Thursday, June 4, 2009

AUSTRALIA BERHARAP GARUDA TERBANGI LAGI DARWIN JULI 2009

Pemerintah negara bagian Northern Territory (NT), Australia, berharap maskapai penerbangan Garuda Indonesia dapat melayani kembali rute penerbangan Darwin-Denpasar mulai Juli 2009.

Harapan itu terungkap dalam pembincangan santai Menteri Hubungan Asia NT, Christopher Bruce Burns, dengan Konsul RI Darwin, Harbangan Napitupulu, dalam acara makan siang bersama di sebuah restoran "Skycity Hotel" Darwin, Kamis.

"Pemerintah negara bagian Northern Territory sangat ingin bergerak cepat dan berharap Garuda mudah-mudahan sudah kembali bisa terbang dari Darwin Juli ini," kata Sekretaris II Fungsi Pensosbud Konsulat RI Darwin, Arvinanto Soeriaatmadja.

Kepada ANTARA menghubunginya dari Brisbane, Arvinanto mengatakan, dalam acara makan siang itu, Chris Burns yang didampingi Penasehatnya, Pompea Sweet, kembali memaparkan hasil pertemuan dirinya dengan Meneg BUMN Sofyan Djalil dan sejumlah pihak terkait lainnya di Jakarta 8 Mei lalu.

Pertemuan 8 Mei itu sendiri menyepakati pembentukan tim teknis bersama yang akan mengkaji perihal rute penerbangan Denpasar-Darwin Garuda, katanya.

Arvinanto mengatakan, tim teknis pemerintah NT yang diwakili Direktur Penerbangan NT, Justin Vaughaun, dan stafnya, Jim Pharaos, telah pun bersiap berangkat ke Jakarta, Kamis, guna bertemu dengan tim teknis Garuda sebagai tindak lanjut dari hasil pertemuan 8 Mei.

"Hari ini (Kamis), Justin dan Jim akan terbang ke Indonesia untuk bertemu tim teknis Garuda," katanya.

Berkaitan dengan upaya pemerintah NT mempertahankan keberadaan Garuda Indonesia di Darwin sejak 1980 itu, Menteri Chris Burns, tidak hanya menemui Meneg BUMN Sofyan Djalil, Menhub Jusman Syafii Djamal, dan Dirut Garuda, Emirsyah Satar, di Jakarta, tetapi juga menawarkan dukungan pendanaan kerja sama pemasaran Garuda.

Tawaran dukungan pendanaan kerja sama pemasaran Garuda di Darwin kepada pemerintah RI dan manajemen Garuda itu disampaikannya dalam pernyataan persnya 23 April lalu atau sehari setelah Garuda resmi menutup operasinya di NT.

"Saya akan melakukan apa pun untuk mengembalikan Garuda ke Darwin," katanya saat itu.

Kehadiran maskapai penerbangan nasional Indonesia di Darwin yang sudah hampir 30 tahun itu tidak hanya dipandang sebatas jasa transportasi udara semata tetapi lebih dari itu juga sebagai pembawa panji-panji penguatan hubungan Indonesia-NT.

Bukan sekadar penerbangan

Pemimpin oposisi negara bagian NT Terry Mills termasuk orang yang mendukung kembalinya Garuda ke Darwin karena maskapai penerbangan ini bukan sekadar jasa transportasi udara bagi rakyat Australia Utara tetapi kehadirannya yang hampir 30 tahun di kota Darwin itu juga menjadi penguat kerja sama bilateral Indonesia-NT.

"Saya ingin meletakkan persahabatan Australia dengan Indonesia lewat Garuda karena Garuda bukan sekadar maskapai penerbangan tetapi ia juga hubungan bilateral itu sendiri," katanya kepada ANTARA di Darwin, 14 Mei lalu.

Penghentian rute penerbangan Denpasar-Darwin yang sudah berjalan selama hampir 30 tahun itu sangat disayangkan sekalipun ia memahami keputusan manajemen Garuda di Jakarta itu disemangati oleh "pertimbangan komersial" pasar penerbangan dalam negeri Indonesia, kata Mills.

Namun, ketidakhadiran Garuda di negara bagian paling utara Australia itu telah menghilangkan salah satu jembatan penting hubungan rakyat NT dan Indonesia, katanya.

Dukungan bagi kembalinya Garuda ke Darwin itu tidak hanya datang dari kubu pemerintah dan oposisi NT tetapi juga kalangan biro perjalanan wisata utama di negara bagian paling utara Australia itu.

Pimpinan "Travel Seven" Darwin, Xana Kamitsis, misalnya, menegaskan janjinya untuk membantu Garuda mengisi sedikitnya 65 persen dari total kapasitas kursi penumpang jika maskapai penerbangan nasional Indonesia ini kembali menerbangi Darwin.

"Kalau Garuda mematok kapasitas penumpang yang terisi minimal 65 persen, saya fikir jumlah itu bisa kami penuhi. Itu dapat dicapai," katanya.

Selain "Travel 7", biro perjalanan Australia lainnya yang telah berkomitmen untuk memasok jumlah penumpang 65 persen dari total kapasitas kursi tersebut adalah "Jetset Travel" dan "Frangipani" Darwin.

Dilihat dari data penumpang Garuda yang dikeluarkan otoritas Bandar Udara Internasional Darwin, terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. Jika pada 2006, jumlah penumpang Garuda Darwin tercatat 12 ribu orang, pada 2007, jumlahnya meningkat sekitar 27 persen menjadi 17.834 orang.

Sepanjang 2008, jumlah penumpang maskapai penerbangan nasional Indonesia ini mencapai 25.147 orang atau naik sekitar 41 persen dari total jumlah penumpang tahun 2007 sebelum kemudian menurun pada periode Januari-Maret 2009 sebagai imbas dari krisis ekonomi global.

Sejak Juni 2008 hingga sebelum ada keputusan penutupan, Garuda melayani tiga kali penerbangan Darwin-Denpasar per-minggu dengan pesawat Boeing 737-400 berkapasitas 16 kursi kelas bisnis dan 117 kursi kelas ekonomi, yakni setiap Senin, Rabu, dan Jumat.

Pesawat itu berangkat dari Denpasar pada pukul 01.20 dinihari dan tiba di Darwin pada pukul 05.20 pagi (waktu Darwin). Kemudian pesawat yang sama kembali terbang ke Denpasar dari Bandar Udara Internasional Darwin pada pukul 07.30 waktu setempat.

Dengan adanya keputusan Garuda menutup operasinya di Darwin itu berarti sudah dua kota utama Australia yang tidak lagi diterbangi maskapai penerbangan milik negera itu setelah Brisbane sejak awal 2007.

*) My updated news for ANTARA on June 4, 2009

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity