

Oleh Rahmad Nasution
Tahun 1960-an, Shenzhen bukanlah apa-apa. Daerah yang merupakanbagian dari provinsi
Statusnya pun kecamatan. Saat itu, hanya ada satu gedung berlantai empat dan jalan beraspal di
Gambaran tentang masa lalu Shenzhen itu diungkapkan Mai Tang Yuan, Kabiro kantor berita China, Xinhua di Jakarta yang pernah menetap sekitar tiga bulan di sana tahun 1966 kepada penulis sehari sebelum bertolak ke wilayah itu atas undangan Perhimpunan Perantau Tionghoa yang Kembali cabang Guangdong (GROCA).
Kesaksian Mai tentang masa lalu Shenzhen itu juga diamini Kenny Kwok, warga Hongkong yang ditemui penulis saat transit di kota bekas koloni Inggris itu hari Kamis (6/6) dalam perjalanan menuju Shenzhen bersama sejumlah wartawan Indonesia lainnya untuk melihat geliat wajah baru wilayah itu setelah 20 tahun program modernisasi (mendiang) Deng Xioaping.
Sebelum tahun 1980-an, wilayah yang terletak di pantai Laut Selatan China daratan itu kurang menjanjikan masa depan bagi sekitar 3.000 penduduk aslinya sehingga tidak sedikit di antara mereka yang mengadu nasib ke Hongkong yang ketika itu masih di bawah kekuasaan Inggris.
Banyak warga Shenzhen melarikan diri ke Hongkong untuk mencari penghidupan yang layak dengan cara menyeberangi anak sungai yang menghubungkan kedua daerah itu. Tidak sedikit di antara mereka berenang untuk bisa mencapai daratan Hongkong, kata Mai.
Namun, kondisi itu kini berbalik. Mai yang Maret lalu kembali ke
Bagaimana tidak, perkampungan nelayan yang dulu kumuh itu kini tumbuh menjadi kota besar modern seluas 2.020 kilometer persegi dimana sekitar 80 persen dari lebih dari empat juta penduduknya berasal dari berbagai provinsi di China, katanya.
"Wah, Shenzhen yang saya kunjungi Maret lalu sudah ramai sekali. Gedung-gedung bertingkat dan jalan-jalan bebas hambatan (tol) menjadi pemandangan yang biasa di
Kini, misalnya, tidak sulit menjumpai berbagai hotel berbintang serta kantor cabang bank pemerintah dan asing di
Standard Chartered Bank PLC, Bank of Tokyo-Mitsubishi Ltd., Bank of East Asia Limited, dan Citibank adalah beberapa di antara bank asing yang sejak pertengahan tahun 1980-an beroperasi di sana.
Kenny Kwok yang sehari-hari bekerja sebagai koordinator perjalanan untuk Biro Perjalanan Southsea Tours Ltd di Hongkong menimpali kemajuan Shenzhen dari segi kemudahan transportasi, dengan mengatakan bahwa
Penduduk Hongkong yang dulu enggan ke Shenzhen untuk menghabiskan masa liburan atau sekadar berbelanja dan berobat, beberapa tahun terakhir ini justru menjadikan
Perbedaan harga barang, seperti produk garmen, di Shenzhen dan Hongkong bisa mencapai 40 persen (lebih murah, kata Kwok.
Shenzhen dan Deng Xiaoping
Kemajuan Shenzhen yang kini berstatus "special economic zone" (wilayah ekonomi khusus) di
Kebijakan pintu terbuka bagi perdagangan dan penanaman modal internasional yang secara konsisten dijalankan pemerintahan Deng di akhir era 1970-an itu telah membawa perubahan penting dalam ekonomi, poolitik dan budaya negara berpenduduk lebih dari satu miliar jiwa itu.
Berbeda dengan kebijakan yang pernah diambil Dinasti Qing di masa lalu misalnya, reformasi Pintu Terbuka itu, menurut pakar masalah China, Yuan Wang, terjadi atas prakarsa politik yang penuh pertimbangan dari pemerintah berdaulat, dan bukan karena apa yang disebut diplomasi kapal meriam.
Pintu Terbuka yang diprakarsai Deng itu merupakan kebijaksanaan yang dilakukan secara sadar dengan dukungan sebagian besar rakyat
Rakyat
Begitulah Shenzhen,
Mulai tahun 1980, pemerintah
Ke-14 kota dengan status yang sama dengan Shenzhen itu adalah Dalian, Qinhuangdao, tianjin, yantai, Qingdao, Lianyungang, Nantong, Shanghai, Ningbo, Wenzhou, Fuzhou, Guangzhou, Zhanjiang, dan Beihai.
Secara nasional, kesuksesan
Angka ini adalah (perolehan) yang tertinggi sejak negara China Baru didirikan tahun 1945, dan menunjukkan nilai keseluruhan serta angka pertumbuhan ekspor dan impor tertinggi sejak program reformasi dan kebijakan pintu terbuka dimulai, sebut buku berjudul China: Opening Up and Economic Development yang khusus dicetak pemerintah China untuk KTT APEC (Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik) di Shanghai, Oktober 2001.
Jika Shenzhen, setelah lebih dari 20 tahun berstatus "special economic zone", mampu berubah dari sebuah perkampungan nelayan yang kumuh menjadi kota modern yang megah, bersih, dan hijau, hal itu tidak datang secara kebetulan, melainkan telah melalui proses panjang dan berkesinambungan sebagai buah dari tekad baja (iron will) dan kerja keras.
Simbol kerbau yang patungnya menghiasi halaman depan kantor walikota Shenzhen menyiratkan tekad baja dan ketekunan bekerja para warganya itu, kata Guo Rong Li, manajer proyek Sunny Service Limited perwakilan Zhuhai yang mendampingi rombongan wartawan
*) Tulisan ini merupakan oleh-oleh dari perjalanan jurnalistik ke

No comments:
Post a Comment