Sunday, December 30, 2007

JUMAT DI MASJID SEOUL DAN PROBLEMA DAKWAH MUSLIM KORSEL


Oleh Rahmad Nasution

Jumat pekan lalu (7/4), langit di atas kota metropolitan Seoul, ibukota Korea Selatan, diselimuti kabut pasir kuning (yellow sand) yang dibawa angin dari daratan China ke Semenanjung Korea.

Namun, gejala alam itu tidak menyurutkan niat ratusan umat Islam dari berbagai bangsa, termasuk belasan pria Muslim negeri itu, menuju satu-satunya masjid yang ada di Seoul, guna mendirikan shalat Jumat berjamaah.

Di masjid berasitektur Arab modern yang terletak di kawasan Itaewon dan dibangun tahun 1976 itu, komunitas Muslim dari berbagai latar belakang budaya, sosial, dan pendidikan berkumpul, setidaknya untuk melakukan shalat Jumat berjamaah.

Di antara ratusan jamaah yang memadati ruang utama masjid yang berdiri megah di atas bukit salah satu kawasan perdagangan di metropolitan Seoul itu, tampak sejumlah tenaga kerja, mahasiswa asal Indonesia, dan staf KBRI Seoul.

Suara azan, seperti Jumat-Jumat sebelumnya di musim semi ini, mulai dikumandangkan tepat pukul 13:00 waktu setempat (atau pukul 11:00 WIB). Kebetul yang bertindak sebagai muazzin hari itu adalah M.Zaenuri, staf KBRI Seoul.

Seperti tradisi shalat Jumat di banyak masjid di Indonesia, di Masjid Raya Seoul ini, azan pun dikumandangkan dua kali. Lalu, seorang khatib menyampaikan khutbahnya selama sekitar 30 menit sebelum mengimami shalat.

Apa yang khas dalam khutbah itu? Kekhasannya agaknya tidak dalam isi, melainkan dalam bahasa yang digunakan.

Di sini setiap khatib, terlepas dari latar belakang bangsa, selalu menyampaikan khutbah Jumat-nya dalam dua bahasa - Korea dan Inggris.

Khutbah pertama biasanya disampaikan dalam bahasa setempat, sedangkan khutbah kedua adalah terjemahan dari isi khutbah pertama dan disampaikan dalam bahasa Inggris.

Jumat pekan lalu itu, Khatib Sulaiman Lee Haeng Lae, tokoh Muslim setempat, bertindak sebagai khatib dan imam. Dalam khutbahnya, ia mengingatkan umat Islam, termasuk Muslim Korea, agar memperkuat Ukhuwah Islamiyah.

Persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) itu, katanya, ibarat sebuah dinding beton yang dibangun dari susunan batubata yang rapi dan kokoh.

Sulaiman pun menyinggung tentang 41 orang Muslim setempat yang diundang pemerintah Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji tahun ini. "Alhamdulillah, semuanya kembali dengan selamat," tuturnya.

Bagi Muslim Korea Selatan, musim haji tahun ini memberi makna tersendiri karena sepanjang sejarah keberadaan Muslim di negeri berpenduduk kurang dari 50 juta jiwa dan mayoritas beragama Kristen dan Buddha ini, jumlah itu adalah yang terbesar.

"Mereka (yang menunaikan ibadah haji itu) kini telah memiliki kebanggaan sebagai Muslim dan semua itu menambah keimanan mereka," kata Sulaiman.

20 ribu

Diperkirakan di seluruh Korea kini terdapat sedikitnya 20 ribu umat Islam dengan enam masjid yang tersebar di kota Seoul, Chun-ju, Anyong, Pusan, Kwangju, dan Manchon.

Sejarah datangnya Islam di negeri yang kini dipimpin Presiden Kim-Dae Jung itu kabarnya dibawa oleh orang-orang Korea sendiri yang pindah ke Mancuria di bawah kendali penjajah Jepang pada awal abad 20.

Setelah Perang Dunia II usai, mereka pulang ke kampung halamannya, namun, seperti yang tertulis dalam situs "Muslim Communities of the World", mereka tidak menemukan tempat untuk beribadah.

Baru setelah kontingen pasukan PBB dari Turki tiba di negeri itu selama Perang Korea berkecamuk dan mengajak para Muslim Korea itu bergabung menunaikan ibadah.

Dua tahun setelah perang usai, komunitas Muslim Korea Selatan resmi berdiri menyusul berlangsungnya pemilihan imam pertama dari kalangan mereka, dan 12 tahun setelah itu, Federasi Muslim Korea dibentuk.

Kini, diperkirakan jumlah Muslim di negeri yang tahun lalu mencatat pertumbuhan ekonomi lebih dari sembilan persen itu mencapai lebih dari 20 ribu orang.

Namun tidak banyak dari jumlah itu yang sudah sepenuhnya memahami dan menjalankan ajaran Islam, seperti shalat wajib lima waktu, secara benar, kata tokoh Muslim setempat, Abdulrazaq Hae-ju Kim, kepada ANTARA.

"Siar dakwah harus terus jalan di sini. Warga Korea yang telah memeluk Islam itu harus terus dibimbing sehingga mereka menjadi Muslim yang baik," katanya, "Persoalan dakwah yang kami hadapi amatlah kompleks."

"Kami tidak hanya membutuhkan gedung buat madrasah, tetapi juga para dai dari kalangan Muslim Korea sendiri yang mampu tulis baca Al Quran dan sangat memahami kitab-kitab suci agama lain sehingga mereka mampu menerangkan kebenaran Islam secara baik," katanya.

Umumnya umat Islam Korea bukan mereka yang "terlahir Islam" seperti banyak saudara mereka di Indonesia, melainkan mereka memeluk Islam melalui proses dakwah yang panjang. "Sayangnya, proses dakwah itu sering macet setelah banyak di antara mereka mengucapkan dua kalimah syahadat," kata ayah dua putri itu.

"Federasi Muslim Korea seharusnya menyikapi problema ini secara serius karena para muallaf di sini masih butuh bantuan dalam memahami ajaran Islam secara benar," katanya mengharapkan.

Abdulrazaq yang memeluk Islam sejak 1981 itu menunjuk jumlah Muslim Korea yang datang ke Masjid Seoul untuk menunaikan ibadah shalat Jumat berjamaah setiap minggunya.

"Jumlah saudara Muslim yang datang ke sini amat menyedihkan dibandingkan dengan angka statistik umat Islam Korea yang katanya mencapai lebih dari 20 ribu orang itu," katanya.

*) dari kunjungan ke Seoul tahun 2000. Tulisan ini disiarkan ANTARA pada 11 April 2000.

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity