Kelompok mahasiswa Katolik Universitas Nasional Australia (ANU) di Canberra tertarik dengan fenomena keharmonisan Muslim dan non-Muslim Indonesia sebagaimana tercermin dalam acara silaturrahmi setelah shalat Idul Fitri, kata seorang peserta program Pertukaran Pemimpin Muslim Australia-Indonesia (AIME)."Ketika kita ke ANU, kita bertemu dengan beberapa mahasiswa Katolik ANU. Mereka sangat terkesan dengan program KBRI Canberra menggelar acara makan bersama seusai shalat Idul Fitri dengan mengundang para penganut agama yang berbeda," kata Dosen IAIN Sunan Gunung Djati Ayi Yunus Rusyana dalam wawancara per telepon dengan ANTARA Selasa malam.
Ayi Yunus Rusyana yang juga Sekretaris Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah Jawa Barat ini adalah salah seorang dari tiga peserta AIME gelombang kedua 2008. Saat dihubungi, Ayi bersama dua orang peserta AIME lainnya, Amika Wardana dan Pridiyanto, tengah berada di Canberra.
Dalam pertemuan dengan enam orang anggota komunitas Katolik ANU yang dipimpin Laurie Foot itu, mereka sempat bertanya apakah fenomena yang mereka temukan di KBRI Canberra tersebut merupakan "kebiasaan" yang jamak di Indonesia, kata Ayi.
Ia dan dua peserta AIME lainnya menjelaskan bahwa berdasarkan pengalaman selama ini, hal yang sama juga telah lama berlangsung di banyak tempat di Indonesia. "Ini adalah bukti toleransi umat Islam Indonesia," katanya.
Dalam kehidupan sosial antarumat beragama di Indonesia, toleransi dan kondisi harmonis ini menjadi bukti bahwa tradisi umat Islam Indonesia jauh dari penggambaran media Barat yang masih cenderung mengidentikkan Islam dengan kekerasan, katanya.
Dalam bagian penjelasannya, aktivis Muhammadiyah asal Jawa Barat itu juga menyinggung tentang pengalaman dirinya dan peserta AIME lainnya bertemu dengan komunitas Yahudi di Melbourne.
"Ini betul-betul pengamanan yang sangat baru khususnya bagi saya. Kita bertemu di sinagog. Sayangnya kita tidak sempat berdiskusi panjang lebar karena kita berkunjung pada hari Sabtu saat mereka siap-siap bersembahyang," katanya.
Dari kunjungan ke sinagog itu, ia mengatakan, setidaknya ia dapat langsung melihat bagaimana komunitas Yahudi menjalankan ritual agamanya.
Ketiga tokoh muda Muslim Indonesia itu memulai kegiatan AIME gelombang kedua 2008 dari Melbourne pada 28 April. Setelah berada di kota itu hingga 3 Mei, mereka melanjutkan program yang sama di Canberra (3-7 Mei). Selama di Canberra mereka dibantu Koordinator Program AIME Canberra, Dr.Teddy Mantoro.
Kota terakhir yang mereka kunjungi adalah Sydney. Sebelum meninggalkan Canberra menuju Sydney, Rabu siang, ketiga peserta program AIME ini sempat mengunjungi sekolah Islam di Canberra serta berdiskusi dengan Kepala Sekolah, Dr.Imam Ali, serta Presiden Federasi Dewan Islam Australia (AFIC) Iqbal Patel.
*) My news for ANTARA on May 7, 2008

No comments:
Post a Comment