Saturday, December 29, 2007

DI BALIK KESUKSESAN AUSTRALIA DALAM RENANG


Oleh Rahmad Nasution

Masih ingat dengan Ian Thorpe dan Grant Hackett? Merekalah dua di antara sejumlah atlet renang Australia yang tampil memukau selama Olimpiade Athena lalu.

Ian sendiri merupakan penyumbang medali emas buat negerinya di pesta olahraga dunia paling bergengsi itu.

Kalau Australia menuai banyak medali emas dalam berbagai kejuaraan dunia, termasuk Olimpiade, prestasi ini tampaknya bukanlah 'berkah dari langit' yang tiba-tiba datangnya.

Berbagai prestasi tersebut merupakan hasil kerja keras pemerintah bersama masyarakat negeri itu. Pemerintah menyediakan beragam fasilitas yang memungkinkan anak sejak dini berkenalan dengan olahraga air ini.

Berenang bahkan merupakan salah satu kegiatan olahraga yang diajarkan di sekolah selain bola basket dan tenis lapangan. Praktik berenang juga menjadi salah satu kegiatan ekstra kurikuler di jenjang pendidikan dasar itu.

Seperti halnya Ironside State School (Brisbane) yang menjadi pilihan utama mahasiwa asing, termasuk asal Indonesia dan Malaysia, yang ingin menyekolahkan putra-putri mereka, semua lembaga pendidikan di Australia, baik yang berstatus negeri maupun swasta, kabarnya dilengkapi kolam renang.

Di seluruh Australia, menurut Biro Pusat Statistik negeri itu, tercatat 9.595 sekolah tahun 2001 dengan jumlah siswa mencapai lebih dari tiga juta orang. Dari jumlah itu, 6.941 di antaranya adalah sekolah negeri seperti Ironside State School.

Bagaimana evaluasi terhadap kemampuan renang setiap anak dilakukan? Apa yang diselenggarkan Sekolah Negeri Ironside hari Senin (29/11) ini bisa menjawab pertanyaan ini.

Melalui kegiatan yang disebut 'Swimming Carnival', kemampuan setiap murid diuji. Para murid kelas empat dan lima sekolah dasar yang berdiri tahun 1800-an itu terlibat tanpa kecuali. Dan mereka tampak antusias mengikuti unjuk kemampuan ini.

Bak sebuah kompetisi renang sungguhan, mereka dibagi ke dalam kelompok-kelompok. Mereka pun diberi kebebasan untuk memilih nomor-nomor perlombaan yang akan diikuti, sedangkan apakah bertanding dalam satu putaran kolam atau hanya 10 meter disesuaikan dengan kemampuan setiap siswa.

Namun, nomor-nomor yang diperlombakan tetap mengikuti aturan yang lazim, seperti gaya bebas, kupu-kupu dan dada.

Para guru kelas dan guru olahraga tampak terlibat aktif dalam 'kompetisi' antarmurid yang berlangsung di kolam renang sekolah yang terletak di Jalan Hawken Drive, St.Lucia sejak sekitar pukul 09.00 hingga tengah hari itu.

Putri Shafira yang kini duduk di kelas lima misalnya memilih masuk kelompok Sturd dan'bertandin; melawan rekan sebayanya dari kelompok lain di nomor sepuluh meter gaya bebas putri.

Ia memilih bertanding di nomor ini karena kemampuan berenangnya dari hasil pelajaran praktik berenang seminggu sekali itu baru sebatas itu.

Sebelum pertandingan dimulai, Putri sempat khawatir akan kemampuannya. "Wah, sepuluh meter itu kan jauh ya?" gumamnya. Namun, ia tak sanggup menyembunyikan kegembiraannya ketika ia mencapai garis finish dan mendapat potongan pita bertuliskan 'participant' (peserta).

Guru dan orang tua

Tampak beberapa guru yang bertugas mencatat hasil dan memberi aba-aba dengan alat, sedangkan puluhan murid dan orang tua siswa yang memadati tempat duduk panjang yang ada di sebelah kanan kolam itu berteriak dan bertepuk-tangan menyemangati mereka yang bertanding.

Lima "perenang" pemula yang bertarung di nomor 10 meter gaya kupu-kupu tampak bersusah payah mengerahkan seluruh kemampuannya. Ada yang terpaksa 'berjalan' menjelang tiga meter garis finish agar tidak terlalu lama tertinggal dari teman-temannya yang sudah lebih dahulu menyentuh batas akhir (finish) .

Tiga orang guru yang bertugas mencatat dan mengawasi hasil pertandingan tidak menegur, apalagi mendiskualifikasi anak-anak yang 'berjalan' ke garis finish itu.

Mereka tetap mencatat perolehan waktu anak-anak itu karena sejak awal acara 'Swimming Carnival' tersebut dimaksudkan sebagai ajang unjuk kemampuan sembari membangun sportifitas dan semangat peserta didik untuk selalu menjadi yang terbaik.

Umumnya anak-anak yang menjadi pemenang dalam kegiatan tahunan itu adalah pelajar setempat.

Seorang warga Malaysia yang sejak pagi tekun menonton dan mengabadikan jalannya pertandingan itu dengan kamera digitalnya tampak berteriak menyemangati putranya yang bertanding di nomor 10 meter gaya dada.

Mahasiswa magister bidang ekonomi Universitas Queensland itu mengatakan, putranya itu baru belajar berenang setelah bersekolah di Ironside State School.

Sebelumnya, putranya yang kini duduk di kelas empat itu tidak pernah mengikuti pelajaran berenang di sekolahnya di Malaysia. Kalaupun ingin berenang, ia harus pergi ke kolam renang umum di sana.

Seperti halnya Indonesia, sekolah-sekolah di Malaysia pun, katanya, tidak dilengkapi kolam renang yang memungkinkan para siswa mendapat keahlian sekaligus menumbuhkan kecintaannya pada olahraga ini sejak usia dini.

"Kalau mau berenang, mereka harus ke kolam renang umum dan membayar," katanya dalam logat Melayu yang kental.

Bagi Indonesia dan Malaysia yang berpenduduk mayoritas Muslim, tidak terlatih berenang sejak usia dini justru ironis. Mengapa? Berenang adalah salah satu olahraga yang paling disarankan Nabi Muhammad SAW selain gulat.

Sudah seharusnya antusiasme dan keseriusan pengelola sekolah-sekolah di Australia dalam mengajarkan olahraga renang kepada siswanya itu dicontoh Indonesia dan Malaysia, katanya.

*) disiarkan ANTARA pada 29 November 2004

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity