

Oleh Rahmad Nasution
"Saya ingin jadi direktur keuangan." Ucapan polos itu meluncur dari mulut Darmanto Boroni saat ditanya tentang cita-citanya kalau sudah besar nanti.
Tak jelas benar apa yang ada dalam benak siswa kelas VI SD Negeri 96 Manado itu ketika jawaban spontan itu meluncur dari mulut kecilnya. Yang pasti, bagi Darmanto, menjadi seorang direktur keuangan tampaknya adalah impian "hari depannya".
Bersama belasan teman sebayanya sesama anak pengungsi yang Rabu sore (16/10/2002) itu berkumpul di ruangan depan bekas gedung BP-7 Pakowa,
Putra kedua dari Benny Boroni, yang eksodus dari kampungnya di Ternate, Maluku Utara (Malut) bersama orang tua dan kedua saudaranya akibat pertikaian tiga tahun lalu itu, tampak larut dalam tawa dan keceriaan selama mengikuti berbagai permainan yang dipandu dua pegiat Yayasan Pelita Kasih Abadi (PEKA).
Kisah hidup Darmanto di kamp pengungsian itu diawali tiga tahun lalu; tepatnya di bulan November 1999. Ketika itu, tiba-tiba saja, suasana Ternate berubah kacau. Pertikaian antarwarga yang semula pecah di daerah Malifut, Halmahera, pada 24 Oktober 1999, menyebar ke berbagai tempat bak "arisan berantai", termasuk Tidore dan Ternate.
Aroma kebencian dan ketakutan pun menyebar dengan cepatnya di antara warga ibukota Malut, provinsi yang dibentuk semasa pemerintahan B.J.Habibie dengan UU No.46/1999 itu.
Situasi kacau itu semakin menjadi-jadi setelah banyak rumah ibadah dan perkampungan Kristen di Ternate "luluh lantak" diamuk
Di tengah kekacauan tersebut, belasan ribu warga non Muslim Ternate yang sebelumnya hidup berdampingan secara damai dengan warga Muslim selama ratusan tahun itu berbondong-bondong meninggalkan kampung halamannya. Di antara mereka yang eksodus itu adalah Darmanto Boroni.
"Saya sudah lupa tanggal berapa, tatapi seingat saya ketika itu bulan November 1999. Saya bersama ayah dan ibu serta kakak berlari meninggalkan rumah tanpa membawa apa-apa menuju pantai untuk selanjutnya naik kapal Angkatan Laut ke tempat yang kemudian saya tahu dari ayah dan ibu bernama
Darmanto tidak sendiri. Belasan ribu anak pengungsi seperti Darmanto mengalami tragedi hidup yang lebih kurang sama diakibatkan oleh konflik yang sama sekali tidak mereka pahami. Namun, dalam program terapi emosional Yayasan PEKA ini, mereka dibimbing untuk dapat keluar dari trauma hidup.
Ekspresikan diri
Dengan kreativitasnya masing-masing, setiap anak mencoba mengekspresikan dirinya. Fitri Mamonto dan Andri Haryadi, dua pegiat LSM yang mengembangkan kegiatan "pembangunan perdamaian dan pencegahan konflik" itu, memulai kegiatan yang rutin dilakukan setiap hari sejak setahun terakhir itu dengan perkenalan.
Sambil duduk bersila membentuk lingkaran, belasan anak, termasuk Darmanto, bertepuk tangan dan memetik jari-jemari mereka yang menimbulkan ritme musik, sembari menyebutkan nama masing-masing secara bergiliran.
Fitri yang sejak awal permainan berdiri di tengah lingkaran terus memancing dan mendorong setiap anak untuk mengekspresikan dirinya.
Perempuan berjilbab yang sedang hamil tua itu tidak jemu-jemunya mendorong mereka untuk menyumbangkan lagu yang mereka bisa, berbagi cerita tentang pengalaman konflik yang mereka alami atau sekadar membaca puisi.
"Siapa yang mau bercerita?"
"Adik-adik punya pengalaman atau mau baca puisi?"
Begitulah aktifis Muslim yang sejak dua tahun lalu bergabung dengan PEKA sebagai sukarelawati itu memotivasi "anak-anak didiknya" agar mau berbagi cerita dengan anak-anak lainnya.
Sore itu, Darmanto membacakan puisi karangannya berjudul "Nyanyian Si Anak Gembala". Sembari berdiri, ia membaca bait demi bait sajak itu:
"Tralalala trililili/Selalu kusambut/datangnya mentari/dengan wajah yang berseri/Semangat kerjaku pun kian tinggi setiap hari ..."
Semua yang dilakukan dalam kegiatan terapi emosional yang dikemas dalam bentuk permainan itu berjalan secara spontan khas dunianya anak-anak.
Menurut Fitri, apa yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah menghilangkan trauma dari kehidupan anak-anak korban konflik itu.
Kegiatan terapi emosional itu, kata istri wartawan sebuah media cetak di ibukota Sulut itu, dimaksudkan untuk mengajak anak-anak keluar dari kurungan "aku" menjadi "kita".
Mereka diajak mendalami ke"aku"an mereka dengan melihat pengalaman masa lalu, apa yang dialami dan dirasakan hari ini dan apa yang diinginkan di hari mendatang.
"Anak-anak diajak menceritakan pengalamannya melalui gambar, puisi, atau berbagi cerita satu sama lain. Di sini mereka saling berbagi, mendengar, mengenal dan memahami satu sama lainnya," katanya.
Tanggungan bersama
Dengan pengenalan satu sama lain itu sikap saling percaya diharapkan tumbuh di antara mereka. Bahkan, pengalaman penderitaan itu dirasakan sebagai tanggungan bersama.
Kondisi yang terbangun dari semua upaya ini, menurut Fitri, mendorong mereka untuk mulai "berdamai" dengan masa lalunya.
"Berdamai dengan masa lalu ini berarti mereka bisa mengekspresikan kebersamaan sebagai 'kita' secara positif. Kita yang menderita, terbuang, tersingkir, namun masih punya harapan karena kebersamaan untuk bangkit kembali, membangun kembali apa yang telah hancur," katanya.
Sejak anak-anak pengungsi yang menetap di kamp penampungan BP-7 Manado mengikuti terapi emosional dari PEKA bekerjasama dengan "Catholic Relief Services" (CRS) Jakarta itu, mereka telah menghasilkan banyak karya kreatif.
Selama Januari - Maret 2001 saja, sedikitnya ada 34 sajak yang terekam dalam buku laporan kegiatan LSM yang dipimpin Yustinus Sapto Hardjanto itu.
Selain itu, puluhan gambar lahir dari kegiatan terapi emosional itu, seperti terekam dalam buku terbitan Yayasan PEKA dan CRS tahun lalu berjudul "Kisah Di Balik Kehidupan Anak Pengungsi Maluku Utara di Manado Dalam Gambar dan Puisi".
Puisi dan gambar hasil torehan jemari anak-anak pengungsi itu seolah menjadi saksi bisu atas pertikaian berdarah yang mendera 23 dari 27 kecamatan yang ada di provinsi Malut tiga tahun lalu itu.
Ribuan jiwa telah melayang dan lebih dari 40 ribu orang lainnya tercerabut dari kampung halamannya akibat konflik bernuansa SARA ini. Namun, kedamaian dan optimisme akan adanya hari esok yang lebih baik bukan sebuah "utopia".
Darmanto, Ahmad Alheid, Rimelda Lesso, Wanda Purnama, Stevy Salawaty, Jeffry Horhorouw, Kristovel T, Dessy Isaak, dan anak-anak lain di kamp pengungsian BP-7 maupun di berbagai lokasi penampungan di seluruh Sulut adalah masa depan itu.
"Mereka adalah 'the peace-making generation' (generasi pegiat perdamaian) di masa depan ...," kata Fitri.
*) Tulisan ini merupakan oleh-oleh dari mengikuti Pelatihan Jurnalisme Damai di Manado yang diselenggarakan The British Council Jakarta di bawah asuhan Jake Lynch dan istrinya tahun 2002. ANTARA menyiarkannya pada 19 Oktober 2002.

No comments:
Post a Comment