Tuesday, June 17, 2008

KONSULAT RI DARWIN JADI "LABORATORIUM" MUSIK NUSANTARA BAGI SISWA AUSTRALIA

Konsulat RI Darwin menjadi laboratorium para siswa Australia yang tertarik untuk mengenal dan mempelajari beberapa alat musik tradisional Nusantara, seperti gamelan, kolintang, dan angklung.

Kabid Penerangan Sosial dan Budaya Konsulat RI Darwin, Arvinanto Soeriaatmadja, dalam penjelasannya, Selasa, mengatakan, pihaknya menyambut baik keinginan siswa sekolah-sekolah di negara bagian Northern Territory (NT) yang hendak belajar alat musik etnis Indonesia.

"Bahkan kita akan mengirim grup gamelan kita ke sekolah-sekolah yang tertarik namun karena satu dan lain hal para siswa dan gurunya tidak bisa datang ke Konsulat," katanya.

Sebagai contoh, pihaknya sudah menawarkan pengiriman grup gamelan ke pimpinan "Moulden Park School" Palmerston untuk tampil sembari memberikan pelatihan kepada para siswa di sekolah itu.

"Pada awalnya pihak sekolah berkeinginan mengirim rombongan siswanya ke Konsulat pada 20 Juni. Tapi kita menawarkan bahwa kita yang datang karena sulitnya waktu mereka. Yang menjadi instruktur gamelan adalah orang Indonesia bernama Pak Pribadi," katanya.

Selama ini, para pemain gamelan Konsulat RI Darwin merupakan gabungan antara warga negara Indonesia dan Australia. "Selain Pak Pribadi, para pemainnya adalah Wahono (staf Konsulat), Oliver (warga negara Australia), Mike (Australia), Ati (WNI), dan dua anak Pak Oliver berumur kurang dari sepuluh tahun," katanya.

Selain menjadikan sekolah sasaran diplomasi budaya melalui pengenalan dan pemasyarakatan musik tradisional Indonesia, tim gamelan Konsulat RI Darwin juga aktif memenuhi undangan tampil di universitas.

"Pada akhir pekan lalu, tim gamelan kita sempat tampil sebagai pembuka acara kelompok musik 'Center Youth Music' di teater Universitas Charles Darwin (CDU)," katanya.

Disamping gamelan, selama ini warga Indonesia dan Australia, khususnya yang berdomisili di kota Darwin dan sekitarnya, juga melakukan latihan rutin bermain Kolintang setiap pekannya.

"Untuk Kolintang, kita sudah punya instruktur Pak Fritz. Latihan dilakukan setiap Rabu malam dengan anggota ibu Fritz dan beberapa anggota masyarakat Indonesia. Namun untuk Angklung kita masih terus mengusahakan instrukturnya," kata Arvinanto.

*) My news for ANTARA on June 17, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity