Saturday, May 3, 2008

BUPATI SRAGEN: BANGSA INDONESIA TIDAK PATUT MISKIN

Bupati Sragen, Untung Wiyono, mengatakan bangsa Indonesia jangan pernah berputus asa dan kehilangan optimismenya pada masa depan karena Tuhan telah menganugerahkan mereka negeri yang kaya raya dan tidak akan membuat mereka hidup miskin.

"Optimisme kita sebagai bangsa harus kita bangun. Kita harus bangkit kembali. Kalau dulu para pendahulu kita berikrar merdeka atau mati, sekarang kita berjuang untuk sejajar dengan bangsa-bangsa lain atau (kita) mati," katanya.

Pandangannya itu ia sampaikan kepada ANTARA yang mewawancarainya via telepon Jumat malam beberapa sesaat sebelum ia berbicara di depan komunitas Indonesia di Melbourne atas undangan Konsulat Jenderal RI di kota itu.

Selain berbicara di depan komunitas Indonesia, Untung Wiyono juga menjadi pembicara dalam sesi hari kedua Konferensi Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) menyambut "100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional" dan "10 Tahun Reformasi", Sabtu.

Untung Wiyono mengatakan, untuk membangkitkan optimisme dan kemampuan bangsa menjawab berbagai persoalan pelik kebangsaan itu, ada dua pendekatan yang sangat penting untuk disemai dan ditumbuh-kembangkan oleh seluruh komponen bangsa.

"Kedua pendekatan itu adalah kepekaan sosial dan kepekaan kasih sayang," katanya.

Kemiskinan yang mendera kehidupan puluhan juta jiwa rakyat Indonesia dapat teratasi jika kepekaan sosial orang-orang kaya terhadap lingkungan sekitar mereka baik karena budaya Indonesia itu pada intinya adalah "gotong royong", kata Untung Wiyono.

Yang tak kalah pentingnya adalah membangun kepekaan kasih sayang dengan senantiasa mengedepankan budaya "musyawarah dan mufakat" dalam merespons persoalan-persoalan bersama, katanya.

Untung Wiyono mengatakan, dengan anugerah Tuhan yang besar berupa kekayaan alam dan tanah yang relatif subur kepada bangsa Indonesia, tidak sepatutnya bangsa ini miskin dan kekurangan sandang maupun pangan.

Salah satu kebiasaan positif yang harus ditumbuhkan secara terus-menerus dalam diri setiap individu Indonesia adalah semangat "mencintai produk bangsa sendiri", katanya.

Dengan 220 juta jiwa penduduk, bangsa Indonesia sepatutnya mampu berswasembada sandang dan pangan jika mereka benar-benar berkomitmen pada pemakaian produk-produk dalam negeri, katanya.

"Kalau kita berkomitmen pada produksi pangan kita sendiri, kita tidak akan kelaparan. Nenek moyang kita saja bisa hidup. Begitu juga dengan sandang,"katanya.

Putus kontrak

Tentang masalah kekayaan alam, seperti minyak dan gas bumi, Untung Wiyono berpendapat bahwa bangsa ini pun jangan pernah takut untuk memutuskan kontrak dengan pihak manapun.

"Jangan takut-takut untuk memutuskan kontrak dan melakukan optimalisasi produk. Teknologi dunia sekarang ini sudah canggih dan kita harus mampu mengontrol (kekayaan alam kita)," katanya.

Bangsa ini tidak akan melarat kalau mampu mengolah dan mengontrol kekayaan alam yang ada di dalam tanah, hutan, maupun laut karena bangsa ini tidak kekurangan apapun sebagai berkah dari Tuhan, kata bupati yang dinilai banyak kalangan berprestasi ini.

Sementara itu, terkait dengan kehadiran Untung Wiyono di tengah-tengah pelajar dan mahasiswa Indonesia, Konsul Jenderal RI di Melbourne, Budiarman Bahar, mengatakan, pihaknya mengundang Bupati Sragen, Untung Wiyono, untuk berbagi pengalaman suksesnya sekaligus menjadi bukti kongkrit masa depan Indonesia.

Kehadiran Untung Wiyono itu diharapkan dapat menumbuhkan optimisme baru kaum muda pada masa depan bangsanya, kata Budiarman.

Selain Untung Wiyono, konferensi PPIA tersebut juga menghadirkan sejumlah pembicara lain. Mereka adalah Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb, Indonesianis Universitas Victoria, Prof. Richard Chauvel, Prof.Arief Budiman (Universitas Melbourne), dan Chusnul Mar'iyah, PhD (Universitas Indonesia).

Seterusnya Elfansuri Chairah, SIP (Universitas Murdoch), Luky Djani (Universitas Murdoch), dan Nani Pollard (Universitas Melbourne).

Konferensi yang mengusung "suara para pemimpin masa depan Indonesia" itu juga diisi dengan pemaparan 40 makalah terpilih akademisi muda, temu wicara, pemutaran film serta pameran foto dan karya seni.

Kebangkitan nasional yang resmi diperingati pada 20 Mei setiap tahun itu merujuk pada peristiwa sejarah tahun 1908, sedangkan 10 tahun reformasi berhubungan dengan berakhirnya era pemerintahan Orde Baru yang ditandai dengan pengunduran diri Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

*) My news for ANTARA on May 3, 2008

1 comment:

Anonymous said...

All pizza places of USA http://pizza-us.com/ohio/Columbus/Classic%20Pizza/43231/

Find your best pizza.

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity