Saturday, December 29, 2007

KETIKA PERBEDAAN MELEBUR DI "JAROD"


Oleh Rahmad Nasution

Menikmati secangkir kopi hangat dengan beberapa potong pisang goreng di piring bisa diperoleh di mana saja di Manado.

Namun, hanya ada satu tempat di ibukota provinsi Sulawesi Utara (Sulut) itu dimana orang cukup memesan setengah gelas kopi susu hangat saja untuk bisa duduk sambil bercerita dengan teman-teman.

Terlebih lagi, lokasi itu sejak lebih dari sepuluh tahun terakhir menjadi "tongkrongan" beragam kalangan dari berbagai latar belakang pendidikan, strata sosial, ekonomi, dan budaya yang ada di kota berpenduduk lebih dari 400 ribu jiwa itu.

Tak sulit menemukan anggota DPRD, aktivis kampus, pegiat lembaga swadaya masyarakat, ketua partai politik, dan organisasi pemuda maupun pedagang asongan di sana. Bahkan beberapa pekerja seks komersial pun tak jarang turut melepas lelah di tempat itu.

Sekat-sekat perbedaan warna kulit, etnisitas, ras, dan agama juga seolah "cair" dalam "komunitas" itu. Warga Manado mengenal tempat itu "Jalan Roda" (Jarod).

Sekilas tak tampak sesuatu yang spesifik di lorong kecil yang di sisi kiri-kanannya dipadati rumah penduduk serta beberapa warung kopi dan nasi semi permanen.

Di hari Selasa (15/10/2002) sekitar pukul 17.00 Wita misalnya, dua warung kopi di Jarod itu tampak dipadati pengunjung. Di antara mereka, terlihat Pimpinan Wilayah GP Ansor Sulut, Amin Lasena, serta Ketua DPD Partai Keadilan (PK) Sulut, Abid Tahalamingan.

Tegur-sapa, lemparan senyum sesama pengunjung, dan kepulan asap rokok mewarnai suasana di dalam dan luar warung.

"Bang Vito, mau pesan apa? Kopi susu, teh manis, atau apa? " tanya Nadia Ralfm kepada reporter SCTV Jakarta, Alvito Deanova, yang datang bersama beberapa wartawan peserta praktek lapangan metode jurnalisme damai dalam pembuatan berita yang diselenggarakan The British Council selama lima hari di provinsi itu.

Mahasiswi berjilbab yang kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) dan kini aktif sebagai penyiar Radio Al Khairat Manado itu menanyakan satu persatu pesanan "tamu"-nya.

Pada Selasa yang cerah itu, cewek asal Gorontalo itu berkumpul di Jarod bersama beberapa rekannya sesama aktivis kampus dan pegiat LSM yang ikut mendukung kegiatan jurnalisme damai yang dipandu mantan wartawan stasiun televisi "Sky" Inggris, Jake Lynch dan istrinya, Annabel McGoldrick.

Sebuah "terminal"

Bagi kalangan aktivis di Manado, Jarod bukanlah sekadar tempat "nongkrong" melainkan sebuah "terminal". Di sana, berbagai kelompok masyarakat bertemu, berolah fikir dan merancang kegiatan.

"Di tingkat aktivis, suasana begitu plural di Jarod ini. Karenanya, kita mudah menyatukan persepsi atau setidaknya saling mengetahui (posisi masing-masing terhadap suatu persoalan) di sini," kata Endi Biaro.

Menurut putra Tangerang yang merantau ke Manado sejak 1994 itu, pamor warung kopi di Jarod ini mulai bersinar saat kelompok-kelompok mahasiswa pro-demokrasi di daerah ini menjadikannya sebagai ajang pertemuan.

"Justru di zaman (rezim otoriter) Soeharto, Jarod ini ramai. Yang bikin ramai, ya anak-anak gerakan (mahasiswa) itu," kata pegiat LSM lulusan Fisipol Unsrat itu.

Tidak jarang, berbagai isu nasional dan aksi demonstrasi mahasiswa dan pemuda dirancang di meja-meja warung kopi Jarod itu. Bahkan, penyebaran undangan kegiatan organisasi pun dilakukan di sini.

"Organisasi apapun kalau mau menyebarkan undangan cukup 'nongkrong' (duduk) di Jarod karena pasti (undangannya) 'nyampek' (sampai). Pokoknya, tak perlu mengeluarkan uang ekspedisi, undangan pasti sampai ke tangan penerimanya. Tapi asal jangan undangan yang sifatnya kedinasan," kata Endi yang mengaku aktif mengunjungi Jarod sejak 1997 itu.

Beberapa tokoh nasional yang pernah berkunjung dan berdiskusi dengan "komunitas" Jarod adalah Dr.Sri Bintang Pamungkas (politisi dan mantan anggota Komisi Pemilihan Umum), Anas Urbaningrum (mantan Ketua Umum PB-HMI yang kini anggota KPU), dan T.H.Sumartana (cendekiawan).

Dari "komunitas" itu, kata Endi, lahir sejumlah tokoh lokal Sulut. Di antara mereka adalah aktifis kampus yang kini anggota DPRD Sulut, seperti Benny Ramdani, Jafar Alkatiri, dan Abdurrahman Tambifi.

Bagi orang luar kota Manado yang ingin mengunjungi tempat yang pernah terbakar tahun 1996 itu guna menikmati secangkir kopi susu hangat seharga Rp1.000 dan sepotong pisang goreng seharga Rp500, tidak perlu pusing.

Taksi dengan sistem argo-meter atau sistem tawar maupun angkutan kota (Angkot) dengan ongkos Rp1.000 (jauh-dekat) tersedia sejak pagi hingga malam.

Bagi mereka yang kebetulan menginap di Hotel Grand Puri Manado, mereka bisa naik Angkot jurusan Stasiun, lalu turun di Benteng, Tugu Trikora, atau Gedung Juang.

Dari sana, jalan kaki ke arah kanan untuk mencapai Bioskop Presiden. Satu blok sebelah kiri gedung bioskop, terdapat sebuah lorong dengan lebar sekitar tiga meter yang jalannya terbuat dari semen marmer alam berwarna hitam. Itulah Jarod.

"Dengan ongkos (Angkot) seribu rupiah, anda sudah bisa mendengar berbagai isu, 'nimbrung' (turut) dalam diskusi, ikut lelang buku bekas, atau mendapat 'copy' skrispsi di Jarod," kata mantan wartawan Harian "Manado Post" dan penyiar Radio Smart FM itu.

Beragam cerita tentang episode kehidupan mereka yang berkumpul di tempat yang disebut Endi sebagai "Kampus Jalan Roda" dengan rektornya, Reiner Emyot Ointoe itu terbangun di sana. Mereka berkumpul, berbaur, dan berolah fikir tanpa terhambat oleh sekat-sekat perbedaan agama, budaya dan etnisitas.

"Semua melebur bak sebuah 'melting pot'," kata Endi.

*) Tulisan ini merupakan oleh-oleh dari mengikuti Pelatihan Jurnalisme Damai di Manado yang diselenggarakan The British Council Jakarta di bawah asuhan Jake Lynch dan istrinya tahun 2002. ANTARA menyiarkannya pada 21 Oktober 2002.

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity