Thursday, May 15, 2008

AUSTRALIA BAYAR KOMPENSASI KEPADA KAPAL-KAPAL NELAYAN INDONESIA

Pemerintah RI menyambut baik janji Menteri Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia, Tony Burke, membayar kompensasi kepada kapal-kapal nelayan Indonesia yang terbukti tidak melanggar kedaulatan perairan negara itu namun terlanjur ditenggelamkan kapal-kapal patroli Australia.

Konsul RI di Darwin Harbangan Napitupulu kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Kamis, mengatakan, adanya keputusan pemerintah federal Australia itu membuktikan bahwa hak-hak hukum para nelayan Indonesia yang terbukti tidak bersalah sesuai dengan hasil investigasi Australia benar-benar terlindungi.

Sejauh ini sudah ada sembilan kapal ikan Indonesia yang dinyatakan tidak bersalah. Dari sembilan kapal itu, sebanyak lima unit di antaranya sudah ditenggelamkan aparat keamanan Australia di tengah laut dan empat kapal lainnya masih utuh di perairan Darwin, Northern Territory (NT), katanya.

Ke sembilan kapal yang kesemuanya dijanjikan oleh Otoritas Manajemen Perikanan Australia (AFMA) akan menerima pembayaran kompensasi tersebut adalah bagian dari 33 kapal ikan nelayan Indonesia yang ditangkap kapal-kapal patroli Australia di laut Arafura sepanjang April lalu, katanya.

"Selain kompensasi bagi lima kapal yang sudah ditenggelamkan pada saat penangkapan, hari ini (Kamis) pihak AFMA juga menawarkan pembayaran kompensasi kepada para nakhoda dari empat kapal yang masih utuh selama mereka bersedia meninggalkan kapal-kapal mereka di Darwin dan mereka pulang naik pesawat," kata Napitupulu.

Besar nilai kompensasi yang akan dibayarkan pemerintah federal Australia kepada setiap kapal bervariasi antara Rp50 juta dan Rp100 juta tergantung pada kondisi dan besar ukuran kapal, katanya.

Untuk kepentingan pemulangan sebanyak 55 orang nelayan Indonesia yang telah ditegaskan Menteri Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Australia, Tony Burke, tidak bersalah itu, pihaknya akan secepatnya menerbitkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP), kata Napitupulu.

"Kita akan membantu sepenuhnya proses pemulangan para nelayan kita itu dengan mempercepat penerbitan SPLP mereka. Pembayaran kompensasi bagi kapal-kapal yang tidak bersalah ini adalah bagian dari 'out of court settlement' (penyelesaian kasus di luar pengadilan-red.)," katanya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Australia, Tony Burke, seperti dikutip ABC, mengatakan kepada parlemen negara itu bahwa sebanyak 55 orang nelayan Indonesia yang ditahan di Pusat Penahanan Darwin terbukti tidak melanggar kedaulatan perairan Australia.

Para nelayan ini akan dipulangkan ke Indonesia pada Sabtu (17/5). Mereka akan diberi kompensasi atas kapal-kapal mereka yang secara salah dihancurkan aparat Australia pada saat penangkapan, katanya.

Konsulat RI Darwin mencatat bahwa saat ini setidaknya ada 253 orang nelayan Indonesia yang ditahan di Pusat Penahanan Darwin. Sebagian besar adalah para nelayan asal Sulawesi Selatan, seperti Pulau Buton. Mereka merupakan awak dari 33 kapal ikan yang ditangkap otoritas Australia bulan lalu.

Terkait dengan perihal penangkapan kapal-kapal ikan Indonesia itu, Konsul RI Darwin Harbangan Napitupulu mengutip pengakuan banyak nelayan mengatakan, mereka ditangkap saat masih berada di dalam jurisdiksi perairan Indonesia.

Bahkan pada Rabu (14/5), lebih dari 200 nelayan Indonesia yang sedang ditahan di Pusat Pehananan Darwin, menggelar protes atas tindakan otoritas Australia yang mereka tuding telah menangkap kapal-kapal ikan mereka di dalam perairan Indonesia.

*) My news for ANTARA on May 15, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity