Friday, June 20, 2008

AKADEMISI AUSTRALIA-INDONESIA BAHAS PERAN UNIVERSITAS DALAM PEMBANGUNAN

Belasan pimpinan dan akademisi terkemuka Australia dan Indonesia bertemu dalam simposium bertajuk "memikirkan kembali pembangunan: peran universitas" yang diselenggarakan bersama oleh Universitas Sydney (US) dan Universitas Indonesia (UI) di Hotel "Four Seasons" Jakarta, 3 Juli 2008.

Penyelenggaraan simposium yang akan dihadiri Menteri Pendidikan Nasional Dr.Bambang Sudibyo,MBA itu merupakan rangkaian kegiatan US memperingati 50 tahun studi Indonesia di perguruan tinggi riset papan atas Australia itu, demikian informasi yang diterima ANTARA dari Indonesianis US, Prof.Adrian Vickers, di Brisbane, Jumat.

Dalam acara yang akan berlangsung dari pukul 13.00 hingga 17.30 WIB itu, sejumlah akademisi dan pimpian Universitas Sydney akan membahas berbagai isu dan tantangan pembangunan bersama mitra mereka dari UI, Universitas Hasanuddin, Universitas Airlangga, ITB, dan Universitas Gadjah Mada.

Dari Universitas Sydney, hadir Rektor US yang juga Gubernur New South Wales, Prof.Marie Bashir, Wakil Dekan dan Ketua Studi Asia Tenggara Fakultas Seni, Prof.Adrian Vickers, Wakil Presiden US (internasional), dan Prof.John Hearn, Prof.Peter McMinn (Fakultas Kedokteran).

Seterusnya Asosiat Prof.Michael Dibley (Sekolah Kesehatan Masyarakat), Prof.Greg Hancock (Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi Informasi), dan Dr.Lesley Harbon (dosen senior Fakultas Pendidikan dan Kerja Sosial).

Dari Indonesia, selain Mendiknas Bambang Sudibyo, hadir pula Rektor UI, Prof.Dr.des Soz.Gumilar Rusliwa Somantri, Rektor Unhas Prof.Dr.Idrus A.Paturusi, Wakil Rektor Unair Prof.Dr.Soetjipto, Dekan Fakultas Hukum UI Prof.Dr.Hikmahanto Juwana, Rektor ITB Prof.Dr.Ir.Djoko Santoso, dan Rektor UGM Prof.Dr.Ir.Sudjarwadi.

Di antara masalah sains kedokteran dan kesehatan masyarakat yang disoroti dalam simposium itu adalah peran kesehatan masyarakat dalam bencana alam, bioteknologi untuk mencegah "viral encephalitis" di Asia Tenggara, dan model kolaborasi riset di Indonesia untuk menanggulangi masalah wabah penyakit menular.

Isu sains sosial dan teknik yang akan dibahas meliputi masalah reformasi administrasi publik dalam merespon tantangan global, peran universitas riset dan pembangunan bagi industri, pembangunan bidang pendidikan teknik (kasus Australia), serta orientasi penelitian untuk masyarakat.

"Tahun emas" studi Indonesia

Selain acara simposium di Jakarta itu, Universitas Sydney merayakan acara puncak 50 tahun kehadiran Departemen Studi Indonesia (DIS) itu pada 15 Agustus 2008.

Acara puncak peringatan "tahun emas" DIS tersebut ditandai dengan reuni para alumni yang turut dihadiri undangan dari unsur kedutaan besar, konsulat RI, Asosiasi Australia-Indonesia (AIA) dan Dewan Bisnis Australia-Indonesia (AIBC).

Kehadiran studi bahasa dan budaya Indonesia di US tidak dapat dilepaskan dari sosok Dr Frits van Naerssen karena dia adalah dosen senior yang mengajar. Akademisi asal Belanda ini memimpin DIS hingga 1960-an.

Eksistensi DIS Universitas Sydney itu telah membantu generasi baru Australia "menemukan" Asia dan berkenalan dengan isu-isu politik kawasan.

Disebutkan, banyak di antara para lulusan DIS menjadi akademisi terkemuka tidak hanya di Australia tetapi juga di Universitas Princeton dan Leiden. Selain itu, banyak juga di antara para alumninya yang meniti karir sebagai penulis, diplomat, guru, pekerja sosial, wartawan, dan pengusaha yang sukses.

Dalam perjalanannya, DIS terus membangun jaringan kerja sama antar-akademisi Indonesia dan Australia, termasuk menghasilkan para lulusan doktor di bidang-bidang studi seperti sastra, politik, dan arsitektur.

*) My news for ANTARA on June 20, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity