
Oleh Rahmad Nasution
Dua orang ibu berjilbab duduk di atas karpet sambil mengawasi kereta sorong bayi mereka yang diparkir berselebahan dengan sebuah rak buku. Tanpa grogi, mereka mengobrol dengan suara yang agak pelan, sedangkan beberapa ibu lain menemani putra-putri mereka mencari buku di rak-rak yang ada.
Di ruangan khusus buku anak-anak itu, sembilan orang anak balita tampak asyik dengan buku pilihan mereka. Sementara orang tua atau nenek yang menemani mereka hanya sekadar mengawasi atau mengobrol di antara mereka.
Sementara di sudut lain ruangan yang luasnya lebih kurang setara dengan tiga kali luas lapangan bola voli itu, belasan orang tua dan muda seakan larut dengan bahan bacaan mereka. Sambil duduk di kursi empuk yang ada, mereka membaca koran, majalah, novel, dan buku pilihan mereka tanpa terganggu dengan celotehan anak-anak balita itu.
Di antara pengunjung, tampak ada yang masih menjinjing tas belanjaan ketika menelusuri rak-rak buku, CD, VCD, koran dan majalah yang tersusun apik di atas lantai berkarpet yang perpaduan warnanya seakan memompa semangat untuk membaca itu.
Anak-anak balita, para ibu muda, ataupun pasangan kakek-nenek berambut pirang yang memutih dengan tas belanjaan di tangan itu bukanlah pengunjung sebuah toko buku, melainkan perpustakaan umum yang lokasinya menempati sebuah ruangan di lantai empat
Hari itu, Selasa pagi, 23 November 2004. Anak-anak belia yang asyik bermain dengan buku di tangan itu merupakan pemandangan yang biasa setiap Selasa pagi karena pengelola Perpustakaan Toowong menyelenggarakan kegiatan 'bercerita' buat anak-anak.
Kegiatan 'story telling' ini hanyalah satu dari seambrek program rutin yang menjadi bagian pelayanan perpustakaan umum yang juga dilengkapi ruangan pertemuan bagi pengunjung itu.
Di lihat dari jenis buku yang tersedia, koleksi yang ada memenuhi kebutuhan semua umur. Bagi mereka yang suka novel misalnya, beragam pilihan tersedia -- mulai dari karya Agatha Christie, John Gresham, dan Sydney Sheldon, hingga novel tulisan novelis mutakhir, seperti 'While My Pretty One Sleeps' dan 'One the Street Where You Live'-nya Mary Higgins Clark. Tentu, buku-buku serius, seperti karya klasik Adam Smith (The Wealth of Nations), pun ada.
Selain perpustakaan Toowong, ke-31 perpustakaan umum lain yang sepenuhnya sudah menerapkan teknologi informasi canggih dan terhubung ke jaringan Internet itu adalah Annerley, Ashgrove, Banyo, Bracken Ridge, Bulimba, Carina, Carindale, Central City, Chermside, Coopers Plains, Corinda, Everton Park, Fairfield, Garden City, Grange, Hamilton, Holland Park, Inala, Indooroopilly, Michelton, Mt.Coot-tha, Mt Gravatt, Mt Ommaney, New Farm, Nundah, Sandgate, Stones Corner, Sunnybank Hills, West End, Wynnum, dan Zillmere.
Dari 32 perpustakaan umum yang kini dimiliki ibukota Negara Bagian Queensland untuk melayani sekitar tiga juta warganya itu, sembilan di antaranya menempati lokasi di pusat perbelanjaan mewah Carindale, Central City, Fairfield, Garden City, Inala, Indooroopilly, Mt.Ommaney, Sunnybank Hills, dan Toowong.
Ada juga perpustakaan umum yang dibangun di dekat taman, seperti Perpustakaan umum New Farm yang berselebahan dengan kawasan taman luas New Farm, salah satu taman yang terkenal di Brisbane.
Menurut Aryana Satria, perpustakaan umum yang disediakan pemerintah daerah dan dewan
"Saya sendiri sudah menjadi anggota Perpustakaan Umum Toowong sejak setahun lalu," kata mahasiswa
Kendati ia tercatat sebagai anggota perpustakaan umum Toowong, ia bebas memijam dan memulangkan buku dan bahan perpustakaan lain yang diperlukannya, temasuk CD dan VCD di perpustakaan umum mana pun di Brisbane.
Ayah dua anak yang kini tinggal di daerah Highland Terrace, St.Lucia itu lebih lanjut menuturkan, untuk menjadi anggota perpustakaan, para calon anggota cukup hanya membawa tanda bukti (identitas) diri disertai selip kwitansi pembayaran listrik atau telepon untuk memastikan alamat rumah calon anggota.
Petugas perpustakaan dengan senang hati memproses status keanggotaan dan, dalam hitungan menit, kartu perpustakaan berbentuk kartu ATM pun selesai tanpa biaya sepeser pun, katanya.
Semua bentuk layanan perpustakaan gratis itu menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya Dewan Kota Brisbane mewujudkan visi 2010-nya yang berhasrat menjadikan
Bagaimana dengan kota-kota di
Justru, seperti yang pernah disampaikan Kepala Perpustakaan dan Informasi Universitas Sumatera Utara (USU), Drs.Ahmad Ridwan Siregar,MLib, perpustakaan umum selayaknya menjadi 'landmark' (ciri khas) bagi kota-kota besar dan kecil di Tanah Air.
"Bahkan pengembangannya seharusnya dibiayai dengan pajak dengan proporsi yang memadai, sama halnya dengan pembiayaan infrastruktur publik lainnya, seperti sekolah, jalan raya, pelabuhan dan lain-lainnya," tutur Siregar.
Akankah pemerintah daerah dan pemerintah
*)disiarkan ANTARA 27 November 2004

No comments:
Post a Comment