Pakar bahasa Universitas Melbourne, Prof.J. Lo Bianco, mengatakan, masa depan pengajaran bahasa-bahasa asing di Australia kini cukup prospektif dilihat dari beberapa perkembangan yang ada, termasuk ekspose kemampuan berbahasa asing oleh sang perdana menteri.Pandangan optimistis itu disampaikan Prof.Bianco dalam kuliah umumnya di depan puluhan anggota civitas akademika Universitas Queensland (UQ) dalam rangka peringatan Tahun Internasional Bahasa-Bahasa PBB dan Pekan Kebhinnekaan (Diversity Week) UQ di Brisbane, Selasa.
Ia mengatakan, selain adanya ekspose kemampuan berbahasa selain bahasa Inggris oleh Perdana Menteri Kevin Rudd, perkembangan positif lain adalah deklarasi KTT 2020 di Canberra baru-baru ini yang menempatkan posisi penting bahasa-bahasa asing, riset di sekolah-sekolah, serta peliputan positif media tentang bahasa asing.
Perkembangan-perkembangan ini memunculkan optimisme di tengah terjadinya degradasi penguasaan lebih dari satu bahasa di kalangan rakyat Australia, termasuk kalangan siswa dan mahasiswa negara itu.
Prof.Bianco mengatakan, secara sosiologis, bilingualisme atau kemampuan seseorang untuk berbahasa lebih dari satu bahasa cenderung hanya terjadi di kalangan masyarakat Australia keturunan Aborigin dan migran asing, serta individu-individu tertentu dalam masyarakat yang memang suka mempelajari bahasa asing.
Sementara itu, orang-orang Australia yang merupakan penutur asli bahasa Inggris cenderung menjadi "mono lingual" akibat semakin sedikit saja di antara mereka yang belajar bahasa selain bahasa Inggris (LOTE) di sekolah-sekolah dan universitas-universitas, katanya.
Relatif kecilnya alokasi dana bagi program pengajaran bahasa asing dan terlalu sedikitnya jumlah bahasa asing yang diajarkan menimbulkan sikap skeptis, katanya.
Dilihat dari sejarah pengajaran bahasa-bahasa asing, khususnya Asia, di Australia, bahasa Indonesia misalnya sudah mulai diajarkan di sekolah-sekolah di negara bagian Victoria sejak tahun 1960-an, katanya.
Pengajaran bahasa Indonesia itu kemudian diikuti oleh pengajaran bahasa Vietnam dan Khmer sebagai bahasa komunitas pada 1970-an, bahasa Jepang pada 1980-1990-an dan bahasa China pada 2000.
Sejauh ini, isu-isu di seputar pentingnya pengajaran bahasa asing, khususnya bahasa-bahasa Asia, cenderung lebih nyaring disuarakan oleh kalangan elit bisnis dan diplomasi di Australia karena adanya tuntutan-tuntutan seperti integrasi Australia dengan kawasan Asia Pasifik, perdagangan, dan keamanan nasional, katanya.
Dalam memberhasilkan tujuan pengajaran LOTE di sekolah-sekolah, Prof.Bianco menggarisbawahi pentingnya kolaborasi atau kerja sama antara pihak sekolah dengan masyarakat, seperti yang telah dikembangkan kalangan pendidikan di Adelaide, Australia Selatan.
Kuliah umum Prof.Bianco yang mendapat perhatian besar dari wakil rektorat, pakar bahasa, birokrat departemen pendidikan negara bagian Queensland, dan mahasiswa UQ itu dilanjutkan dengan diskusi panel tentang masalah dan solusi terhadap kondisi pengajaran bahasa asing di lembaga pendidikan di Queensland.
Disebutkan, secara nasional, jumlah siswa kelas 12 di SMA Australia yang mengambil program LOTE pada 1960-an mencapai 40 persen namun persentasenya kini menurun menjadi sekitar 13 persen.
*) My news for ANTARA on May 13, 2008

No comments:
Post a Comment