Sunday, July 20, 2008

PAUS BENEDIKTUS XVI TINGGALKAN AUSTRALIA

Paus Benediktus XVI, Senin pagi, meninggalkan Sydney menuju Roma, Italia, setelah selama sepekan mengikuti rangkaian acara perayaan Hari Pemuda Sedunia (WYD) bersama ratusan ribu pemuda-pemudi dan peziarah Katolik dari berbagai penjuru dunia.

Momen kepulangan pemimpin tertinggi gereja Katolik sedunia itu disiarkan langsung Stasiun Televisi "Channel Seven" (Saluran Tujuh) Australia sehingga publik dapat ikut menyaksikan rangkaian acara terakhir Paus sebelum meninggalkan Sydney.

Momen bersejarah kepulangan Paus dimulai dari kehadirannya di acara perpisahan dengan ribuan relawan yang membantu suksesnya penyelenggaraan WYD, iring-iringan mobil yang membawanya menuju kompleks Bandar Udara Sydney, pidato terakhirnya bersama Perdana Menteri Kevin Rudd hingga saat menaiki tangga pesawat.

Dalam pidatonya, Paus juga menyampaikan terima kasih kepada sekitar 8.000 orang relawan Australia dan bangsa-bangsa lain yang mendukung penyelenggaraan WYD atas waktu dan dedikasi yang telah mereka berikan. Paus juga menyampaikan terima kasih kepada komunitas gereja Katolik dan pemerintah Australia.

Bagi rakyat Australia, momen kepulangan Paus Benediktus ini menandakan dekatnya mereka di hati Paus karana dalam dua pidato terakhirnya itu, pemimpin umat Katolik sedunia yang kini berusia 81 tahun ini memanjatkan doa bagi keberkatan Tuhan untuk mereka.

"Semoga Tuhan memberkati rakyat Australia," kata Paus Benediktus XVI dalam pidatonya di depan ribuan orang relawan WYD serta saat acara perpisahan dengan PM Rudd dan pejabat Australia lainnya yang berlangsung di salah satu gedung kompleks Bandara Sydney.

Dalam acara perpisahaan di kompleks Bandara Sydney itu, pesawat Qantas Boeing 747-400 yang akan membawanya ke Roma sudah parkir di dalam ruang gedung besar itu sehingga Paus langsung naik ke pesawat dari tangga pintu terdepan segera setelah dia menyalami barisan pejabat yang hadir.

Selain PM Rudd, beberapa pejabat negara bagian dan federal yang hadir adalah Gubernur Jenderal Mayjen (purn) Michael Jeffery, Gubernur NSW Prof.Marie Bashir, dan Kepala Negara Bagian New South Wales Morris Iemma.

Barisan pastor dan Uskup Agung Sydney Kardinal George Pell juga tampak di antara mereka yang melepas Paus di kompleks Bandara Sydney itu.

Sebelumnya, dalam pidatonya, PM Rudd mengumumkan lembaran baru sejarah hubungan Australia dan Vatikan karena pada kesempatan itu dia mengumumkan penunjukan mantan Wakil PM Australia, Tim Fischer, sebagai duta besar pertama negaranya untuk Vatikan.

Dalam pidatonya, PM Rudd kembali menegaskan bahwa Paus Benediktus XVI adalah sahabat Australia. Pemimpin Australia itu juga mengungkapkan bahwa pihaknya mengingat secara baik berbagai pesan maupun momen bersejarah kehadiran Paus selama sepekan dalam kunjungan pertamanya ke Australia.

Pesan penting Paus

Beberapa pesan dan momen penting kehadiran Paus yang secara khusus disampaikan Rudd adalah momentum kehadiran lautan kaum muda Katolik yang datang dari berbagai penjuru dunia, rangkulan Paus pada komunitas pribumi Australia serta dukungannya pada proses rekonsiliasi yang kini berjalan.

Pesan dan momen penting lainnya adalah kepedulian Paus pada lingkungan hidup, peringatan Paus tentang kegersangan spiritualitas yang kini merasuki kehidupan modern umat manusia, dan ungkapan maaf dan empati Paus yang mendalam kepada para korban pelecehan seksual yang dilakukan sejumlah pastor.

Sehari sebelumnya, Paus Benediktus XVI merayakan misa terakhirnya bersama ratusan orang peserta WYD yang memadati areal kompleks pacuan kuda "Randwick" Sydney dan sekitarnya dengan berpesan agar mereka mendedikasikan diri menjadi "kurir perdamaian" ke seluruh dunia.

Dalam acara religi yang diisi dengan rangkaian doa dan lantunan lagu-lagu gerejawi itu, Paus juga berpesan tentang kekeringan spiritualitas yang kini merasuki kehidupan modern umat manusia.

Di antara ratusan ribu pemuda pemudi Katolik yang rela bermalam di kawasan kompleks pacuan kuda "Randwick" untuk menanti misa terakhir Paus itu ada lebih dari 1000 orang jamaat Indonesia yang datang langsung dari Tanah Air.

Pemimpin tertinggi gereja Katolik berusia 81 itu juga mengumumkan Madrid, Spanyol, sebagai kota berikut yang akan menjadi tuan rumah WYD tahun 2011.

Hari Sabtu (19/7), Paus memenuhi janjinya untuk meminta maaf atas skandal pedofilia dan pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan gereja Katolik Australia. Pemimpin tertinggi gereja Katolik sedunia itu mengakui adanya rasa malu yang dirasakan kalangan gereja akibat kasus-kasus pelecehan seksual ini.

"Sungguh, saya meminta maaf yang mendalam atas sakit dan derita para korban, dan saya mau meyakinkan mereka bahwa selaku pastor mereka, saya ikut merasakan penderitaan mereka," katanya.

Paus Benediktus XVI menyebut tindakan pastor yang terlibat dalam kasus pedofilia itu sebagai "setan".

"Para korban harus menerima kasih dan perawatan, dan mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan setan ini harus diadili," katanya.

Saat berkunjung ke Amerika Serikat April lalu, Paus berkebangsaan Jerman dan lahir pada 16 April 1927 dengan nama Joseph Alois Ratzinger itu juga menyampaikan permintaan maaf atas kasus yang sama.

Dalam masalah ini, Paus mengingatkan pentingnya gereja Katolik melakukan rekonsiliasi, mencegah, menolong dan melihat kesalahan.

"Harus jelas bahwa seorang pendeta yang sesungguhnya tidak sejalan dengan (kekerasan seksual) ini karena pendeta melayani Tuhan kita," katanya.

Kegiatan WYD 2008 yang dibuka secara resmi oleh Uskup Agung Sydney Kardinal George Pell Selasa lalu itu berlangsung damai dan meriah namun juga diwarnai aksi demonstrasi kelompok penentang kebijakan gereja Katolik tentang homoseksualitas, aborsi dan penggunaan kontrasepsi.

Di tengah kehadiran Paus Benediktus di Sydney itu, media setempat juga sempat mempublikasi hasil survei online jaringan sosial "MySpace" yang mengungkapkan bahwa mayoritas remaja dan pemuda Australia merasa gereja Katolik di negaranya "tidak bersentuhan" dengan mereka.

*) My updated news for ANTARA on July 21, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity