
Oleh Rahmad Nasution
Invasi disusul pendudukan Amerika Serikat (AS) terhadap Irak yang dimulai Maret 2003 kembali menjadi isu hangat menyusul penilaian Presiden Prancis Jacques Chirac bahwa aksi sepihak itu telah membuat dunia semakin tidak aman.
Penilaian Chirac ini seolah-olah menjadi antitesa dari apa yang secara konsisten diyakini Presiden George W.Bush selama ini.
Bush berkeyakinan bahwa invasi itu telah membuat dunia semakin aman, walaupun tuduhan pemerintahnya bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal dan telah membantu Al Qaidah dalam insiden 11 September 2001 sama sekali tidak pernah terbukti.
Adalah Prancis dan Jerman yang sejak awal sangat keras menentang rencana invasi Amerika ini. Karena dongkol dengan sikap kedua sekutu Eropa-nya ini,
Rakyat Amerika yang pro-rezim perang di Gedung Putih pun tidak tinggal diam. Mereka menumpahkan kedongkolannya terhadap Prancis dengan mengubah sebutan "French fries" untuk kentang goreng di restoran-restoran cepat saji mereka, seperti Kentucky Fried Chicken dan McDonald, dengan sebutan lain.
Kendati tidak menampik sisi positif yang mungkin ada dari kejatuhan rezim Saddam Hussein sebagai hasil langsung dari invasi itu, Chirac dalam wawancaranya dengan BBC menjelang kunjungannya ke Inggris baru-baru ini tetap berpendirian bahwa dunia semakin berbahaya akibat invasi AS yang telah menewaskan belasan ribu jiwa rakyat Irak tak berdosa itu.
Pandangan orang nomor satu Prancis ini sejalan dengan penilaian mantan ketua tim Pengawas Persenjataan PBB, Hans Blix, yang disampaikannya dalam wawancara khususnya dengan Reuters di Stockholm, pada 13 Oktober lalu.
Tokoh yang kini mengetuai Komisi Senjata Pemusnah Massal Swedia itu secara tegas menyebut invasi Amerika terhadap negeri Muslim penghasil minyak kedua terbesar dunia itu telah memicu semakin suburnya terorisme.
Bahkan, Blix mengatakan, aksi itu gagal mengubur ambisi
Seperti halnya Chirac, Blix pun melihat sisi positif invasi itu tidak lebih dari sekadar jatuhnya Saddam dari tampuk kekuasaannya. Namun aksi sepihak yang menjadi bagian dari kampanye rezim Bush memerangi apa yang disebutnya terorisme itu justru telah memicu berkembangnya terorisme.
Invasi itu pun, menurut Blix, tidak pula membantu proses penyelesaian konflik Timur Tengah. Dalam aksi terorisme yang dimotivasi oleh invasi Amerika di Irak ini, kelompok teroris tidak memilah-milah negara yang menjadi sasaran serangan mereka.
Betapa tidak, belum lagi kering darah belasan korban yang tewas dan ratusan lainnya yang terluka dalam serangan teroris terhadap gedung Kedutaan Besar Australia di Jakarta 9 September 2004, kembali Indonesia dikejutkan oleh kabar penculikan terhadap warganya di Irak dan insiden serangan bom di gedung Kedibes RI di Paris.
Sementara di Irak sendiri, aksi-aksi kekerasan, seperti serangan bom bunuh diri, penculikan dan pembunuhan terhadap 'siapa saja' yang dituduh jadi pelaku teror sebagai kolaborator AS, seakan tak pernah berhenti walau sejenak.
Ketidakwajaran Amerika
Jika dengan fakta empiris ini, Presiden Bush masih kukuh dengan keyakinannya bahwa dunia semakin aman akibat invasinya ke Irak, agaknya ada sesuatu yang tak wajar dengan ukuran keberhasilan yang dipakai Bush dan rezimnya dalam menilai situasi keamanan global.
Hanya saja, ketidakwajaran menurut logika komunitas internasional seperti diwakili oleh pandangan Blix dan Chirac ini sama sekali tidak menjadi pertimbangan para pemilih Bush dalam pemilihan presiden AS beberapa waktu lalu.
Buktinya, Bush kembali terpilih, dan, seperti dikatakan mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad, warga dunia, khususnya umat Islam, harus kembali siap dinista Bush dalam empat tahun ke depan.
Berkaitan dengan kriteria yang kerap dipakai pemerintah AS dalam menilai keberhasilan aksi militernya terhadap negara lain, akademisi terkemuka, Johan Galtung, sempat menyinggung hal itu dalam artikelnya yang dimuat dalam buku suntingan Stig A. Nohrstedt dan Rune Ottosen, "US and the Others: Global Media Images on the War on Terror" (Nordicom 2004: 57-76).
Dalam artikel berjudul "USA, the West, and the Rest After September 11 and October 7, 2001" itu, Galtung mengatakan, ukuran keberhasilan invasi AS ke Afghanistan misalnya, adalah keluarnya Al Qaidah dari negara Asia Selatan itu, tumbangnya rezim Taliban, dan tidak adanya korban jiwa di pihak militer Amerika.
Orientasi keberhasilan yang dipakai rezim Bush yang cenderung 'self-centered' ini sama sekali mengabaikan fakta lain di mana invasi tersebut telah menewaskan 5.000 warga
Akibatnya, menurut Galtung, invasi AS ke Afghanistan yang menjadi awal dari kampanye perang panjang melawan apa yang disebut Gedung Putih sebagai terorisme itu gagal total dilihat dari kacamata 'analisa rasional untuk aksi damai dan jurnalisme damai'.
Bagaimana dengan invasinya di Irak? Tampaknya, ukuran penilaian yang digunakan Gedung Putih pun setali tiga uang, yakni tumbangnya rezim Saddam Hussein tanpa mengindahkan kenyataan pahit dari sebuah perang.
Seperti juga diakui Blix dan Chirac, invasi itu telah berhasil menghentikan kekuasaan Saddam Hussein yang berlumuran darah warga minoritas Kurdi dan para tahanan politik Irak.
Namun, aksi militer sepihak Amerika itu telah membuat dunia semakin tidak aman, dan belasan ribu warga Irak, termasuk anak-anak, orang-orang tua, kaum wanita dan para pemuda, tewas akibat kekejaman perang yang disulut Bush.
*) disiarkan ANTARA pada 22 November 2004

No comments:
Post a Comment