Friday, June 20, 2008

UNIVERSITAS SYDNEY RAYAKAN 50 TAHUN STUDI INDONESIA

Universitas Sydney merayakan 50 tahun kehadiran Departemen Studi Indonesia (DIS) dil lingkungan perguruan tinggi riset papan atas Australia itu pada 15 Agustus 2008.

Informasi dari Universitas Sydney yang dihimpun ANTARA di Brisbane, Jumat, menyebutkan acara puncak peringatan "tahun emas" DIS itu ditandai dengan reuni para alumni yang turut dihadiri undangan dari unsur kedutaan besar, konsulat RI, Asosiasi Australia-Indonesia (AIA) dan Dewan Bisnis Australia-Indonesia (AIBC).

Kehadiran studi bahasa dan budaya Indonesia di US tidak dapat dilepaskan dari sosok Dr Frits van Naerssen karena dia adalah dosen senior yang mengajar. Akademisi asal Belanda ini memimpin DIS hingga 1960-an.

Eksistensi DIS Universitas Sydney itu telah membantu generasi baru Australia "menemukan" Asia dan berkenalan dengan isu-isu politik kawasan.

Disebutkannya, banyak di antara para lulusan DIS menjadi akademisi terkemuka tidak hanya di Australia tetapi juga di Universitas Princeton dan Leiden. Selain itu, banyak juga di antara para alumninya yang meniti karir sebagai penulis, diplomat, guru, pekerja sosial, wartawan, dan pengusaha yang sukses.

Dalam perjalanannya, DIS terus membangun jaringan kerja sama antar-akademisi Indonesia dan Australia, termasuk menghasilkan para lulusan doktor di bidang-bidang studi seperti sastra, politik, dan arsitektur.

Kesaksian lulusan

Sementara itu, Dr.I Nyoman Darma Putra, alumnus DIS Universitas Sydney yang kini mengajar bahasa Indonesia di Universitas Queensland (UQ), menuturkan kenanganannya kepada ANTARA saat menjadi mahasiswa program magister di sana (1992-1994).

"Saya bersyukur bisa menempuh program master bidang sastra Indonesia di Universitas Sydney dengan beasiswa Pemerintah Australia walau prioritas beasiswa pemerintah Australia waktu itu (AIDAB, kini AusAID-red.) adalah ilmu pertanian, peternakan, dan bisnis," katanya.

Di era Orde Baru itu, koleksi perpustakaan Universitas Sydney tentang Indonesia sudah demikian kaya dan memudahkan para peneliti. Darma Putra mengatakan ia misalnya dengan mudah menemukan koran dan majalah Indonesia seperti arsip majalah Horison sejak awal dan Bali Post.

"Kalau di Indonesia, untuk mendapatkan bundel Horison paling tidak harus ke Pusdok (Perpustakaan Dokumentasi) HB Jassin di Jakarta, dan itu bagi mahasiswa daerah luar Jakarta, seperti saya di Bali, tidaklah gampang karena perlu waktu dan biaya," katanya.

Buku-buku yang dilarang di Indonesia seperti karya-karya Pramoedya Ananta Toer, tersedia di perpustakaan Universitas Sydney. Dalam hal usaha perpustakaan, Australia memperbaharui koleksi buku memang dihargai karena cepat dan berlanjut," katanya.

Ketika itu, jumlah mahasiswa DIS cukup banyak sehingga memungkinkan jurusan mengadakan "Indonesian language camp" dengan acara main gamelan (Jawa), apresiasi sastra, dan kuis-kuis bahasa Indonesia, kata penulis buku "Tourism, Development and Terrorism in Bali" bersama Michael Hitchcock (2007) itu.

"Selama belajar di Sydney, ada pula banyak 'event' yang memungkinkan saya bertemu tokoh-tokoh sastrawan, budayawan, intelektual Indonesia terkemuka seperti Rendra, Goenawan Mohamad, Emha Ainun Nadjib, Nano Riantiarno, Arief Budiman, Gus Dur, Chris Biantoro, dan Putu Wijaya."

"Kecuali Putu Wijaya, sulitlah bagi saya sebagai orang daerah bisa bertemu dan mendengarkan ceramah-ceramah dan pementasan mereka di Bali. Ketatnya kontrol rezim Orba membuat tokoh-tokoh kritis itu tidak bisa tampil sembarangan di daerah, tetapi di Australia akses untuk dengar penampilan mereka terbuka," kata akademisi produktif yang juga dosen Universitas Udayana Bali ini.

*) My news for ANTARA on June 20, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity