Orang-orang terbaik daerah yang sudah teruji dalam memimpin birokrasi di pusat dan daerah sepatutnya diberi kesempatan untuk memimpin daerah asalnya karena dengan strategi ini Indonesia yang maju akan lebih cepat terwujud, kata seorang akademisi asal Bali di Australia."Dari dulu orang-orang baik selalu memegang tampuk pimpinan di pusat (Jakarta). Dari pusat mereka membangun daerah. Kalau itu dianggap tidak berhasil, bukankah saatnya memberikan tantangan kepada orang-orang hebat di pusat itu untuk memimpin daerahnya dan mencoba memperbaiki Indonesia dari daerah?" kata Dr.I Nyoman Darma Putra.
Kepada ANTARA di Brisbane, Senin, sehubungan dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bali 9 Juli 2008, Darma Putra berpendapat, selama ini otonomi daerah selalu dibahasakan secara negatif, yakni "tumbuhnya raja-raja kecil yang arogan".
Seharusnya otonomi daerah itu bisa dibahasakan dengan ungkapan positif semisal "kalau pusat gagal membangun daerah, sudah saatnya sekarang pusat dibangun dari daerah", kata peneliti dan dosen bahasa Indonesia di Universitas Queensland itu.
"Sudah terbukti, walau sedikit, ada daerah-daerah yang berhasil mengembangkan manajemen birokrasi dan pelayanan masyarakat yang efektif yang membuat pusat harus merasa malu! Jangan-jangan sosok seperti (Wapres) Jusuf Kalla dan (Menko Kesra) Aburizal Bakrie akan jauh lebih sukses jika memimpin daerah," katanya.
"Kalau tiap-tiap daerah baik, Indonesia seharusnya menjadi lebih bagus," katanya.
Dalam konteks Pilkada Bali yang diikuti tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, yakni I Made Mangku Pastika-AA Puspayoga, Prof.I Gede Winasa-I Gusti Bagus Alit Putra, dan Cok Budi Suryawan-Nyoman Gde Suweta, itu, Darma Putra melihat Mangku Pastika adalah sosok putra daerah yang berpengalaman lengkap.
"Mangku Pastika itu sosok yang hebat dan menarik. Dia faham adat dan budaya Bali. Dia memiliki pengalaman kerja dalam struktur birokrasi nasional di Pusat dan daerah. Dia memiliki prestasi internasional yang mengagumkan dunia ketika menjadi ketua tim multinasional investigasi insiden Bom Bali 2002," katanya.
Karakter regionalisme, nasionalisme dan internasionalisme seperti itu benar-benar menyatu dalam diri Mangku Pastika sehingga, jika mayoritas rakyat Bali menghendaki, dia cocok memimpin Bali sebagai daerah yang memiliki adat budaya yang kuat, menjunjung tinggi Negara Kesatuan RI, dan merupakan daerah tujuan wisata warga dunia.
"Hanya saja, kehebatan sosok Mangku Pastika ini justru dijadikan isu oleh lawan politiknya. Mereka bilang seharusnya Mangku Pastika tak usah menjadi gubernur. Kalau memang hebat mengapa tidak mengejar posisi Kapolri?" katanya.
Menurut Darma Putra, pandangan seperti itu keliru karena orang-orang seperti Mangku Pastika sudah saatnya diberi kesempatan untuk memimpin daerahnya supaya daerah cepat mengalami kemajuan dan dari daerah kemajuan Indonesia itu bisa dicapai.
"Bagi saya, dan ini tak hanya untuk Mangku Pastika dan Bali tapi bagi semua daerah di Indonesia di era otonomi, sudah saatnya daerah dipimpin oleh orang lokal yang memiliki kaliber nasional dan internasional," katanya.

No comments:
Post a Comment