Saturday, December 29, 2007

DIALOG ANTARAGAMA DAN KEARIFAN GLOBAL


Oleh Rahmad Nasution

Dialog antaragama yang diikuti 124 pemuka agama dari 14 negara di Yogyakarta selama dua hari mulai 6 Desember 2004 agaknya merupakan awal yang baik untuk memenangi 'perang' melawan radikalisme umat beragama.

Dalam dialog tentang kerjasama antaragama yang diikuti pemuka 10 agama dan kepercayaan dari 10 negara anggota ASEAN, Australia, Papua New Guinea, Selandia Baru, dan Timor Timur ini, terorisme kembali menjadi tema utamanya.

Suka tidak suka, Islam tampaknya menjadi sorotan utama dalam dialog yang diharapkan menjadi 'agenda global' ini karena isu terorisme cenderung dikaitkan oleh umumnya pemerintah dan media massa Barat dengan agama yang kini dianut lebih dari 1,3 miliar orang ini.

Upaya pengaitan ini semakin menjadi-jadi setelah terjadinya serangkaian serangan bunuh diri ke jantung kekuasaan ekonomi dan pertahanan Amerika Serikat (AS) pada 11 September 2001 yang dituduh Gedung Putih dan kemudian 'diakui' Usamah bin Ladin dilakukan Al Qaidah.

Sejak tragedi 11 September 2001 yang berbuah invasi AS dan sekutunya, termasuk Australia, ke Afghanistan dan Irak ini telah membuka mata dunia pada ancaman apa yang dalam studi terorisme dan kontra-terorisme kerap disebut 'Islamist terrorism'.

Apa yang dimaksud dengan 'Islamist' dalam konteks ini tampak sangat longgar sebagaimana terlihat dari definisi yang diberikan John C.Zimmerman (2004:223).

Menurut dia, 'Islamist' adalah setiap orang yang ingin memimpin negara berdasarkan Syariat (hukum) Islam.

Ia lantas memberikan definisi 'radical Islamist' sebagai 'seseorang yang ingin mengubah dengan kekerasan pemerintahan yang ada untuk membentuk masyarakat yang diperintah berdasarkan Syariah Islam.'

Apa yang disampaikan Zimmerman dalam artikelnya "Sayyid Qutb's Influence on the 11 September Attacks" (Pengaruh (Pemikiran) Sayyid Qutb pada Serangan 11 September) yang diterbitkan Jurnal 'Terrorism and Political Violence 16 (2), 2004, hal.222-252 itu merupakan salah satu bukti betapa Islam rentan dikaitkan dengan radikalisme dan terorisme.

Padahal Islam merupakan agama Samawi yang penuh damai dan anti kekerasan, kendati tetap mengakui eksistensi 'perang' karena perang, seperti pernah dikatakan Dr.Hammudah Abdalati (kini sudah meninggal), adalah 'fakta kehidupan manusia'.

"Apakah kita menginginkannya ataupun tidak, perang adalah sebuah kepentingan eksistensi, fakta hidup selama dunia tetap diwarnai ketidakadilan, penindasan, ambisi yang membabi-buta dan klaim-klaim tak berdasar," kata sosiolog Muslim yang pernah mengajar di Universitas Syracuse sebelum ia wafat pada September 1976 itu.

Namun, Abdalati (1980:143) mengingatkan, "Perang sama sekali bukan tujuan Islam dan tabiat Muslim melainkan pilihan terakhir dan digunakan dengan sejumlah syarat yang sangat ketat seandainya semua upaya damai guna mencegah perang gagal".

Radikalisme dan terorisme yang dilakukan kelompok kecil di antara arus besar moderat umat beragama, termasuk Islam, tidak dengan sendirinya tumbuh.

Ketua Umum Muhammadiyah, Syafii Ma'arif, mengingatkan para peserta dialog antaragama yang digagas Australia bersama Indonesia ini bahwa aksi terorisme baru dapat diredam jika terorisme yang disponsori negara dihentikan (Kompas, edisi 7 Desember 2004).

Pandangan Syafii ini sejalan dengan apa yang pernah disampaikan Tb.Ronny Rahman Nitibaskara, dosen Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) sehari setelah terjadinya serangan bom mobil di luar Kedubes Australia di Jakarta.

Menurut dia, akar penyebab tumbuhnya terorisme Islam ini tidak dapat dilepaskan dari arogansi Amerika dan sekutunya dalam pergaulan internasional (Kompas 10 September 2004).

Karena akar penyebabnya yang bersifat global ini, menurut Ronny, solusi atas masalah terorisme pun bersifat global. Jika AS dan sekutunya tidak menyadari hal ini, keberhasilan mereka menghancurkan apa yang mereka disebut 'teroris' itu hanya akan memicu lahirnya teroris-teroris baru, kata Ronny.

Dalam konteks ini, dialog antaragama yang diharapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dapat menumbuhkan 'agama sebagai kekuatan perdamaian' ini diikuti juga oleh kearifan global dari semua bangsa yang menginginkan perdamaian.

Amerika dan sekutunya yang selama ini berperan aktif dalam memerangi terorisme, termasuk melalui invasi dan agresi seperti yang telah merekapertontonkan kepada publik dunia di Afghanistan dan Irak agaknya dituntut mampu menunjukkan 'kearifan globa' itu, sebagaimana pernah diingatkan sutradara kondang Amerika, Michael Moore: "Kalau ingin memerangi teroris, jangan jadi teroris".

*) Tulisan ini disiarkan ANTARA pada 7 November 2004

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity