Saturday, February 23, 2008

AUSTRALIA LEBIH "ISLAMI" DARIPADA INDONESIA

Australia yang merupakan tetangga "putih" Indonesia di selatan jauh lebih Islami dan berhasil menerapkan nilai-nilai Islam dalam sistim kehidupan mereka daripada Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim di dunia karena keadilan, kebersihan, kemakmuran dan kedamaian ada di negara benua itu.

"Dalam konteks sistem, Australia tampak sekali Islaminya. Artinya Islam secara fungsional terjadi di negara yang berpenduduk mayoritas bukan Muslim ini, sedangkan di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, nilai-nilai Islami justru tidak tampak," kata Intelektual Muslim Indonesia, Dr.Eggi Sudjana,SH, MSi.

Otokritik terhadap Indonesia itu disampaikan Eggi kepada ANTARA seusai berceramah tentang "Islam Fungsional" di depan puluhan anggota jemaah pengajian bulanan Perhimpunan Masyarakat Muslim Indonesia di Brisbane (IISB).

Intelektual yang juga pelopor perjuangan buruh Muslim, politisi, peneliti, dan pengacara itu mengatakan, Australia berhasil mengfungsionalisasikan nilai-nilai Islami ke dalam sistem kehidupannya adalah satu kenyataan sehingga para penganggur sekalipun diberikan jaminan sosial di Australia.

Di Indonesia, kehidupan sebagian besar rakyatnya justru susah, angka pengangguran dan kriminalitas tinggi, pendidikan bermutu belum berpihak kepada rakyat kecil, dan bahkan penerapan upah minimum regional bagi para buruh pun berbeda-beda di setiap daerah padahal harga minyak sama dimana-mana, katanya.

Kondisi demikian justru tidak terjadi di Australia. Dalam kondisi kehidupan yang semakin berat di Indonesia itu, aksi perampokan dan pencurian semakin tampak biasa di negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia itu, katanya.

Kondisi demikian, menurut mantan ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta (1984-1985) dan Ketua Umum HMI MPO (1986-1988) itu, tidak dapat dilepaskan dari tanggungjawab pemerintah.

Aktivis yang pernah mencalonkan diri menjadi ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan duduk sebagai anggota Dewan Pakar DPP PPP itu pun secara panjang lebar mengupas perihal tanggungjawab besar pemerintah yang berkuasa terhadap kondisi yang ada dalam ceramahnya di forum pengajian bulanan IISB.


Warga miskin justru bertambah
Eggi mengatakan, pemerintahan sekarang ini juga belum mampu mengubah kondisi ini menjadi lebih baik. Bahkan jumlah warga miskin justru meningkat di era pemerintahan saat ini.

"Jika di masa pemerintahan Ibu Megawati Soekarnoputri, jumlah orang miskin tercatat 37 juta orang, jumlah itu telah naik menjadi 47 juta orang di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono," kata Eggi.

Selain meningkatnya jumlah warga miskin, Indonesia hingga saat ini pun belum mampu melepaskan diri dari kebiasaan buruk mengimpor kacang kedele yang menjadi kebutuhan pokok bagi pengusaha tempe dan tahu maupun beras yang menjadi makanan pokok rakyat, katanya.

Sejak kemerdekaannya, para tokoh kunci bangsa Indonesia, seperti presiden, wakil presiden, ketua DPR-RI, ketua MPR-RI, maupun lembaga-lembaga penting kenegaraan lainnya, beragama Islam namun Islam tetap saja "disfungsi" di negara ini karena agama samawi ini disalahpahami maknanya hanya sebatas "golongan", katanya.

"Padahal, Islam itu bukanlah golongan melainkan Islam itu adalah tata nilai mulai dari kejujuran, keikhlasan, kesetaraan, kesejahteraan dan keselamatan bagi siapa saja. Hari ini, kita yang Islam justru berkelompok-kelompok," katanya.


Salah memaknai Islam
Eggi mengatakan, kesalahpahaman tentang makna Islam itu harus dikikis dari dalam diri setiap Muslim Indonesia dengan mengembangkan rasa saling percaya dan berprasangka baik di antara mereka serta mulai memfungsikan Islam sesuai dengan kapasitas dan otoritas masing-masing.

Seorang pembantu rumah tangga yang diserahi amanah untuk menjaga rumah dan harta majikan misalnya. Jika dia memfungsionalisasikan nilai-nilai Islami ke dalam kehidupannya, seperti bersikap amanah dan berlaku adil, tidak akan pernah majikannya ragu setiap kali hendak meninggalkan rumah karena ia yakin hartanya akan terjaga dengan baik karena pembantu rumah tangganya adalah orang yang amanah, katanya.

Jika seorang pembantu rumah tangga yang dengan otoritas dan kapasitasnya yang sangat terbatas saja mampu menerapkan nilai-nilai Islami ke dalam kehidupannya, betapa dahsyatnya jika presiden dan perangkat kenegaraan lain yang memiliki kekuasaan besar mampu memfungsionalisasikan nilai-nilai Islami itu, katanya.

Hanya, sudah 62 kali Ramadhan (bulan puasa) melewati kehidupan bangsa Indonesia sejak Soekarno dan M.Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, namun Islam masih mengalami disfungsi di Tanah Air, katanya.

Umat Islam Indonesia sudah saatnya menyamakan visi dan misi mereka di tengah keberagaman keyakinan politik mereka untuk mendorong berfungsinya nilai-nilai Islam dalam sistim kehidupan di Indonesia. "Visi itu adalah 'ridho Allah' dan misi 'amar ma'ruf nahi munkar' (mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan)," katanya.

Eggi Sudjana berada di Australia sejak dua minggu lalu untuk memasyarakatkan ide "Islam fungsional" melalui kegiatan dakwah dan pelatihan di Sydney, Brisbane, dan Melbourne. Penulis buku "Islam Fungsional Paradigma Baru PPP" (2006) itu akan bertolak ke Melbourne pada 14 Maret 2008.

Acara pengajian bulanan IISB yang berlangsung di salah satu ruang kuliah Universitas Queensland (UQ) itu juga diisi dengan penampilan kelompok musisi pemuda Muslim Indonesia dan pemilihan pengurus baru IISB.

*) my news item for ANTARA on Feb 23, 2008

1 comment:

Anonymous said...

Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuhu

mohon maaf sebelumnya saya sekedar ingin bertanya mengenai konsep baitul mal yang dulu diadakan semasa kekhalifahan masih berlaku, saya kebetulan salah satu pengikut Muhammad yang baru meyakini Islam sebagai agama n Muhammad sebagai RasulNya serta Alloh sebagai pemilik semesta alam, sekarang saya sangat membutuhkan bantuan modal sekedar untuk memulai usaha baik usaha dalam bidang saya sendiri yaitu Computer atau usaha apapun bentuknya yang penting saya bisa menafkahi istri dan satu orang anak yatim piatu yang kami bawa sekarang, sementara saya tidak memiliki apa - apa lagi tempat tinggalpun sementara ini ditampung di salah satu bekas kontrakan yang mungkin belum memenuhi syarat kelayakan,tapi dikarenakan tidak adanya alternatif lain akhirnya kami terima juga. sayangnya untuk kebutuhan hidup sehari - hari kami belum ada asbabnya (belum ada pekerjaa)yang pasti. mohon infonya apabila ada solusi dalam bentuk apapun terimakasih sebelumnya.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity