Saturday, December 29, 2007

SEHARI DI MADURODAM, KOTA MINIATUR BELANDA









Oleh Rahmad Nasution

Ratusan orang dari beragam usia dan bangsa tampak menelusuri jalan-jalan kecil di sela "Bandara Schiphol" serta 169 miniatur gedung, jembatan, taman bunga, dan kilang minyak di sebuah areal yang tidak lebih luas dari lapangan sepakbola di Denhaag. Itulah Madurodam!

Kalau Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Timur Jakarta menawarkan pesona lintas budaya Tanah Air yang antara lain ditandai dengan beragam rumah tradisional yang dibangun di atas tanah yang relatif luas, Madurodam justru merupakan refleksi "kota terkecil" Belanda.

Di sana, tidak sulit menjumpai ratusan wisatawan asing asal Asia, termasuk Indonesia, RRC, dan Jepang, maupun negara-negara tetangga Belanda, seperti Jerman, Belgia, Prancis dan bahkan Inggris.

Setiap orang asing yang ingin mengetahui secara cepat karakter kota-kota di negeri berpenduduk sekitar 16 juta jiwa itu, berkunjung ke objek wisata yang dapat dicapai hanya sekitar tujuh menit dengan trem nomor satu dari Scheveningen itu.

Betapa tidak. Dengan membayar karcis masuk 11 Euro, para pengunjung (dewasa) sudah dapat melihat 170 bangunan mini yang mewakili beragam fase perkembangan arsitektur dan kemajuan industri kota-kota di negeri seluas 41.864 kilometer persegi yang dikenal dengan nama "Nederland" atau "tanah bawah laut" itu.

Bersama empat rekan asal Indonesia, penulis yang mengunjungi Madurodam pada 27 April lalu mendapati lebih dari seratus orang berada di sana; menelusuri jalan-jalan yang dibangun di sela-sela dandi antara "Menara Katedral Utrech", "Gereja St JohnBasilica", "Het Binnenholf" (gedung parlemen) Denhaag,"Istana Kerajaan di alun-alun De Dam-Amsterdam", jejeran rumah modern "Amersfoort en Almere", kilang minyak lepas pantai "Groningen" maupun "jembatan Van Brienenoordburg-Rotterdam".

Di "kota" yang mengoleksi belasan ribu obyek berskala satu berbanding 25 itu, pengunjung tidak hanya disuguhkan panorama miniatur gedung dan beragam benda-benda tidak bergerak lainnya.

Namun, mereka juga dapat melihat suasana kehidupan layaknya di kondisi riil keseharian negeri yang terkenal dengan perusahaan multinasional, seperti Shell, Philips, Unilever, AkzoNobel dan DSM-nya itu.

Di kota itu, miniatur-miniatur kapal, pesawat terbang, mobil, kereta api, dan trem "bergerak" seperti aslinya.

Eksistensi Indonesia di sana diwakili miniatur pesawat Garuda yang tampak diparkir bersama beberapa pesawat dari negara lain di "Bandara Schiphol".

Suasana hidup di salah satu Bandar Udara internasional tersibuk di Eropa Daratan itu diwakili sebuah pesawat KLM yang tampak hilir mudik seakan sedang mencari lokasi berhenti.

Saat ini, di Madurodam, terdapat 1.148 model skala, 27 jembatan, 63 obyek bergerak, 2.389 mobil dan truk, 58 kapal, 32 pesawat, 4.000 meter rel kereta api dan trem, 12 kereta api, dua trem,4.957 miniatur pohon, 30.000 daun bunga beragam jenis, 13.000 miniatur populasi, dan 50.045 lampu miniatur kota.

"Sungguh sebuah miniatur kota Belanda yang atraktif dan informatif," kata Eric Hendra Tuhuleley yang bersama penulis mengunjungi Madurodam pada 27 April petang itu.

Apa yang diungkapkan peneliti Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi) yang sudah tiga kali mengunjungi Madurodam sejak ia mengenal Belanda itu tidaklah berlebihan.

Pentingnya Madurodam ini bahkan dipertegas oleh masuknya kota mini itu ke dalam daftar obyek wisata kota Denhaag.

Bahkan, selama hampir dua bulan penuh sejak 30 April 2003, obyek wisata ini menjadi tempat berlangsungnya pameran "World Press Photo".

Sejarah Madurodam yang dibuka untuk umum sejak 2 Juli 1952 itu tidak dapat dilepaskan dari nama George Maduro.

Tokoh yang lahir di Cusasao pada 1916 dan pernah belajar hukum di Leiden itu adalah seorang letnan dari unit kafeleri cadangan Angkatan Bersenjata Belanda yang tewas sebagai tahanan Perang Dunia II pada 9 Februari 1945.

Bersama seorang anggota "Masyarakat Pendukung Sanatorium Pelajar Belanda" (SDSS), Boon-Van der Starp, kedua orang tua Maduro mendirikan miniatur kota ini untuk memperingati putra mereka itu.

Nyonya Boon-Van der Starp melihat pembangunan Madurodam itu tidak hanya sekadar monumen peringatan semata, melainkan juga merupakan salah satu sumber keuangan SDSS guna membantu berbagai kalangan yang membutuhkan di Belanda.

Bagi warga Belanda, "kota" ini pun memiliki beragam keunikan. Salah satunya adalah Ratu Beatrix duduk sebagai "walikota"-nya sejak 1980. Kini, yang menjalankan tugas walikota Madurodam adalah Dewan Kota Pemuda Madurodam (YCCM) yang diwakili 25 pelajar.

Tugas utama mereka adalah menghadiri berbagai acara dan peresmian koleksi model-model miniatur baru negeri yang pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun itu.

*) tulisan dari perjalanan ke Denhaag dan beberapa kota lain di Belanda. Tulisan ini disiarkan ANTARA pada 5 Mei 2003

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity