


Oleh Rahmad Nasution
Ratusan orang dari beragam usia dan bangsa tampak menelusuri jalan-jalan kecil di sela "Bandara Schiphol" serta 169 miniatur gedung, jembatan, taman bunga, dan kilang minyak di sebuah areal yang tidak lebih luas dari lapangan sepakbola di Denhaag. Itulah Madurodam!
Kalau Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Timur Jakarta menawarkan pesona lintas budaya Tanah Air yang antara lain ditandai dengan beragam rumah tradisional yang dibangun di atas tanah yang relatif luas, Madurodam justru merupakan refleksi "kota terkecil" Belanda.
Di sana, tidak sulit menjumpai ratusan wisatawan asing asal Asia, termasuk Indonesia, RRC, dan Jepang, maupun negara-negara tetangga Belanda, seperti Jerman, Belgia, Prancis dan bahkan Inggris.
Setiap orang asing yang ingin mengetahui secara cepat karakter kota-kota di negeri berpenduduk sekitar 16 juta jiwa itu, berkunjung ke objek wisata yang dapat dicapai hanya sekitar tujuh menit dengan trem nomor satu dari Scheveningen itu.
Betapa tidak. Dengan membayar karcis masuk 11 Euro, para pengunjung (dewasa) sudah dapat melihat 170 bangunan mini yang mewakili beragam fase perkembangan arsitektur dan kemajuan industri kota-kota di negeri seluas 41.864 kilometer persegi yang dikenal dengan nama "Nederland" atau "tanah bawah laut" itu.
Bersama empat rekan asal Indonesia, penulis yang mengunjungi Madurodam pada 27 April lalu mendapati lebih dari seratus orang berada di sana; menelusuri jalan-jalan yang dibangun di sela-sela dandi antara "Menara Katedral Utrech", "Gereja St JohnBasilica", "Het Binnenholf" (gedung parlemen) Denhaag,"Istana Kerajaan di alun-alun De Dam-Amsterdam", jejeran rumah modern "Amersfoort en Almere", kilang minyak lepas pantai "Groningen" maupun "jembatan Van Brienenoordburg-Rotterdam".
Di "
Namun, mereka juga dapat melihat suasana kehidupan layaknya di kondisi riil keseharian negeri yang terkenal dengan perusahaan multinasional, seperti Shell, Philips, Unilever, AkzoNobel dan DSM-nya itu.
Di
Eksistensi
Suasana hidup di salah satu Bandar Udara internasional tersibuk di Eropa Daratan itu diwakili sebuah pesawat KLM yang tampak hilir mudik seakan sedang mencari lokasi berhenti.
Saat ini, di Madurodam, terdapat 1.148 model skala, 27 jembatan, 63 obyek bergerak, 2.389 mobil dan truk, 58 kapal, 32 pesawat, 4.000 meter rel kereta api dan trem, 12 kereta api, dua trem,4.957 miniatur pohon, 30.000 daun bunga beragam jenis, 13.000 miniatur populasi, dan 50.045 lampu miniatur kota.
"Sungguh sebuah miniatur
Apa yang diungkapkan peneliti Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis
Pentingnya Madurodam ini bahkan dipertegas oleh masuknya
Bahkan, selama hampir dua bulan penuh sejak 30 April 2003, obyek wisata ini menjadi tempat berlangsungnya pameran "World Press Photo".
Sejarah Madurodam yang dibuka untuk umum sejak 2 Juli 1952 itu tidak dapat dilepaskan dari nama George Maduro.
Tokoh yang lahir di Cusasao pada 1916 dan pernah belajar hukum di Leiden itu adalah seorang letnan dari unit kafeleri cadangan Angkatan Bersenjata Belanda yang tewas sebagai tahanan Perang Dunia II pada 9 Februari 1945.
Bersama seorang anggota "Masyarakat Pendukung Sanatorium Pelajar Belanda" (SDSS), Boon-Van der Starp, kedua orang tua Maduro mendirikan miniatur
Nyonya Boon-Van der Starp melihat pembangunan Madurodam itu tidak hanya sekadar monumen peringatan semata, melainkan juga merupakan salah satu sumber keuangan SDSS guna membantu berbagai kalangan yang membutuhkan di Belanda.
Bagi warga Belanda, "
Tugas utama mereka adalah menghadiri berbagai acara dan peresmian koleksi model-model miniatur baru negeri yang pernah menjajah
*) tulisan dari perjalanan ke Denhaag dan beberapa

No comments:
Post a Comment