Tuesday, July 15, 2008

INDONESIA CABUT LARANGAN IMPOR DAGING SAPI SELANDIA BARU

Pemerintah Selandia Baru lega karena Indonesia mencabut larangan sementara impor daging sapi sapi asal negara itu akibat adanya kekhawatiran Indonesia tentang pelabelan dan sertifikasi halal, kata Juru Bicara KBRI Wellington, Sekretaris I Tri Purnajaya.

"Pelarangan atas impor daging sapi Selandia Baru ini dicabut setelah pihak kita mendengarkan pihak Selandia Baru. Namun Selandia Baru diminta untuk memperhatikan isu daging halal, diantaranya dalam 'labelling' (pelabelan) menggunakan dua bahasa, yakni Inggris dan Indonesia," katanya menjawab pertanyaan ANTARA, Selasa.

Selain itu, pemerintah Indonesia juga meminta Selandia Baru menunjuk "juru potong daging halal yang bersifat permanen" (tidak bergantian-red), katanya menanggapi kelegaan Menteri Perdagangan Selandia Baru Phil Goff karena Indonesia mencabut larangan impor tersebut.

Sehari sebelumnya, Phil Goff mengatakan, Indonesia sudah mencabut larangan sementara impor daging dari negaranya akibat adanya keprihatinan tentang pelabelan dan sertifikasi halal.

"Nilai perdagangan daging Selandia Baru dengan Indonesia mencapai lebih dari 90 juta dolar (Selandia Baru) per tahun, dan saya menyambut baik kembalinya perdagangan daging Selandia Baru ke negara itu," katanya.

Langkah positif Indonesia itu menunjukkan baiknya hubungan perdagangan kedua negara, kata Goff.

Ia mengatakan, titik terang tentang pencabutan larangan impor daging sapi asal negaranya itu diperolehnya setelah ia bertemu delegasi pejabat senior perdagangan RI pada 14 Juli.

Dalam pertemuan itu, Goff menyampaikan harapannya agar apa pun yang menjadi keprihatinan Indonesia sebaiknya diselesaikan antar-pejabat pemerintah kedua negara.

"Saya sampaikan keprihatinan (saya) bahwa pelarangan itu diberlakukan tanpa pemberitahuan dan dialog sebelumnya. Tapi saya yakin Selandia Baru dapat menyelesaikan masalah-masalah apapun", katanya.

Mengenai prospek hubungan perdagangan bilateral Indonesia-Selandia Baru, Tri Purnajaya mengatakan, prospek cerah bagi kedua negara terbuka di masa depan.

"Dengan adanya misi dagang dari Selandia Baru ke Indonesia yang disponsori oleh Duta Besar RI Amris Hassan dalam dua tahun belakangan ini, diharapkan tingkat perdagangan kedua negara meningkat," katanya.

Saat ini Indonesia bersama negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) lainnya sedang dalam proses perundingan tentang Kawasan Perdagangan Bebas (FTA) dengan Selandia Baru dan Australia. Pada gilirannya nanti kerja sama ini akan membuka akses pasar bagi para pelaku usaha kedua negara, katanya.

*) My news for ANTARA on July 15, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity