Lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an mengawali pembukaan konser musik nasyid "Sounds of Light" yang diselenggarakan sebuah organisasi kemanusiaan Muslim di gedung Pusat Seni Pertunjukan Queensland (QPAC) Brisbane, Jumat malam (27/6), untuk mengumpulkan dana publik bagi anak-anak yatim piatu.Ayat-ayat suci itu dilantunkan seorang remaja putra keturunan Arab. Hafiz (penghafal Al Qur'an) ini membacakan ayat 133 sampai 136 dari Surat Ali Imran dan Ad Dhuha sebelum acara hiburan yang diselingi dengan pengumpulan dana dan penjaringan para orang tua asuh bagi anak-anak yatim piatu di berbagai negara Muslim itu dimulai.
Untuk bisa menonton konser amal yang menghadirkan para penyanyi nasyid kaliber internasional ini, setiap orang harus membeli tiket masuk. Bagi mereka yang duduk di 10 barisan kursi bagian depan, mereka membayar tiket seharga minimal 80 dolar Australia (lebih dari Rp640 ribu-red.).
Di konser bertema "Road to Goodness" (Jalan menuju Kebaikan) itu, panitia menghadirkan Mohamed Abu Ratib, penasyid Syria, Zain Bhikha, penasyid Afrika Selatan yang didukung dua pemain perkusi dan empat penyanyi latar, serta kelompok band nasyid beraliran Hip-Hop dan Rap yang populer asal Amerika Serikat, "Native Deen".
Panitia juga mengundang Nazeem Hussain, komedian Muslim Australia yang terkenal karena peran sentralnya sebagai personil dan penulis program acara "Salam Cafe" di Stasiun Televisi "SBS", untuk "mengocok" perut hadirin dengan humor-humor segarnya di seputar isu hubungan Muslim dan non-Muslim di Australia, maupun isu jihad, jilbab, dan kekonyolan pandangan Barat tentang Islam dan Muslim. Para pengunjung tak kuasa menahan tawa.
Nazeem berpesan kepada hadirin untuk tidak takut menampilkan identitas keislaman dan melakukan apa saja yang baik dalam kehidupan mereka di Australia.
Dalam masalah jilbab, dengan gaya komediannya, ia bertanya mengapa orang-orang non-Muslim tidak mempermasalahkan tata cara berpakaian para biarawati Katolik yang juga mirip jilbab. Sebaliknya, mengapa banyak orang yang justru mempersoalkan cara Muslimah (perempuan Muslim) berjilbab.
Kalau para biarawati dianggap normal berbusana mirip jilbab, Muslimah berjilbab lantas dikait-kaitkan dengan isu "keamanan nasional", kata komedian Muslim asal Melbourne ini menyindir pandangan orang-orang picik yang mengaitkan Muslim dengan terorisme.
Di sepanjang acara yang dipandu Ahmed Imam, personil Salam Cafe, selama lebih dari dua tengah jam, para penonton, termasuk anak-anak yang datang bersama orang tua mereka, tidak beranjak dari tempat duduk karena mereka menikmati lagu-lagu nasyid berbahasa Arab dan Inggris dari para musisi yang semuanya pria itu.
Penyanyi pria asal Syria, Abu Ratib, tampil pertama dengan membawakan empat lagu nasyid berbahasa Arab yang penuh dengan pesan damai dan toleransi Islam, serta pujian kepada Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad SAW) dengan dukungan sistim pencahayaan yang apik.
Setelah penampilan pria Syria yang kini berdomisili di Amerika Serikat itu, giliran penyanyi nasyid asal Afrika Selatan, Zain Bhikha menghibur para penonton dengan lagu-lagu andalannya, seperti "Mountains of Mecca" (Pegunungan Mekah), "Al Khaliq" (Sang Maha Pencipta), dan "The Orphan Child" (Anak Yatim).
Zain pun melantunkan lagu "Peace Train" (Kereta Api Perdamaian) karya Cat Stevens (Yusuf Islam) yang syarat dengan pesan perdamaian dan kemanusiaan.
Puncak dari konser amal yang berlangsung di gedung QPAC kawasan wisata South Bank Brisbane ini adalah penampilan "Native Deen", kelompok band perkusi Islami yang fenomenal di AS.
Pada acara malam amal itu, tidak tampak penyanyi Naeem Muhammad. Vokalis "Native Deen" yang tampil adalah Abdul Malik Ahmad dan Joshua Salaam. Namun absennya Naeem Muhammad tidak mengurangi daya magnet lagu-lagu nasyid bernuasan Hip-Hop dan Rap Afro-Amerika yang syarat dengan pesan Islam yang damai.
Sepanjang penampilan mereka yang didukung permainan drummer (Tariq Snare) dan dua pemain perkusi yang handal, Abdul Malik dan Joshua "menggoyang" ratusan pengunjung dengan lima lagu hit mereka, termasuk "Not Afraid to Stand Alone", "Zamilooni" dan "Small Deeds".
Dalam komunikasinya dengan penonton yang duduk rapi di kursi masing-masing selama konser, Joshua yang lahir di Camden, New Jersey tahun 1973 ini menuturkan alasan mengapa "Native Deed" mau datang jauh-jauh dari AS ke Australia.
"Kami datang ke sini karena panggilan Allah SWT," katanya yang kemudian disambut ungkapan takbir dari sejumlah penonton. Keriuhan mengisi ruang aula konser gedung QPAC itu saat dua personil "Native Deen" meminta para penonton untuk meneriakkan kata "Deen" saat mereka menyebut kata "Native".
Dari konser "Sounds of Light" 2008 di Brisbane ini, Human Appeal International Australia berhasil mengumpulkan uang sumbangan langsung sebesar 10 ribu dolar Australia dan komitmen bantuan keuangan untuk 125 orang anak yatim piatu dari para penonton.
Setelah tampil di Brisbane, "Native Deen" melanjutkan konser amal mereka di Vodafone Arena Melbourne pada 28 Juni dan Acer Arena Sydney pada 29 Juni.
*) My news for ANTARA on June 28, 2008


No comments:
Post a Comment