Saturday, December 29, 2007

PERPUSTAKAAN UMUM DI BRISBANE DI ANTARA PLAZA DAN TAMAN


Oleh Rahmad Nasution

Dua orang ibu berjilbab duduk di atas karpet sambil mengawasi kereta sorong bayi mereka yang diparkir berselebahan dengan sebuah rak buku. Tanpa grogi, mereka mengobrol dengan suara yang agak pelan, sedangkan beberapa ibu lain menemani putra-putri mereka mencari buku di rak-rak yang ada.

Di ruangan khusus buku anak-anak itu, sembilan orang anak balita tampak asyik dengan buku pilihan mereka. Sementara orang tua atau nenek yang menemani mereka hanya sekadar mengawasi atau mengobrol di antara mereka.

Sementara di sudut lain ruangan yang luasnya lebih kurang setara dengan tiga kali luas lapangan bola voli itu, belasan orang tua dan muda seakan larut dengan bahan bacaan mereka. Sambil duduk di kursi empuk yang ada, mereka membaca koran, majalah, novel, dan buku pilihan mereka tanpa terganggu dengan celotehan anak-anak balita itu.

Di antara pengunjung, tampak ada yang masih menjinjing tas belanjaan ketika menelusuri rak-rak buku, CD, VCD, koran dan majalah yang tersusun apik di atas lantai berkarpet yang perpaduan warnanya seakan memompa semangat untuk membaca itu.

Anak-anak balita, para ibu muda, ataupun pasangan kakek-nenek berambut pirang yang memutih dengan tas belanjaan di tangan itu bukanlah pengunjung sebuah toko buku, melainkan perpustakaan umum yang lokasinya menempati sebuah ruangan di lantai empat Pusat Perbelanjaan Toowong Village, Brisbane.

Hari itu, Selasa pagi, 23 November 2004. Anak-anak belia yang asyik bermain dengan buku di tangan itu merupakan pemandangan yang biasa setiap Selasa pagi karena pengelola Perpustakaan Toowong menyelenggarakan kegiatan 'bercerita' buat anak-anak.

Kegiatan 'story telling' ini hanyalah satu dari seambrek program rutin yang menjadi bagian pelayanan perpustakaan umum yang juga dilengkapi ruangan pertemuan bagi pengunjung itu.

Di lihat dari jenis buku yang tersedia, koleksi yang ada memenuhi kebutuhan semua umur. Bagi mereka yang suka novel misalnya, beragam pilihan tersedia -- mulai dari karya Agatha Christie, John Gresham, dan Sydney Sheldon, hingga novel tulisan novelis mutakhir, seperti 'While My Pretty One Sleeps' dan 'One the Street Where You Live'-nya Mary Higgins Clark. Tentu, buku-buku serius, seperti karya klasik Adam Smith (The Wealth of Nations), pun ada.

Perpustakaan Toowong Village yang kini dilengkapi dua mesin peminjaman otomatis yang memungkinkan calon peminjam bahan pustaka melakukan sendiri proses peminjaman buku tanpa melalui petugas pustaka ini hanyalah satu dari 32 perpustakaan umum milik Dewan Kota Brisbane.

Selain perpustakaan Toowong, ke-31 perpustakaan umum lain yang sepenuhnya sudah menerapkan teknologi informasi canggih dan terhubung ke jaringan Internet itu adalah Annerley, Ashgrove, Banyo, Bracken Ridge, Bulimba, Carina, Carindale, Central City, Chermside, Coopers Plains, Corinda, Everton Park, Fairfield, Garden City, Grange, Hamilton, Holland Park, Inala, Indooroopilly, Michelton, Mt.Coot-tha, Mt Gravatt, Mt Ommaney, New Farm, Nundah, Sandgate, Stones Corner, Sunnybank Hills, West End, Wynnum, dan Zillmere.

Dari 32 perpustakaan umum yang kini dimiliki ibukota Negara Bagian Queensland untuk melayani sekitar tiga juta warganya itu, sembilan di antaranya menempati lokasi di pusat perbelanjaan mewah Carindale, Central City, Fairfield, Garden City, Inala, Indooroopilly, Mt.Ommaney, Sunnybank Hills, dan Toowong.

Ada juga perpustakaan umum yang dibangun di dekat taman, seperti Perpustakaan umum New Farm yang berselebahan dengan kawasan taman luas New Farm, salah satu taman yang terkenal di Brisbane.

Menurut Aryana Satria, perpustakaan umum yang disediakan pemerintah daerah dan dewan kota Brisbane itu diperuntukkan bagi seluruh warga tanpa terkecuali secara gratis, termasuk warganegara asing, seperti Indonesia, yang menetap sementara waktu.

"Saya sendiri sudah menjadi anggota Perpustakaan Umum Toowong sejak setahun lalu," kata mahasiswa Indonesia asal Jakarta yang sedang menyelesaikan studi doktornya di Universitas Queensland itu.

Kendati ia tercatat sebagai anggota perpustakaan umum Toowong, ia bebas memijam dan memulangkan buku dan bahan perpustakaan lain yang diperlukannya, temasuk CD dan VCD di perpustakaan umum mana pun di Brisbane.

Ayah dua anak yang kini tinggal di daerah Highland Terrace, St.Lucia itu lebih lanjut menuturkan, untuk menjadi anggota perpustakaan, para calon anggota cukup hanya membawa tanda bukti (identitas) diri disertai selip kwitansi pembayaran listrik atau telepon untuk memastikan alamat rumah calon anggota.

Petugas perpustakaan dengan senang hati memproses status keanggotaan dan, dalam hitungan menit, kartu perpustakaan berbentuk kartu ATM pun selesai tanpa biaya sepeser pun, katanya.

Semua bentuk layanan perpustakaan gratis itu menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya Dewan Kota Brisbane mewujudkan visi 2010-nya yang berhasrat menjadikan Brisbane sebagai kota modern masa depan yang senantiasa ramah lingkungan dan bersahaja dengan warga yang semakin cerdas dan terdidik.

Bagaimana dengan kota-kota di Indonesia? Perpustakaan umum seperti yang kini dimiliki Brisbane tampaknya masih merupakan 'impian' dan 'barang mahal'. Namun, mengharapkan adanya fasilitas perpustakaan umum dengan mutu koleksi dan pelayanan berkelas internasional seperti Brisbane bukanlah sebuah kesalahan.

Justru, seperti yang pernah disampaikan Kepala Perpustakaan dan Informasi Universitas Sumatera Utara (USU), Drs.Ahmad Ridwan Siregar,MLib, perpustakaan umum selayaknya menjadi 'landmark' (ciri khas) bagi kota-kota besar dan kecil di Tanah Air.

"Bahkan pengembangannya seharusnya dibiayai dengan pajak dengan proporsi yang memadai, sama halnya dengan pembiayaan infrastruktur publik lainnya, seperti sekolah, jalan raya, pelabuhan dan lain-lainnya," tutur Siregar.

Akankah pemerintah daerah dan pemerintah kota madya di Tanah Air mengikuti jejak Dewan Kota Brisbane dalam strategi pembangunan wilayah dan sumber daya manusianya?

*)disiarkan ANTARA 27 November 2004

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity