Saturday, December 29, 2007

SEPENGGAL BAHAGIA DI TENGAH LARA PENGUNGSI MALUT DI BITUNG


Oleh Rahmad Nasution

Kamp pengungsi tidak selalu melahirkan cerita-cerita sedih. Di sela penderitaan penghuninya, terselip juga sepenggal kisah bahagia.

Siapa yang menyangka jika kamp yang lusuh dengan deretan barak reot yang tak jarang dihuni puluhan keluarga itu, justru menautkan hati banyak pasangan muda hingga menghantarkan mereka ke pintu rumah tangga.

Sepenggal kisah bahagia itu pulalah yang sempat menyinggahi kamp pengungsi korban konflik Maluku Utara (Malut) yang mendiami puluhan barak yang dibangun di dalam dan samping bekas gudang pabrik rotan PT Mega Belia, Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), tahun lalu.

Tepat di Hari Valentine, 14 Februari 2001, di saat banyak remaja dan pemuda di berbagai belahan dunia merayakan "Hari Kasih Sayang" itu, sebanyak 68 pasangan pengungsi dinikahkan secara massal oleh seorang pendeta setempat.

Pernikahan massal yang berlangsung di lokasi penampungan itu disponsori oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bekerjasama dengan gereja setempat.

"Banyak pemuda kita menemukan jodohnya di kamp ini. Di antara pasangan yang dinikahkan secara massal tahun lalu itu, tidak sedikit yang merupakan produk 'cinta lokasi'," kata Sekretaris Posko Induk Kamp PT Mega Belia, John Lakesjanan.

Umumnya kepala keluarga, termasuk pasangan muda, di kamp yang pernah menampung sekitar 6.000 orang pengungsi asal Jailolo, Sabu, Loloda, Ibu, Bacan, Gani Timur, Obi, Ternate, dan Oba Utara itu, memiliki pekerjaan.

Mereka bekerja apa saja asal "halal" guna memenuhi kebutuhan anak-istrinya di barak-barak penampungan yang berdiri sejak November 1999 itu, kata John kepada penulis dan beberapa wartawan lain saat mengunjungi kamp PT Mega Belia yang dapat ditempuh sekitar satu setengah jam dengan mobil dari Manado, 14 Oktober lalu.

Begitulah denyut kehidupan dan optimisme para penghuni kamp yang tinggal di bilik-bilik dari tripleks bekas itu tetap terjaga kendati mereka adalah korban konflik yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sore itu, belasan anak secara berkelompok tampak riang bermain sepakbola dan petak-umpet di halaman kamp. Ada juga di antara mereka yang sekadar duduk-duduk di pelataran bekas gudang pabrik rotan itu sambil menyaksikan kendaraan lalu lalang di jalan raya depan kamp. Sementara, beberapa orang ibu dan pemuda mengamati anak-anak itu bermain.

Di antara pemuda yang sejak awal mengamati kedatangan rombongan wartawan peserta pelatihan jurnalisme damai yang diselenggarakan The British Council selama lima hari di Sulut itu adalah Rinto Barito (23).

Pemuda berambut keriting dan berkulit sawo matang asal Ternate yang mengaku rajin mengikuti kegiatan kepemudaan dan olahraga selama di kamp pengungsian itu bercerita banyak tentang kampung halaman dan kegemarannya "bermain" Internet.

Tanpa diminta, anak seorang guru SD yang mengungsi bersama ayah, ibu dan dua saudaranya itu kemudian menyodorkan alamat email-nya: ambon19@hotmail.com.

"Ketika di Ternate dulu, saya suka main Internet. Ya, paling tidak, sekadar kirim-kiriman email (surat elektronis) dengan teman-teman."

"Tapi, sekarang ini, saya harus menekan hobi itu. Soalnya, kebanyakan warung Internet hanya ada di Manado. Ongkos ke sana mahal." katanya polos sambil tak lupa meminta alamat email penulis.

Pulang dan menetap

Sungguh, beragam cerita mengalir bak air di kamp yang kini dihuni 721 keluarga pengungsi (2.972 jiwa) ini. Duka dan kekecewaan seolah bukan lagi cerita baru bagi mereka.

Sejak beberapa bulan terakhir ini, menurut pengakuan beberapa pengungsi, bantuan bahan kebutuhan pokok dari pemerintah sudah berhenti.

Duka dan kekecewaan itu tidak hanya disebabkan oleh kurang profesionalnya pemerintah dalam menangani persoalan pengungsi dan minimnya perhatian pejabat Pemda Malut terhadap mereka, tetapi juga akibat prilaku sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang hanya memanfaatkan keberadaan pengungsi buat kepentingan mereka sendiri.

"Kami kecewa dengan sejumlah LSM yang hanya memanfaatkan kami. Mereka meminta data tentang pengungsi ke sini, namun mereka mengingkari janji mereka sendiri. Setelah mendapat data, mereka tidak pernah kembali lagi ke sini," kata Sekretaris Posko Induk Kamp PT Mega Belia, John Lakesjanan.

Dua di antara LSM yang pernah datang untuk meminta data pengungsi namun tidak pernah lagi muncul itu adalah "Crisis Center Ambon" dan "Blessing Love Foundation" Jakarta, katanya.

Namun tidak semua seperti mereka karena LSM seperti "Medicins Sans Frontieres" dan "International Medical Corps" (IMC) benar-benar membantu pengungsi di sini. IMC, misalnya, membuka Posko kesehatan gratis buat keluarga pengungsi, kata John.

Menyangkut masalah repatriasi pengungsi ke tempat asal yang ditargetkan pemerintah "rampung" hingga akhir 2002, ia mengatakan, banyak keluarga pengungsi kamp PT Mega Belia yang menyambut program itu.

Sayangnya, program tersebut diproyekkan, dan perlakuan terhadap keluarga pengungsi yang dipulangkan, khususnya menyangkut tunjangan yang sudah menjadi hak setiap pengungsi, pun berbeda-beda.

Sebagai contoh, para pengungsi Malut yang dipulangkan pada tahap pertama ke daerah asalnya di Oba Utara masing-masing mendapat uang saku Rp120 ribu, lima kilogram beras, dua kaleng susu kental manis, dua kaleng ikan, tiga bungkus mie instant, dan tiga kilogram gula pasir.

Bagi mereka yang dipulangkan pada tahap kedua ke daerah asalnya di Oba Utara, setiap orang mendapatkan 35 kilogram beras, tiga kaleng susu kental manis, tiga kaleng ikan, tiga kilogram gula dan tiga bungkus mie instant.

Perbedaan perlakuan itu juga terjadi bagi para pengungsi asal Obi, Bacan, Gani Timur, dan wilayah Jasilo (Jailolo, Sabu, Ibu dan Loloda), kata John.

"Alasan terjadinya perbedaan itu (menurut pejabat pemerintah yang berwenang-red.) adalah ketiadaan dana. Tapi, akibat perlakuan yang berbeda-beda itu, sering terjadi ketegangan antarpengungsi," katanya.

Bahkan, menurut John, tidak sedikit dari pengungsi yang sudah pulang bercerita bahwa, selama di perjalanan, mereka hanya diberi sekali makan dengan nasi bungkus tanpa ikan (lauk pauk).

Seperti dijumpai di beberapa tempat pengungsian lain di Sulut, seperti kamp Kitawaya, tidak semua pengungsi yang menempati barak-barak penampungan di kamp PT Mega Belia ini mau mengikuti program repatriasi pemerintah.

Jonatan Tuasela, ayah tiga anak asal Ternate yang mengungsi bersama istrinya ke kamp yang masuk wilayah kelurahan Wanggurer, Bitung sejak sekitar dua tahun lalu itu masih menyangsikan masalah keamanan di ibukota Malut itu.

Menanggapi masalah ini, John Lakesjanan mengatakan, keputusan akhir berada di tangan pengungsi itu sendiri. Bagi mereka yang ingin menetap di Sulut, mereka bisa memilih program relokasi dan pola sisipan (berbaur dengan warga masyarakat di kelurahan-kelurahan di sekitar Bitung).

"Bagi pengungsi asal Maluku Utara yang memilih repatriasi, mereka dipulangkan pada 17 dan 23 Oktober 2002, sedangkan pengungsi asal Ambon dan Tual akan dipulangkan sekitar November 2002," katanya.

Pengungsi yang akan dipulangkan itu berjumlah 101 keluarga (438 jiwa), sedangkan yang mengikuti program relokasi mencapai 373 keluarga (1.504 jiwa) dan yang mengikuti pola sisipan mencapai 247 keluarga (1.030 jiwa), kata John.

Terlepas dari pilihan masing-masing keluarga pengungsi itu, bagi Suster Orpha Sakka, relawan yang sejak November 1999 menangani para pengungsi asal Malut di Bitung, pengungsi harus diperlakukan sebagai manusia dengan segala hak asasinya.

"Perlakuan tersebut setidaknya akan menjadi sepenggal kenangan manis bagi mereka, di balik derita sebagai pengungsi," katanya.

*) Oleh-oleh dari mengikuti Pelatihan Jurnalisme Damai di Manado yang diselenggarakan The British Council Jakarta di bawah asuhan Jake Lynch dan istrinya tahun 2002. ANTARA menyiarkannya pada 25 Oktober 2002.

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity