Wednesday, February 20, 2008

AUSTRALIA SAATNYA SIAPKAN CALON PEMIMPIN YANG PAHAM INDONESIA

Pemerintah Australia sudah saatnya menunjukkan komitmennya untuk mencetak dan menyiapkan para calon pemimpin masa depan yang paham tentang Indonesia, kata seorang pejabat KBRI Canberra.

Harapan itu mengemuka dalam pertemuan Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb dengan Wakil Perdana Menteri yang juga Menteri Pendidikan Australia, Julia Gillard, Kamis, kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI Dr.R.Agus Sartono,MBA.

Menurut Agus Sartono yang mendampingi Dubes Hamzah Thayeb selama pertemuan setengah jam di Parliament House Suite Canberra itu, kehadiran para calon pemimpin Australia yang memahami baik Indonesia akan berdampak positif bagi hubungan kedua negara di masa depan.

"Di pundak merekalah keberlanjutan hubungan bilateral tertumpu. Jika kita terlambat menyiapkannya maka sangat mahal harga yang harus dibayar. Langkah ini sekaligus untuk menghilangkan cara pandang negatif terhadap bangsa Indonesia," katanya.

Agus mengatakan, Dubes Hamzah Thayeb menekankan nilai strategis hubungan di tingkat masyarakat kedua negara (people-to-people) untuk mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Australia karena hanya dengan cara demikian kesalahpahaman dan persepsi yang keliru di antara kedua publik dapat dikikis.

Dalam hal ini, kerja sama bidang pendidikan, pertukaran pelajar dan mahasiswa yang sudah berlangsung selama ini sangat penting untuk ditingkatkan, katanya.

"Secara spesifik Duta Besar RI menyampaikan bahwa pada saat ini terdapat lebih dari 16.800 pelajar/mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Australia."
"Dari jumlah itu, hanya kurang dari seribu mahasiswa yang mendapat beasiswa dari Pemerintah Australia. Jadi secara ekonomis keberadaan pelajar/mahasiswa Indonesia setiap tahun memberikan kontribusi yang substantial kepada Australia," katanya.

Untuk itu, akan lebih baik kalau sebagian dari kontribusi ekonomi para mahasiswa Indonesia itu dikembalikan dalam bentuk beasiswa bagi pelajar/mahasiswa Australia agar dapat belajar di Indonesia, katanya.

"Pada saat yang sama (Pemerintah Australia) juga meningkatkan ketersediaan beasiswa bagi pelajar/mahasiswa Indonesia untuk belajar di Australia," kata Agus Sartono mengutip pandangan Dubes Thayeb.

Melalui penyediaan beasiswa tersebut, upaya Australia mencetak Indonesianis muda yang keberadaannya sangat diperlukan untuk membangun hubungan bilateral di masa depan akan terwujud.

"Seperti kita ketahui, Indonesianis generasi pertama kini telah memasuki usia pada kisaran 55-60 tahun sehingga sangat strategis mengembangkan para Indonesianis muda yang potensial untuk menjaga keberlangsungan hubungan bilateral yang sudah bagus," katanya.

Menanggapi pandangan dan argumentasi Dubes Thayeb ini, Wakil PM Julia Gillard sependapat bahwa hubungan bilateral yang sudah baik ini perlu terus dijaga dan ditingkatkan, katanya.

Julia Gillard yang didampingi penasehatnya di bidang pendidikan, Rondah Rietveld, juga sependapat bahwa keberadaan Indonesianis sangat strategis dalam membantu membangun hubungan bilateral yang semakin kokoh, katanya.

Dalam kapasitasnya sebagai menteri pendidikan, Julia Gillard juga mendukung adanya nota kesepahaman (MoU) di bidang pendidikan dengan Indonesia, kata Agus Sartono.

"MoU antara Mendiknas RI dengan Menteri Pendidikan Australia ini pun sudah siap untuk ditandatangani. Jadi tinggal menentukan waktu/tanggal yang tepat untuk dilaksanakan di Canberra," katanya.

Selain itu, kelompok kerja bersama kedua negara segera dapat diaktifkan untuk mempersiapkan agenda pertemuan Australia-Indonesia Ministerial Forum (AIMF) bulan Juni 2008 di Canberra, khususnya bidang pendidikan, katanya.

"Apabila memungkinkan penandatanganan MoU dilaksanakan pada minggu ketiga Maret 2008," katanya menambahkan.

*) my news for ANTARA on Feb 21, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity