
Ratusan orang nelayan Muslim asal Indonesia yang kini ditahan di Pusat Penahanan Darwin, Northern Territory (NT), Australia, bisa sedikit lega karena mereka sudah bisa melaksanakan shalat Jumat sendiri di dalam kompleks tahanan setelah otoritas Australia mengizinkan kehadiran seorang imam shalat.
"Dengan kehadiran imam shalat Jumat di 'detention center' (pusat penahanan) itu, kondisi emosi para nelayan kita yang sedang ditahan di sana sudah lebih terjaga. Cara ini mendapat apresiasi dari pihak Australia," kata Konsul RI di Darwin, Harbangan Napitupulu, dalam penjelasannya kepada ANTARA, Selasa.
Ia mengatakan, terobosan mendatangkan seorang warga Indonesia untuk menjadi imam dan khatib shalat Jumat sudah mulai berlangsung Jumat pekan lalu berkat kerja sama otoritas Pusat Penahanan Darwin dengan Konsulat RI dan komunitas Muslim Indonesia di kota itu.
Napitupulu mengatakan, saat ini setidaknya ada 253 orang nelayan Indonesia yang ditahan di Pusat Penahanan Darwin. Sebagian besar adalah para nelayan Muslim asal Sulawesi Selatan, seperti Pulau Buton.
"Semakin banyaknya nelayan kita yang ditahan di 'detention center' itu, upaya mendatangkan seorang imam shalat Jumat ini sangat membantu mereka. Selama ini, karena keterbatasan mobil dan petugas 'detention center', hanya 12 orang nelayan saja yang bisa diangkut ke Masjid 'Islamic Center' Darwin setiap Jumat," katanya.
Pada Jumat lalu, beberapa orang staf Konsulat RI bersama warga Indonesia di Darwin, termasuk Kepala Perwakilan Garuda Indonesia di Darwin, Sahrul Tahir, ikut bersama imam melakukan shalat Jumat di pusat penahanan para nelayan, katanya.
Di antara staf Konsulat RI Darwin yang ikut shalat Jumat adalah Sekretaris I/Pensosbud Avianto Suryaatmaja.
Diplomat yang baru dua minggu bertugas di Konsulat RI Darwin ini mengatakan, otoritas pusat penahanan para nelayan Indonesia itu menyambut baik terobosan mendatangkan seorang imam shalat Jumat karena cara ini terbukti efektif dan membantu upaya meredam emosi para nelayan.
Baru-baru ini, seorang nelayan Indonesia yang ditahan mengalami frustrasi dan sempat memecahkan kaca di pusat penahanan nelayan asing di Darwin tersebut, katanya.
Avianto mengatakan aksi amuk seorang nelayan itu bersifat kasuistis dan merupakan akumulasi dari berbagai persoalan, seperti pengecekan kesehatan para nelayan yang berjalan lamban karena hanya ada dua dokter yang menangani begitu banyak nelayan.
"Pejabat eksekutif Pusat Penahanan Darwin, Julie Furby, menyambut baik kehadiran imam shalat Jumat ini karena setelah shalat Jumat kemarin, para nelayan kita langsung bersalam-salaman dengan para petugas 'detention center'," katanya.
Para nelayan yang kini ditahan itu adalah mereka yang ditangkap kapal-kapal patroli Australia pada periode Maret dan April 2008, katanya.
Hari Senin (12/5), ia mendampingi Konsul RI Darwin, Harbangan Napitupulu, bertemu dengan dua pejabat perikanan Australia, Peter Vensloves dan Adam Fenton, berkaitan dengan kasus-kasus nelayan Indonesia.
Dalam pertemuan itu, pada intinya Direktur Regional Otoritas Manajemen Perikanan Australia (AFMA), Peter Vensloves, bermaksud untuk bertemu 10 orang kapten kapal ikan Indonesia, dan AFMA setuju agar staf Konsulat RI Darwin ikut mendampingi para nakhoda kapal ikan selama pertemuan, katanya.

No comments:
Post a Comment