Saturday, December 29, 2007

SHENZHEN: MOSAIK MODERNISASI CHINA






Oleh Rahmad Nasution

Tahun 1960-an, Shenzhen bukanlah apa-apa. Daerah yang merupakanbagian dari provinsi Guangdong itu tidak lebih dari sebuah perkampungan nelayan yang sumpek dan kumuh.

Statusnya pun kecamatan. Saat itu, hanya ada satu gedung berlantai empat dan jalan beraspal di sana. Pendek kata, sebelum tahun 1980-an, Shenzhen bukanlah sesuatu yang menarik dan menjanjikan masa depan bagi warganya.

Gambaran tentang masa lalu Shenzhen itu diungkapkan Mai Tang Yuan, Kabiro kantor berita China, Xinhua di Jakarta yang pernah menetap sekitar tiga bulan di sana tahun 1966 kepada penulis sehari sebelum bertolak ke wilayah itu atas undangan Perhimpunan Perantau Tionghoa yang Kembali cabang Guangdong (GROCA).

Kesaksian Mai tentang masa lalu Shenzhen itu juga diamini Kenny Kwok, warga Hongkong yang ditemui penulis saat transit di kota bekas koloni Inggris itu hari Kamis (6/6) dalam perjalanan menuju Shenzhen bersama sejumlah wartawan Indonesia lainnya untuk melihat geliat wajah baru wilayah itu setelah 20 tahun program modernisasi (mendiang) Deng Xioaping.

Sebelum tahun 1980-an, wilayah yang terletak di pantai Laut Selatan China daratan itu kurang menjanjikan masa depan bagi sekitar 3.000 penduduk aslinya sehingga tidak sedikit di antara mereka yang mengadu nasib ke Hongkong yang ketika itu masih di bawah kekuasaan Inggris.

Banyak warga Shenzhen melarikan diri ke Hongkong untuk mencari penghidupan yang layak dengan cara menyeberangi anak sungai yang menghubungkan kedua daerah itu. Tidak sedikit di antara mereka berenang untuk bisa mencapai daratan Hongkong, kata Mai.

Namun, kondisi itu kini berbalik. Mai yang Maret lalu kembali ke sana untuk menikmati masa liburannya menemukan Shenzhen yang sama sekali berbeda.

Bagaimana tidak, perkampungan nelayan yang dulu kumuh itu kini tumbuh menjadi kota besar modern seluas 2.020 kilometer persegi dimana sekitar 80 persen dari lebih dari empat juta penduduknya berasal dari berbagai provinsi di China, katanya.

"Wah, Shenzhen yang saya kunjungi Maret lalu sudah ramai sekali. Gedung-gedung bertingkat dan jalan-jalan bebas hambatan (tol) menjadi pemandangan yang biasa di sana," kata Mai dalam bahasa Indonesia yang lancar.

Kini, misalnya, tidak sulit menjumpai berbagai hotel berbintang serta kantor cabang bank pemerintah dan asing di sana karena tuntutan kemajuan industri kecil, menengah dan besar, termasuk industri teknologi informasi kota itu.

Standard Chartered Bank PLC, Bank of Tokyo-Mitsubishi Ltd., Bank of East Asia Limited, dan Citibank adalah beberapa di antara bank asing yang sejak pertengahan tahun 1980-an beroperasi di sana.

Kenny Kwok yang sehari-hari bekerja sebagai koordinator perjalanan untuk Biro Perjalanan Southsea Tours Ltd di Hongkong menimpali kemajuan Shenzhen dari segi kemudahan transportasi, dengan mengatakan bahwa kota itu kini dapat dengan kereta sekitar 45 menit dan bis sekitar satu jam dari Hongkong.

Penduduk Hongkong yang dulu enggan ke Shenzhen untuk menghabiskan masa liburan atau sekadar berbelanja dan berobat, beberapa tahun terakhir ini justru menjadikan kota tersebut sebagai salah satu daerah tujuan rutin mereka.

Perbedaan harga barang, seperti produk garmen, di Shenzhen dan Hongkong bisa mencapai 40 persen (lebih murah, kata Kwok.

Shenzhen dan Deng Xiaoping

Kemajuan Shenzhen yang kini berstatus "special economic zone" (wilayah ekonomi khusus) di China itu agaknya tidak dapat dilepaskan dari arsitek modernisasi RRC, Deng Xiaoping.

Kebijakan pintu terbuka bagi perdagangan dan penanaman modal internasional yang secara konsisten dijalankan pemerintahan Deng di akhir era 1970-an itu telah membawa perubahan penting dalam ekonomi, poolitik dan budaya negara berpenduduk lebih dari satu miliar jiwa itu.

Berbeda dengan kebijakan yang pernah diambil Dinasti Qing di masa lalu misalnya, reformasi Pintu Terbuka itu, menurut pakar masalah China, Yuan Wang, terjadi atas prakarsa politik yang penuh pertimbangan dari pemerintah berdaulat, dan bukan karena apa yang disebut diplomasi kapal meriam.

Pintu Terbuka yang diprakarsai Deng itu merupakan kebijaksanaan yang dilakukan secara sadar dengan dukungan sebagian besar rakyat China. Sukses besar kebijakan itu, menurut analisa Yuan Wang dkk. (2000), adalah keberhasilan Deng mengoreksi kesalahan menyeluruh.

Rakyat China, katanya, menyadari sepenuhnya bahwa modernisasi industri, penerapan berbagai metode pertanian yang maju, dan pembukaan hubungan dagang internasional merupakan satu-satunya jalan bagi negeri itu untuk menjadi modern dan makmur.

Begitulah Shenzhen, Shanghai, Beijing dan daerah-daerah lain di berbagai provinsi di negeri Tirai Bambu itu terus menggeliat sebagai buah dari program modernisasi Deng.

Mulai tahun 1980, pemerintah China menetapkan Shenzhen, Zhuhai, Shantou, Xiamen dan provinsi Hainan sebagai kawasan ekonomi khusus gelombang pertama. Empat tahun kemudian, Beijing menambah lagi 14 wilayah ekonomi khusus, yakni kota-kota di sepanjang pantai negara seluas 9,6 juta km persegi itu.

Ke-14 kota dengan status yang sama dengan Shenzhen itu adalah Dalian, Qinhuangdao, tianjin, yantai, Qingdao, Lianyungang, Nantong, Shanghai, Ningbo, Wenzhou, Fuzhou, Guangzhou, Zhanjiang, dan Beihai.

Secara nasional, kesuksesan China di bidang ekonomi antara lain dapat dilihat dari pergerakan nilai ekspor dan impor negara itu. Pada awal 2001 misalnya, nilai keseluruhan ekspor-impor China tercatat 474,31 miliar dolar AS (255,1 miliar dolar impor dan 249,21 miliar dolar ekspor).

Angka ini adalah (perolehan) yang tertinggi sejak negara China Baru didirikan tahun 1945, dan menunjukkan nilai keseluruhan serta angka pertumbuhan ekspor dan impor tertinggi sejak program reformasi dan kebijakan pintu terbuka dimulai, sebut buku berjudul China: Opening Up and Economic Development yang khusus dicetak pemerintah China untuk KTT APEC (Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik) di Shanghai, Oktober 2001.

Jika Shenzhen, setelah lebih dari 20 tahun berstatus "special economic zone", mampu berubah dari sebuah perkampungan nelayan yang kumuh menjadi kota modern yang megah, bersih, dan hijau, hal itu tidak datang secara kebetulan, melainkan telah melalui proses panjang dan berkesinambungan sebagai buah dari tekad baja (iron will) dan kerja keras.

Simbol kerbau yang patungnya menghiasi halaman depan kantor walikota Shenzhen menyiratkan tekad baja dan ketekunan bekerja para warganya itu, kata Guo Rong Li, manajer proyek Sunny Service Limited perwakilan Zhuhai yang mendampingi rombongan wartawan Indonesia selama empat hari di kota itu.

*) Tulisan ini merupakan oleh-oleh dari perjalanan jurnalistik ke Shenzhen, China tahun 2002. ANTARA menyiarkannya pada 8 Juni 2002.

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity