Sunday, December 30, 2007

KUTUKAN TERHADAP TERORISME MENGGEMA DI APEC SHANGHAI



Oleh Rahmad Nasution

Kontroversi isu terorisme dalam pertemuan forum Kerjasama Ekonomi AsiaPasifik (APEC) terjawab sudah, menyusul keluarnya pernyataan para pemimpin ekonomi APEC Minggu sore yang mengutuk sekeras-kerasnya serangan teroris ke Amerika Serikat 11 September lalu yang menewaskan ribuan orang itu.

Para pemimpin forum yang dibentukan tahun 1989 dan kini memiliki 21 anggota itu dalam pernyataan mereka yang disebut "APEC Leaders' Statement on Counter Terrorism" menegaskan segala bentuk aksi terorisme yang ditujukan kepada siapa pun dan dalam bentuk apapun merupakan ancaman bagi perdamaian, kesejahteraan dan keamanan dari semua keyakinan dan bangsa.

"Terorisme juga merupakan ancaman langsung terhadap visi APEC yang bebas, dan terbuka, serta terhadap nilai-nilai fundamental yang dimiliki para anggotanya," tegas mereka.

Karenanya mereka menyatakan komitmen yang kuat untuk menghindari dan melawan segala bentuk aksi terorisme di masa depan sesuai dengan Piagam PBB dan hukum internasional lainnya, dan bertekad untuk mewujudkan Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1373.

Berbagai front perlawanan terhadap terorisme yang akan diambil para pemimpin APEC itu meliputi penghentian arus dana para teroris, dan peningkatan keamanan angkutan udara dan laut sesuai dengan persyaratan internasional.

Upaya memerangi terorisme melalui pembekuan dan penghentian arus dana mereka itu dilakukan melalui kelompok kerja menteri keuangan APEC tentang perang melawan kejahatan keuangan, sedangkan upaya meningkatkan keamanan transportasi udara dan laut dilakukan antara lain dengan meminta para menteri perhubungan agar secara aktif mendiskusikan berbagai hal tentang keamanan pesawat dan pelabuhan.

Untuk mencapai hasil yang sesegera mungkin, para pemimpin forum itu memandang penting penguatan keamanan, peningkatan jaringan kerja komunikasi imigrasi global tanpa menghambat arus perdagangan.

Hal lainnya adalah melakukan kerjasama pembangunan sistem pencatatan elektronis yang akan memperkuat keamanan perbatasan tanpa mengganggu kebebasan pejalan resmi, dan pembangunan kapasitas serta kerjasama ekonomi dan teknis untuk membantu para anggota agar mampu mengambil tindakan-tindakan melawan terorisme itu.

Mereka juga sepakat untuk bekerjasama mengurangi pengaruh serangan teroris itu terhadap ekonomi dunia, dan memulihkan kepercayaan ekonomi di kawasan Asia Pasifik melalui berbagai kebijakan dan tindakan yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan menjamin iklim usaha dan investasi yang stabil.

Sudah Diduga

Keluarnya pernyataan tentang perlawanan terhadap terorisme itu sudah dapat diduga sejak awal.

Pertemuan dua hari yang dibuka Presiden Cina Jiang Zemin tanpa kehadiran wakil Taiwan itu sudah terasa "lain" sejak awal karena kentalnya dimensi politis berkaitan dengan keputusan Taipei untuk tidak mengirim utusannya serta kuatnya keinginan AS untuk memanfaatkan pertemuan ini untuk menggalang dukungan penuh bagi kampanye anti-terorisme dan kebijakan unilateralnya di Afghanistan.

Berbagai isu sentral berdimensi ekonomis, seperti komitmen bersama untuk mendorong pelaksanaan fasilitasi dan liberalisasi perdagangan, revitalisasi Deklarasi Bogor 1994, putaran baru negosiasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), pembangunan kapasitas sumber daya manusia, serta kerjasama ekonomi dan teknis (Ecotech) tetap menjadi perhatian AELM Shanghai tersebut.

Namun, mengerasnya isu politis dalam pertemuan APEC kali ini sulit untuk ditepis. Bahkan, bagi Amerika, hanya ada satu alasan bagi kehadiran Presiden Bush di Shanghai di tengah kesulitan kampanye militer negaranya memerangi apa yang disebutnya sebagai "terorisme di Afghanistan", yakni keinginannya untuk memperkuat koalisi global memerangi "terorisme".

Dalam pidatonya di depan ratusan peserta Konferensi Tingkat Tinggi CEO APEC hari Sabtu, Bush pun memanfaatkannya untuk berkampanye melawan terorisme.

Ia kembali menyatakan keyakinannya bahwa semua bangsa yang cinta damai dapat mengalahkan pertarungan panjang melawan terorisme sehingga anak cucu bangsa sebagai penerus masa depan dapat hidup aman dan damai.

"Saya tahu kita dapat membawa kesehatan, kesejahteraan dan pendidikan (yang baik) buat rakyat kita, dan mampu mengalahkan para teroris . Hasilnya pasti," katanya pada forum yang dihadiri lebih dari 300 pengusaha kelas dunia dari kawasan Asia Pasifik itu.

Namun Bush mengingatkan bahwa "tidak ada satu pemerintah pun yang dapat menjadikan perang Amerika melawan terorisme itu sebagai pembenar baginya untuk menindas kelompok minoritas di negaranya."

"Para kelompok minoritas itu harus mengetahui bahwa hak-hak mereka akan dijaga. Gereja-gereja, kelenteng-kelenteng dan masjid-masjid adalah hak mereka," katanya.

Dalam masalah penumpasan terorisme, para Menlu APEC Kamis lalu pun secara penuh memberikan dukungan kuat terhadap kampanye Amerika memerangi terorisme dengan munculnya apa yang disebut "Konsensus Anti Terorisme".

Bagi Indonesia, apa yang dicapai dalam pertemuan APEC berkaitan dengan kampanye anti terorisme sudah sejalan dengan kebijakan Jakarta yang mengutuk segala bentuk aksi terorisme dan menyatakan belasungkawa yang mendalam kepada para korban.

Namun, berkaitan dengan serangan balasan Amerika ke Afghanistan dan tewasnya ratusan rakyat sipil tak berdosa, Indonesia, seperti kata Menlu Hassan Wirajuda, memiliki kekhawatiran tersendiri.

Yang jelas, sikap dasar Jakarta, menurut Wirajuda, tetap tidak berubah, yakni meminta PBB agar mengambil langkah bersama (collective response) untuk menyikapi berbagai perkembangan paska serangan ke Amerika itu.

Pertemuan para pemimpin forum ekonomi beranggotakan Australia, Brunei, Kanada, Cili, Cina, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, PNG, Peru, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, Rusia, AS dan Vietnam ini, secara tak terbantahkan, menandai kemenangan diplomasi AS dan sekutunya.

*) Catatan tentang hasil KTT Shanghai 2001. Tulisan ini disiarkan ANTARA pada 21 Oktober 2001

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity