
Oleh Rahmad Nasution
Jumat pekan lalu (7/4), langit di atas kota metropolitan Seoul, ibukota Korea Selatan, diselimuti kabut pasir kuning (yellow sand) yang dibawa angin dari daratan China ke Semenanjung Korea.
Namun, gejala alam itu tidak menyurutkan niat ratusan umat Islam dari berbagai bangsa, termasuk belasan pria Muslim negeri itu, menuju satu-satunya masjid yang ada di Seoul, guna mendirikan shalat Jumat berjamaah.
Di masjid berasitektur Arab modern yang terletak di kawasan Itaewon dan dibangun tahun 1976 itu, komunitas Muslim dari berbagai latar belakang budaya, sosial, dan pendidikan berkumpul, setidaknya untuk melakukan shalat Jumat berjamaah.
Di antara ratusan jamaah yang memadati ruang utama masjid yang berdiri megah di atas bukit salah satu kawasan perdagangan di metropolitan
Suara azan, seperti Jumat-Jumat sebelumnya di musim semi ini, mulai dikumandangkan tepat pukul 13:00 waktu setempat (atau pukul 11:00 WIB). Kebetul yang bertindak sebagai muazzin hari itu adalah M.Zaenuri, staf KBRI Seoul.
Seperti tradisi shalat Jumat di banyak masjid di
Apa yang khas dalam khutbah itu? Kekhasannya agaknya tidak dalam isi, melainkan dalam bahasa yang digunakan.
Di sini setiap khatib, terlepas dari latar belakang bangsa, selalu menyampaikan khutbah Jumat-nya dalam dua bahasa -
Khutbah pertama biasanya disampaikan dalam bahasa setempat, sedangkan khutbah kedua adalah terjemahan dari isi khutbah pertama dan disampaikan dalam bahasa Inggris.
Jumat pekan lalu itu, Khatib Sulaiman Lee Haeng Lae, tokoh Muslim setempat, bertindak sebagai khatib dan imam. Dalam khutbahnya, ia mengingatkan umat Islam, termasuk Muslim Korea, agar memperkuat Ukhuwah Islamiyah.
Persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) itu, katanya, ibarat sebuah dinding beton yang dibangun dari susunan batubata yang rapi dan kokoh.
Sulaiman pun menyinggung tentang 41 orang Muslim setempat yang diundang pemerintah Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji tahun ini. "Alhamdulillah, semuanya kembali dengan selamat," tuturnya.
Bagi Muslim Korea Selatan, musim haji tahun ini memberi makna tersendiri karena sepanjang sejarah keberadaan Muslim di negeri berpenduduk kurang dari 50 juta jiwa dan mayoritas beragama Kristen dan Buddha ini, jumlah itu adalah yang terbesar.
"Mereka (yang menunaikan ibadah haji itu) kini telah memiliki kebanggaan sebagai Muslim dan semua itu menambah keimanan mereka," kata Sulaiman.
20 ribu
Diperkirakan di seluruh Korea kini terdapat sedikitnya 20 ribu umat Islam dengan enam masjid yang tersebar di kota Seoul, Chun-ju, Anyong, Pusan, Kwangju, dan Manchon.
Sejarah datangnya Islam di negeri yang kini dipimpin Presiden Kim-Dae Jung itu kabarnya dibawa oleh orang-orang
Setelah Perang Dunia II usai, mereka pulang ke kampung halamannya, namun, seperti yang tertulis dalam situs "Muslim Communities of the World", mereka tidak menemukan tempat untuk beribadah.
Baru setelah kontingen pasukan PBB dari Turki tiba di negeri itu selama Perang
Dua tahun setelah perang usai, komunitas Muslim Korea Selatan resmi berdiri menyusul berlangsungnya pemilihan imam pertama dari kalangan mereka, dan 12 tahun setelah itu, Federasi Muslim Korea dibentuk.
Kini, diperkirakan jumlah Muslim di negeri yang tahun lalu mencatat pertumbuhan ekonomi lebih dari sembilan persen itu mencapai lebih dari 20 ribu orang.
Namun tidak banyak dari jumlah itu yang sudah sepenuhnya memahami dan menjalankan ajaran Islam, seperti shalat wajib lima waktu, secara benar, kata tokoh Muslim setempat, Abdulrazaq Hae-ju Kim, kepada ANTARA.
"Siar dakwah harus terus jalan di sini. Warga
"Kami tidak hanya membutuhkan gedung buat madrasah, tetapi juga para dai dari kalangan Muslim Korea sendiri yang mampu tulis baca Al Quran dan sangat memahami kitab-kitab suci agama lain sehingga mereka mampu menerangkan kebenaran Islam secara baik," katanya.
Umumnya umat Islam
"Federasi Muslim Korea seharusnya menyikapi problema ini secara serius karena para muallaf di sini masih butuh bantuan dalam memahami ajaran Islam secara benar," katanya mengharapkan.
Abdulrazaq yang memeluk Islam sejak 1981 itu menunjuk jumlah Muslim Korea yang datang ke Masjid Seoul untuk menunaikan ibadah shalat Jumat berjamaah setiap minggunya.
"Jumlah saudara Muslim yang datang ke sini amat menyedihkan dibandingkan dengan angka statistik umat Islam
*) dari kunjungan ke

No comments:
Post a Comment