Tuesday, May 13, 2008

PM AUSTRALIA MUNCULKAN OPTIMISME PADA MASA DEPAN BAHASA ASING

Pakar bahasa Universitas Melbourne, Prof.J. Lo Bianco, mengatakan, masa depan pengajaran bahasa-bahasa asing di Australia kini cukup prospektif dilihat dari beberapa perkembangan yang ada, termasuk ekspose kemampuan berbahasa asing oleh sang perdana menteri.

Pandangan optimistis itu disampaikan Prof.Bianco dalam kuliah umumnya di depan puluhan anggota civitas akademika Universitas Queensland (UQ) dalam rangka peringatan Tahun Internasional Bahasa-Bahasa PBB dan Pekan Kebhinnekaan (Diversity Week) UQ di Brisbane, Selasa.

Ia mengatakan, selain adanya ekspose kemampuan berbahasa selain bahasa Inggris oleh Perdana Menteri Kevin Rudd, perkembangan positif lain adalah deklarasi KTT 2020 di Canberra baru-baru ini yang menempatkan posisi penting bahasa-bahasa asing, riset di sekolah-sekolah, serta peliputan positif media tentang bahasa asing.

Perkembangan-perkembangan ini memunculkan optimisme di tengah terjadinya degradasi penguasaan lebih dari satu bahasa di kalangan rakyat Australia, termasuk kalangan siswa dan mahasiswa negara itu.

Prof.Bianco mengatakan, secara sosiologis, bilingualisme atau kemampuan seseorang untuk berbahasa lebih dari satu bahasa cenderung hanya terjadi di kalangan masyarakat Australia keturunan Aborigin dan migran asing, serta individu-individu tertentu dalam masyarakat yang memang suka mempelajari bahasa asing.

Sementara itu, orang-orang Australia yang merupakan penutur asli bahasa Inggris cenderung menjadi "mono lingual" akibat semakin sedikit saja di antara mereka yang belajar bahasa selain bahasa Inggris (LOTE) di sekolah-sekolah dan universitas-universitas, katanya.

Relatif kecilnya alokasi dana bagi program pengajaran bahasa asing dan terlalu sedikitnya jumlah bahasa asing yang diajarkan menimbulkan sikap skeptis, katanya.

Dilihat dari sejarah pengajaran bahasa-bahasa asing, khususnya Asia, di Australia, bahasa Indonesia misalnya sudah mulai diajarkan di sekolah-sekolah di negara bagian Victoria sejak tahun 1960-an, katanya.

Pengajaran bahasa Indonesia itu kemudian diikuti oleh pengajaran bahasa Vietnam dan Khmer sebagai bahasa komunitas pada 1970-an, bahasa Jepang pada 1980-1990-an dan bahasa China pada 2000.

Sejauh ini, isu-isu di seputar pentingnya pengajaran bahasa asing, khususnya bahasa-bahasa Asia, cenderung lebih nyaring disuarakan oleh kalangan elit bisnis dan diplomasi di Australia karena adanya tuntutan-tuntutan seperti integrasi Australia dengan kawasan Asia Pasifik, perdagangan, dan keamanan nasional, katanya.

Dalam memberhasilkan tujuan pengajaran LOTE di sekolah-sekolah, Prof.Bianco menggarisbawahi pentingnya kolaborasi atau kerja sama antara pihak sekolah dengan masyarakat, seperti yang telah dikembangkan kalangan pendidikan di Adelaide, Australia Selatan.

Kuliah umum Prof.Bianco yang mendapat perhatian besar dari wakil rektorat, pakar bahasa, birokrat departemen pendidikan negara bagian Queensland, dan mahasiswa UQ itu dilanjutkan dengan diskusi panel tentang masalah dan solusi terhadap kondisi pengajaran bahasa asing di lembaga pendidikan di Queensland.

Disebutkan, secara nasional, jumlah siswa kelas 12 di SMA Australia yang mengambil program LOTE pada 1960-an mencapai 40 persen namun persentasenya kini menurun menjadi sekitar 13 persen.

*) My news for ANTARA on May 13, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity