Oleh Rahmad NasutionMelambungnya harga minyak dunia hingga di atas 130 dolar Amerika Serikat (AS) per barel tidak hanya memukul Indonesia dan negara berkembang lain. Krisis global ini juga mengkhawatirkan negara maju, seperti Australia.
Dampak buruk harga minyak dunia yang terus merangkak dari angka 100 dolar AS pada awal tahun ini hingga sempat menembus angka 147 dolar AS per barel baru-baru ini bahkan telah dirasakan oleh industri penerbangan dan jasa angkutan Australia.
Manajemen maskapai penerbangan nasional, Qantas, Jumat, telah pun mengumumkan pemangkasan 1.500 orang karyawannya di seluruh dunia.
Perusahaan jasa penerbangan terkemuka Australia itu juga membatalkan rencananya menyewa 1.200 orang pekerja baru tahun ini.
Menurut jaringan pemberitaan ABC, dari 1.500 orang pekerja yang diberhentikan itu, sebanyak 1.200 orang di antaranya berada di Australia sedangkan 300 orang lainnya adalah para pekerja di jaringan operasi Qantas di luar negeri.
CEO Qantas, Geoff Dixon, menuding ongkos tambahan akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) yang harus ditanggung perusahaan sebagai faktor utama pemicu keputusan pahit ini, selain masalah pertikaian pembayaran dengan para teknisi pemeliharaan Qantas.
Sejak Mei lalu, manajemen Qantas sudah mengambil langkah antisipatif untuk mengurangi beban perusahaan akibat kenaikan bahan bakar minyak (BBM) ini.
Ketika itu, laporan-laporan media setempat menyebutkan manajemen Qantas memutuskan untuk mengurangi lima persen rute penerbangan domestiknya atau setara dengan menghentikan operasi enam pesawat guna menghemat biaya bahan bakar.
Dua di antara rute penerbangan yang dihentikan untuk sementara waktu itu adalah Gold Coast-Sydney dan Uluru (Ayers Rock)-Melbourne.
Di tengah tantangan harga minyak dunia itu, ratusan orang teknisi Qantas di Brisbane dan Sydney menuntut kenaikan gaji sebesar lima persen sedangkan manajemen bertahan dengan tawaran tiga persen.
Kenaikan biaya bahan bakar yang harus ditanggung Qantas itu diperkirakan mencapai lebih dari dua miliar dolar Australia tahun 2009 atau sekitar 35 persen dari total pengeluaran perusahaan.
Imbas dari kenaikan harga minyak dunia itu juga dirasakan para supir truk di negara itu. Sekretaris Serikat Pekerja Angkutan (TWU) Australia, Hughie Williams, mengatakan, banyak di antara anggotanya kini tak lagi sanggup beroperasi.
Banyak di antara supir truk itu sudah menandatangani kontrak selama empat hingga lima tahun dengan mitra bisnis mereka jauh sebelum harga minyak dunia melambung.
Akibatnya, mereka tidak lagi mampu menanggung beban biaya tambahan akibat kenaikan harga BBM.
Untuk meringankan beban para supir itu, Williams mengimbau pemerintah federal berani menekan kalangan industri minyak di Australia supaya mau memotong sedikit margin keuntungan mereka demi kepentingan publik.
Di ranah politik domestik Australia, kenaikan harga BBM yang sudah dirasakan dampaknya oleh rakyat dan kalangan industri itu menggelinding menjadi isu panas.
Dalam serangkaian perdebatan parlemen federal di Canberra Mei lalu misalnya, kubu oposisi sempat menyerang Perdana Menteri Kevin Rudd berkaitan dengan kebijakannya yang lebih mengikuti saran Komisi Persaingan dan Konsumen Australia (ACCC) tentang badan pemantau harga BBM secara "online" daripada mendengarkan saran empat departemen di pemerintahannya.
Jika pada Mei lalu, harga per liter bensin di kota Brisbane dan sekitarnya berkisar antara 139.5 sen dan 140.3 sen dolar, kini harganya naik menjadi 150.7 - 155.9 sen dolar Australia.
Keprihatinan kolektif
Harga minyak dunia yang selangit ini tidak hanya direspons PM Rudd dengan langkah-langkah kongkrit di dalam negeri, seperti membentuk badan pemantau harga BBM, tetapi juga ikut mendorong Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) segera meningkatkan produksi minyaknya guna menekan harga di pasar dunia. Pemimpin Australia ini menuding negara-negara anggota OPEC tidak berupaya menyesuaikan produksi minyak mereka sehingga terjadi distorsi antara permintaan dan penawaran di pasar dunia.
Keprihatinan Australia pada fluktuasi harga minyak dunia dan dampaknya pada beragam sektor ekonomi negara tidak hanya disuarakan kalangan eksekutif dan yudikatif semata.
Keprihatinan kolektif itu juga mendorong kalangan peneliti, industri, pemerintah, dan masyarakat duduk bersama guna mempelajari dan menawarkan solusi atas masalah ini.
Mereka antara lain berhimpun dalam sebuah forum yang disebut Forum Masa Depan Bahan Bakar Minyak (FFF) Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Riset Persemakmuran Australia (CSIRO).
Di antara mitra forum ini adalah Asosiasi Otomobil Australia, Perhimpunan Studi Minyak dan Gas Australia, Yayasan Konservasi Australia, Grup ARRB, Asosiasi Bahan Bakar Nabati Australia, Caltex, Insinyur Australia, dan Iklim Masa Depan Australia.
Selanjutnya Heck Group, GM Holden, NRMA, Komisi Transportasi Nasional, Pusat Advokasi Kepentingan Publik, Kereta Api Queensland, Sasol Chevron, Pemerintah Negara Bagian Australia Selatan, Pemerintah Negara Bagian Victoria, dan Woolworths.
Setelah bertemu selama setahun, FFF meluncurkan laporan hasil kajiannya bertajuk "Fuel for thought - The future of transport fuels: challenges and opportunities" (BBM untuk Pemikiran - Masa Depan Bahan Bakar Transpor: Tantangan dan Peluang) di Melbourne 11 Juli lalu.
Di antara poin penting isi laporan FFF CSIRO tersebut adalah adanya perkiraan bahwa harga BBM di Australia bisa mencapai delapan dolar (lebih dari Rp64 ribu) per liter pada tahun 2018.
Perkiraan itu disampaikan Peneliti Bidang Energi CSIRO, Dr.John Wright,sebagai skenario terburuk mengingat masa depan harga minyak dunia masih tidak menentu.
Jika kondisi terburuk ini terjadi, yang paling terpukul adalah lapisan masyarakat Australia berpenghasilan rendah.
Skenario terburuk ini, kata Dr.Wright, dapat dipandang sebagai katalisator bagi aksi awal pengembangan opsi-opsi BBM alternatif, teknologi kendaraan beremisi rendah, dan pembangunan infrakstrutur yang mendukung alat transportasi yang berkesinambungan.
Sebagai bangsa dengan pemakaian kendaraan bermotor yang relatif tinggi, Australia sangat rentan terhadap pengaruh ekonomis, lingkungan dan sosial dari naiknya harga minyak dan temperatur bumi.
Karenanya, mengamankan akses terhadap ketersediaan BBM dengan harga yang terjangkau sangat penting bagi perekonomian dan gaya hidup Australia, kata peneliti Dr.Wright.
Australia terus berbenah secara serius untuk merespons tantangan keamanan energi dan perubahan iklim global.

No comments:
Post a Comment