orang tenaga kerja terampil dan setengah terampil ke Australia tahun ini untuk bekeja di bidang konstruksi, pertambangan, keperawatan, pendidikan, dan perkebunan buah.

Target pengiriman 500 orang pekerja itu diungkapkan Minister Counsellor/Ekonomi KJRI Melbourne, Jahar Gultom, kepada ANTARA, Kamis.

Informasi tersebut merupakan hasil kunjungan kerja delegasi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2 TKI) ke Melbourne baru-baru ini.

Delegasi PNP2 TKI beranggotakan delapan orang itu telah bertemu dengan berbagai pihak terkait di negara bagian Victoria untuk menjajaki peluang pengiriman TKI terampil dan setengah terampil yang bisa bekerja di bidang pemetikan buah, konstruksi, keperawatan, pertambangan, dan pendidikan yaitu sebagai guru Bahasa Indonesia.

Para anggota delegasi PNP2 TKI itu terdiri atas Deputi Kerja Sama dan Promosi Luar Negeri Ramli Saud, Deputi Bidang Penempatan Ade Adam Noch, dua orang direktur bidang kerja sama luar negeri kawasan Asia Pasifik dan Amerika, serta empat orang staf.

Gultom yang mendampingi mereka selama kunjungan lebih lanjut mengatakan, para anggota delegasi sudah mendapatkan gambaran tentang aturan keimigrasian Australia bagi para tenaga kerja asing dari pertemuan mereka dengan pengacara imigrasi setempat.

"Terjadi diskusi yang produktif antara para anggota delegasi dengan para wakil lembaga-lembaga terkait di Melbourne. Mereka pun sudah mendapat gambaran tentang syarat kemampuan berbahasa Inggris setiap calon tenaga kerja asing," katanya.

Bagi pekerja setengah terampil, pemerintah Australia mematok skor IELTS (International English Language Testing System) sebesar 4,5, sedangkan bagi calon pekerja terampil seperti perawat, skor IELTSnya harus 7,0, katanya.

IELTS adalah alat ukur kemampuan berbahasa Inggris bagi para penutur asing yang sering digunakan oleh lembaga pemerintah dan non pemerintah di Australia untuk merekrut para pekerja maupun mahasiswa mancanegara dari negara-negara non-berbahasa Inggris.

"Prasyarat bahasa Inggris bagi perawat ini sangat tinggi tapi prasyarat ini harus dipenuhi," kata Gultom.

Para delegasi PNP2 TKI itu juga berkesempatan bertemu dan berdialog dengan 22 orang wakil agensi perekrutan tenaga kerja asing dan wakil sektor usaha sebagai pengguna, katanya.

Para wakil pengguna tenaga kerja asing itu berasal dari perusahaan konstruksi, teknologi informasi, pertambangan, dewan perawat negara bagian Victoria, perdagangan, pertanian, dan pendidikan.

Mereka pun bertemu dengan wakil Fakultas Ilmu-Ilmu Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Universitas Monash untuk membicarakan masalah kerja sama pendidikan dan pelatihan bagi tenaga perawat Indonesia sehingga mereka dapat memenuhi standardisasi rumah sakit-rumah sakit di Australia, kata Gultom.

"Hasil pembicaraan kedua pihak cukup bagus. Dalam waktu dekat pihak Monash akan mengirim proposal resmi tentang bentuk kerja sama yang paling mungkin untuk disampaikan ke PNP2 TKI melalui KJRI Melbourne," katanya.

Gultom mengatakan, peluang kerja di bidang kesehatan dan keperawatan sangat besar di negara bagian Victoria selama persyaratan yang berlaku dapat dipenuhi.

Delegasi PNP2 TKI yang tiba di Melbourne pada 21 Februari itu mengakhiri kunjungannya pada 24 Februari. Sedikitnya empat orang anggota delegasi melanjutkan kunjungan kerja mereka ke Selandia Baru dalam misi yang sama, katanya menambahkan.

*) disiarkan ANTARA pada 28 Feb 2008


2 comments:

Anonymous said...

alloo Pa Rahmad, salam kenal. Nama saya Mamat, saya tertarik sekali untuk dapet kerja di luar, salahsatunya di australia. background saya IT/Programmer, tapi saya mau kerja apa saja seperti perkebunan, pemetik buah atau yang laennya (kecuali perawat kali yah) yang penting fee-nya bagus. bagaimana caranya yah???. MOHON PENCERAHANNYA!!!!

Anonymous said...

Aloo lagi Pak Rahmad, ini email saya mmthdyt@gawab.com, mamat.hidayat@gmail.com

Terima kasih banyak sebelumnya...

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity