Belasan pimpinan dan akademisi terkemuka Australia dan Indonesia bertemu dalam simposium bertajuk "memikirkan kembali pembangunan: peran universitas" yang diselenggarakan bersama oleh Universitas Sydney (US) dan Universitas Indonesia (UI) di Hotel "Four Seasons" Jakarta, 3 Juli 2008.Penyelenggaraan simposium yang akan dihadiri Menteri Pendidikan Nasional Dr.Bambang Sudibyo,MBA itu merupakan rangkaian kegiatan US memperingati 50 tahun studi Indonesia di perguruan tinggi riset papan atas Australia itu, demikian informasi yang diterima ANTARA dari Indonesianis US, Prof.Adrian Vickers, di Brisbane, Jumat.
Dalam acara yang akan berlangsung dari pukul 13.00 hingga 17.30 WIB itu, sejumlah akademisi dan pimpian Universitas Sydney akan membahas berbagai isu dan tantangan pembangunan bersama mitra mereka dari UI, Universitas Hasanuddin, Universitas Airlangga, ITB, dan Universitas Gadjah Mada.
Dari Universitas Sydney, hadir Rektor US yang juga Gubernur New South Wales, Prof.Marie Bashir, Wakil Dekan dan Ketua Studi Asia Tenggara Fakultas Seni, Prof.Adrian Vickers, Wakil Presiden US (internasional), dan Prof.John Hearn, Prof.Peter McMinn (Fakultas Kedokteran).
Seterusnya Asosiat Prof.Michael Dibley (Sekolah Kesehatan Masyarakat), Prof.Greg Hancock (Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi Informasi), dan Dr.Lesley Harbon (dosen senior Fakultas Pendidikan dan Kerja Sosial).
Dari Indonesia, selain Mendiknas Bambang Sudibyo, hadir pula Rektor UI, Prof.Dr.des Soz.Gumilar Rusliwa Somantri, Rektor Unhas Prof.Dr.Idrus A.Paturusi, Wakil Rektor Unair Prof.Dr.Soetjipto, Dekan Fakultas Hukum UI Prof.Dr.Hikmahanto Juwana, Rektor ITB Prof.Dr.Ir.Djoko Santoso, dan Rektor UGM Prof.Dr.Ir.Sudjarwadi.
Di antara masalah sains kedokteran dan kesehatan masyarakat yang disoroti dalam simposium itu adalah peran kesehatan masyarakat dalam bencana alam, bioteknologi untuk mencegah "viral encephalitis" di Asia Tenggara, dan model kolaborasi riset di Indonesia untuk menanggulan
gi masalah wabah pe
nyakit menular.
Isu sains sosial dan teknik yang akan dibahas meliputi masalah reformasi administrasi publik dalam merespon tantangan global, peran universitas riset dan pembangunan bagi industri, pembangunan bidang pendidikan teknik (kasus Australia), serta orientasi penelitian untuk masyarakat.
"Tahun emas" studi Indonesia
Selain acara simposium di Jakarta itu, Universitas Sydney merayakan acara puncak 50 tahun kehadiran Departemen Studi Indonesia (DIS) itu pada 15 Agustus 2008.
Acara puncak peringatan "tahun emas" DIS tersebut ditandai dengan reuni para alumni yang turut dihadiri undangan dari unsur kedutaan besar, konsulat RI, Asosiasi Australia-Indonesia (AIA) dan Dewan Bisnis Australia-Indonesia (AIBC).
Kehadiran studi bahasa dan budaya Indonesia di US tidak dapat dilepaskan dari sosok Dr Frits van Naerssen karena dia adalah dosen senior yang mengajar. Akademisi asal Belanda ini memimpin DIS hingga 1960-an.
Eksistensi DIS Universitas Sydney itu telah membantu generasi baru Australia "menemukan" Asia dan berkenalan dengan isu-isu politik kawasan.
Disebutkan, banyak di antara para lulusan DIS menjadi akademisi terkemuka tidak hanya di Australia tetapi juga di Universitas Princeton dan Leiden. Selain itu, banyak juga di antara para alumninya yang meniti karir sebagai penulis, diplomat, guru, pekerja sosial, wartawan, dan pengusaha yang sukses.
Dalam perjalanannya, DIS terus membangun jaringan kerja sama antar-akademisi Indonesia dan Australia, termasuk menghasilkan para lulusan doktor di bidang-bidang studi seperti sastra, politik, dan arsitektur.

No comments:
Post a Comment