Saturday, December 29, 2007

INDONESIA YANG "ABSEN" DI ANTARA UNIVERSITAS TERBAIK DUNIA


Oleh Rahmad Nasution

Jika universitas di Indonesia masih mampu melahirkan tokoh sekaliber Munir, pejuang hak asasi manusia yang jujur, sederhana, dan bersahaja dengan reputasi internasional yang membanggakan bangsa, tampaknya prestasi itu merupakan sebuah pengecualian.

Disebut pengecualian karena kemampuan universitas di Tanah Air melahirkan tokoh-tokoh besar dengan reputasi regional dan global yang mumpuni di bidangnya itu belumlah menjadi fenomena umum.

Dibandingkan dengan prestasi yang telah dicapai banyak perguruan tinggi di negara-negara tetangga Indonesia, seperti Singapura dan Australia, universitas-universitas negeri dan swasta di Tanah Air tampak masih jauh tertinggal.

Ketertinggalan ini diakui dan sempat diingatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya di acara peringatan HUT Universitas Airlangga (Unair) dan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) beberapa waktu lalu.

Hal itu semakin nyata kalau melihat perankingan perguruan tinggi di tingkat Asia maupun dunia yang dilakukan beberapa lembaga pers terkemuka, seperti Asiaweek (ketika masih beroperasi) dan suratkabar The Times dalam suplemen pendidikan tingginya.

Jika Majalah Asiaweek dalam perankingan yang diterbitkannya tahun 1999 dan 2000 masih memperhitungkan eksistensi beberapa perguruan tinggi papan atas Indonesia, The Times Higher Education Supplement sama sekali menafikan keberadaan mereka.

Kini tak tampak nama-nama universitas negeri yang selama ini dianggap berbagai kalangan sebagai 'pusat keunggulan' (centers of excellence) Indonesia, semisal Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Pertanian Bogor, di antara 100 perguruan tinggi terbaik dunia versi The Times.

Perguruan-perguruan tinggi Asia yang masuk 50 terbaik dunia berdasarkan survei suratkabar Inggris ini hanya diwakili Jepang, Singapura, China, dan India.

Prestasi Jepang itu diwakili Universitas Tokyo dan Kyoto yang masing-masing berada di urutan 12 dan 29; Singapura oleh NUS dan Universitas Teknologi Nanyang (18 dan 50); China oleh Universitas Beijing, Universitas Hong Kong, dan Universitas Sains dan Teknologi Hong Kong yang berada di urutan 17, 39 dan 42, sedangkan India diwakili Institut Teknologi India yang bertengger di urutan 41 dunia dengan skor 241,7 dari 1.000 total poin penilaian.

Dari semua itu, sepuluh terbaik pertama masih didominasi universitas-universitas di Amerika Serikat (AS) dan Inggris di mana urutan pertama hingga lima ditempati Harvard, California, Berkeley, MIT, dan CalTech, disusul dua universitas beken Inggris, Oxford dan Cambridge. Selanjutnya urutan delapan hingga sembilan kembali ditempati perguruan-perguruan tinggi di AS -- Stanford, Yale, dan Princeton.

Sementara, Australia, negara tetangga Indonesia yang kini menjadi tujuan belajar sekitar 25 ribu warga Indonesia itu, berhasil menempatkan 11 universitasnya di antara 100 besar perguruan tinggi terbaik dunia.

Ke-11 perguruan tinggi Australia itu adalah ANU (16), Universitas Melbourne (22), Universitas Monash (33), UNSW (36), Universitas Sydney (40), Universitas Queensland (49), RMIT (55), Universitas Adelaide (56), Universitas Macquiarie (68), Universitas Curtin (76), dan Universitas Australia Barat (96).

Perankingan yang diterbitkan The Times awal November 2004 dan hasilnya dapat diakses melalui situs www.thes.co.uk itu bukan tanpa kontroversi dan tidak sepenuhnya diterima kalangan perguruan tinggi. Rektor Universitas Nasional Australia (ANU), Ian Chubb, misalnya, mengeritik hasilnya.

Seperti dikutip Colin Steele dalam artikelnya berjudul 'Ranking mania reflects distortion of priorities' di Harian The Australian edisi 10 November 2004, Chubb mengatakan, "Semua perankingan itu tidak sempurna. Mereka mencampur-adukkan variabel-variabel yang berbeda."

Pro-kontra dan pelajaran

Namun, terlepas dari pro-kontra di seputar perankingan tersebut, pemerintah bersama pengelola perguruan tinggi di Indonesia tampaknya tetap bisa menarik pelajaran daripadanya.

Terlebih lagi, adalah sebuah kenyataan bahwa perguruan tinggi papan atas dunia itu umumnya merupakan universitas berbasis riset yang selain memberi kontribusi besar pada pengembangan sains dan teknologi melalui publikasi hasil risetnya di jurnal-jurnal ilmiah internasional, juga menghasilkan lulusan bermutu yang diakui pasar kerja global.

Universitas Queensland yang dinilai Melbourne Institute dalam surveinya tahun 2004 (http://melbourneinstitute.com) sebagai perguruan tinggi terbaik ke-empat di Australia setelah ANU, Universitas Melbourne, dan Universitas Sydney, termasuk 'kelompok delapan' (Group of Eight) atau delapan universitas yang berbasis riset penuh di negeri kangguru itu.

Didukung berbagai fasilitas riset bertaraf dunia, seperti Queensland Bioscience Precinct (QBP) senilai 105 juta dolar Australia dan menjadi tempat beroperasinya Lembaga Biosains Molekuler (IMB) Australia, UQ memperkuat basis penelitiannya dengan merekrut sedikitnya 457 doktor dan 3.400 mahasiswa doktoral (PhD) dan MPhil.

Universitas yang dibangun tahun 1910 dan kini diperkuat 2.415 staf pengajar penuh dan 33.946 mahasiswa dari 124 negara termasuk 2.775 mahasiswa PhD itu mencatat sejumlah prestasi gemilang dalam riset dan performa alumninya.

Di antara para alumni universitas yang kini mengasuh lebih dari 400 program studi dan 6.000 mata kuliah ini, ada yang tercatat sebagai pemenang Nobel, peraih Academy Award, gubernur jenderal, dan gubernur negara bagian.

Apa yang dicapai berbagai perguruan tinggi papan atas dunia itu tidaklah datang secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil kerja keras berbagai pihak, khususnya civitas akademika, pemerintah dan kalangan industri selaku pengguna hasil-hasil penelitian mereka.

Menurut Ketua Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di UQ (UQISA), Nur Iswanto, apa yang sudah dan akan terus dicapai berbagai perguruan tinggi di Australia itu pun merupakan hasil kerja keras dan dukungan konkret berbagai kalangan yang menjadi 'pemegang saham' universitas.

Di dalam kampus sendiri, para staf akademik yang berada di garis depan proses belajar-mengajar dan penelitian memiliki dedikasi yang tinggi terhadap mahasiswa dan pengembangan sains dan teknologi, seperti yang ia sendiri rasakan di UQ.

"Bahkan, orang yang disebut 'head of school' atau ketua jurusan teknik kimia UQ masih menyempatkan dirinya untuk membimbing secara aktif para mahasiswa," kata aktivis kampus asal Yogyakarta ini.

Di jurusan teknik kimia yang menjadi tempatnya menimba ilmu itu, dua orang profesor, termasuk sang ketua jurusan, seorang asosiet profesor, dan empat mahasiswa PhD setiap Jumat bertemu untuk mendiskusikan laporan kemajuan riset para mahasiswa dan hal-hal lain yang terkait dengan hasil penelitian di bidang yang mereka geluti.

"Di Tanah Air, hal seperti ini belum mentradisi. Bahkan, sungkan mendebat profesor masih kuat dalam budaya akademik kampus-kampus kita. Padahal, profesor itu kan manusia biasa yang tetap bisa salah," kata Nur.

Apakah gaji menjadi sebab utama lemahnya dedikasi dosen di banyak perguruan tinggi di Indonesia? Alumnus UGM dan UNSW itu menampik hal ini.

Persoalannya, menurut dia, lebih pada belum berjalannya prinsip 'penghargaan dan hukuman' (reward and punishment) secara benar, khususnya di lembaga pendidikan tinggi negeri.

Di Indonesia, misalnya, dosen yang rajin dan yang malas tetap sama-sama menerima gaji.

"Kalau di UQ, seorang staf akademik bisa didegradasi atau kontrak kerjanya diputus pihak universitas kalau performa akademik mereka dalam kegiatan belajar-mengajar dan penelitian yang diukur dari publikasi karya ilmiahnya rendah," katanya.

Tak ada pilihan lain bagi pemerintah, pengelola perguruan tinggi, dan berbagai 'stake holders' universitas di Tanah Air kecuali secara terus-menerus membenahi diri guna mengejar ketertinggalan ini, kata Nur.

*) tulisan disiarkan ANTARA pada 7 Nov 2004

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity