Monday, July 7, 2008

WISATAWAN AUSTRALIA LEBIH TENANG JIKA BALI DIPIMPIN MANGKU PASTIKA

Sosok mantan Kapolda Bali,I Made Mangku Pastika, yang ikut bertarung dalam Pemilihan Gubernur Bali 9 Juli 2008 diyakini mampu memberikan ketenangan kepada para wisatawan Australia jika mayoritas rakyat memilihnya, kata seorang pemerhati masalah pariwisata Bali di Brisbane, Senin.

"Kalau Mangku Pastika jadi Gubernur di Bali, orang Australia mungkin akan lebih tenang ke Bali. Paling tidak mereka bisa merasakan bahwa mereka punya 'Bapak' di Bali yang bisa 'mendengar' dan diajak 'bicara' jika ada masalah," kata Dr.I Nyoman Darma Putra sehubungan dengan Pilkada dan hubungannya dengan masa depan pariwisata Bali.

Penulis buku "Tourism, Development and Terrorism in Bali" bersama Prof.Michael Hitchcock (London, Ashgate, 2007) itu mengatakan, Bali memerlukan gubernur yang bisa berbahasa Inggris dengan baik karena provinsi itu adalah daerah tujuan wisata dunia.

"Selama ini banyak keluhan wisatawan Australia yang dikirim melalui surat ke Gubernur Bali, seperti turis yang kena tipu saat menukar uang di 'money changer' (tempat penukaran uang) liar, alam Bali yg kotor dan penuh sampah, maupun oknum polisi yang menargetkan turis sasaran tilang di jalan," katanya.

Jika gubernur yang terpilih dalam Pilkada 2008 ini adalah sosok yang bisa berbahasa Inggris seperti Mangku Pastika, apa yang dikeluhkan banyak wisatawan Australia itu pasti bisa ditanggapi dengan cepat, kata dosen bahasa Indonesia di Universitas Queensland itu.

"Turis yang punya keluhan pun pasti akan merasa berguna menulis kepada Mangku Pastika. Orang asing yang cinta Bali, yang memiliki gagasan positif untuk mengembangkan Bali, pasti merasa tidak sia-sia menuangkan pikiran dan menyampaikan kepada Mangku Pastika," katanya.

Sebagai daerah tujuan wisata dunia, sosok calon gubernur yang berpasangan dengan AA Puspayoga ini juga dinilai cermat mengartikulasikan kepentingan Bali ke dunia luar dan dengan jitu menyampaikan kepentingan turis kepada masyarakat Bali sehingga bisa menjadi tuan rumah yang baik, kata Darma Putra.

"Kalau komunikasi baik, banyak pekerjaan besar dan rumit bisa dikerjakan dengan baik. Sebagai daerah pariwisata, Bali perlu punya gubernur yang dipercaya oleh masyarakat dunia," katanya.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bali yang menampilkan tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, termasuk pasangan Prof.I Gede Winasa-I Gusti Bagus Alit Putra, dan Cok Budi Suryawan-Nyoman Gde Suweta, itu tidak hanya menyita perhatian warga Indonesia asal Bali tetapi juga media cetak Australia.

Suratkabar "The Age" misalnya sempat menurunkan berita sepanjang 17 paragraf berjudul "Charismatic, aspiring Bali governor sends his regards" (Gubernur Bali yang karismatik dan menginspirasi mengirim kabarnya) pada 28 Juni lalu.

Dalam berita yang ditulis Mark Forbes itu, sosok Mangku Pastika yang pernah menjadi ketua tim investigasi insiden Bom Bali 2002 ini digambarkan dengan sangat positif.

Bahkan di mata Komisioner Polisi Federal Australia, Mick Keelty, Mangku Pastika adalah sosok jenderal Polri yang mampu membangun kepercayaan masyarakat Bali pada kemampuan Polri menggulung jaringan terorisme dan sosok yang tak asing bagi investigator kepolisian Australia saat terjadi insiden Bom Bali 2002.

"Dia (Mangku Pastika) juga seorang yang religius. Selama investigasi (Bom Bali 2002), dia selalu menyempatkan diri ke pura untuk berdoa...," katanya seperti dikutip The Age.

Sepanjang 2007, jumlah wisman asal Australia yang berkunjung ke Indonesia, terutama Bali, tercatat 314.432 orang, dan pada 2008 jumlahnya ditargetkan naik menjadi 380 ribu orang.

*) My news for ANTARA on July 7, 2008

1 comment:

Anonymous said...

Well its nice.


bridge loan

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity