Saturday, December 29, 2007

BRISBANE YANG MEMANJAKAN PEJALAN KAKI DAN PENGENDARA SEPEDA



Oleh Rahmad Nasution

Menemukan trotoar atau jalur khusus bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda di kota-kota besar Indonesia, termasuk Jakarta, nyaris seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Namun, tidak demikian halnya dengan kota-kota di Australia.

Penduduk di berbagai kota besar dan kecil di negara benua berpenduduk sekitar 20 juta jiwa itu telah lama menikmati fasilitas itu. Di antara kota Australia yang tampak memanjakan pejalan kaki dan pengendara sepedanya itu adalah Brisbane.

Di kota ketiga terbesar Australia yang terkenal dengan Roma Parkland, taman hutan subtropis terbesar di dunia yang dibangun di tengah kota itu, trotoar dan jalur khusus bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda sudah menjadi pemandangan yang jamak di ibukota Negara Bagian Queensland itu.

Warga kota yang kini dihuni kurang dari dua juta jiwa dan menjadi tempat berdirinya ratusan taman itu tampak dimanjakan oleh pemerintah daerahnya dengan fasilitas yang memungkinkan mereka menikmati hidup tanpa khawatir dengan 'keberingasan' lalu lintas kendaraan bermotor.

Bagi warga yang ingin menikmati keindahan pinggir Sungai Brisbane yang membelah wilayah kota ini, mereka dapat melakukannya dengan berjalan kaki santai, bersepatu roda, atau bersepeda.

Hal ini pula yang dialami Sisunandar, warganegara Indonesia yang sejak awal 2004 menetap di Distrik St.Lucia ini.

Pemuda asal Jawa Tengah yang sedang melanjutkan studi doktornya di Universitas Queensland (UQ) ini mengatakan, ia sangat tertolong dengan adanya jalur khusus pejalan kaki dan pengendara sepeda itu.

"Setiap hari saya bersepeda dan saya menikmatinya," kata ayah satu putra yang pernah bersepeda dari rumahnya di jalan Sandford hingga ke kampus Universitas Teknologi Queensland (QUT) itu.

Ia mengatakan, jalur khusus pejalan kaki dan pengendara sepeda yang dibangun berkilo-kilometer panjangnya, baik di sisi kiri maupun kanan sungai yang masih menyisakan taman hutan bakau itu tidak pernah ia jumpai di Tanah Air.

Jalur-jalur khusus yang ada di Brisbane itu tidak hanya berupa jalan beraspal dengan tanda gambar orang jalan atau sepeda di atasnya, namun ada juga yang berupa jalan berlantai kayu dengan tiang-tiang baja yang menghujam dasar pinggir sungai.

Jalan berlantai kayu ini antara lain dapat ditemui di dekat kompleks Perpustakaan Daerah Queensland, Museum Seni dan Museum Daerah Queensland yang menjadi bagian inti kota Brisbane dengan latar belakang jembatan Victoria, jalan-jalan bebas hambatan dan gedung-gedung bertingkat.

Para warga kota yang suka jalan santai atau bersepeda dapat menikmati hari-hari senjang mereka bersama keluarga di kawasan wisata pinggir Sungai Brisbane yang dikenal dengan South Bank itu.

Di kawasan yang dikunjungi lebih dari 50.000 orang pejalan kaki dan pengendara sepeda setiap minggunya itu, beberapa halte bis yang melayani beragam rute tersedia sehingga memudahkan warga yang merasa capai untuk pulang dengan kendaraan umum.

Bagi pengendara sepeda yang tidak lagi merasa sanggup pulang dengan mengayuh sepedanya, mereka cukup menunggu bis dengan fasilitas angkutan sepeda di depannya. Mereka pun bisa memilih pulang dengan kereta api kota.

Di kawasan 'wisata kota' yang dikunjungi sekitar sembilan juta orang setiap tahunnya itu, warga Brisbane tidak hanya dapat menikmati pesona taman seluas 17 hektare yang dilengkapi fasilitas barbeque, piknik keluarga dan permainan anak-anak, hutan subtropis buatan, maupun pantai pasir putih buatan sambil berenang atau sekadar berjemur.

Mereka pun dapat mengunjungi belasan restoran yang menawarkan beragam menu makanan internasional, berbagai museum, perpustakaan, dan kebun raya dalam kota yang lokasinya berdampingan dengan kompleks Kampus QUT Garden Point dan gedung Parlemen Queensland berasitektur Eropa itu.

Semua fasilitas rekreasi itu dapat diakses dengan berjalan kaki dan bersepeda. "Nikmat sekali kalau apa yang bisa kita nikmati di sini juga dikembangkan di kota-kota kita di Tanah Air," kata Sunandar.

*) tulisan ini disiarkan ANTARA pada 21 Desember 2004

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity