Sejarah penyebaran Islam yang dilakukan para saudagar Muslim asal Gurajat secara damai di Indonesia beberapa abad silam mematahkan tuduhan dan argumentasi bahwa agama yang diturunkan Allah SWT di jazirah Arab melalui Nabi Muhammad SAW itu disebarluaskan dengan jalan kekerasan.Sejarah masuknya agama yang kini dianut oleh lebih dari 80 persen penduduk Indonesia itu mengemuka dalam sesi tanya jawab acara "Dialog Muslim-Kristen" yang berlangsung sekitar tiga jam di kampus Universitas Queensland (UQ), St.Lucia, Senin malam.
Dalam acara dialog yang menampilkan Teolog Kristen Australia, Sam Green, dan Pakar Politik Islam dari Pusat Studi-Studi Islam Universitas Griffith, Halim Rane, itu, terungkap berbagai isu sensitif teologi, seperti kedudukan Jesus (Isa) dalam Kristen dan Islam, serta hal-hal yang terkait dengan sejarah politik dan hubungan Islam-Kristen.
Namun dialog yang diselenggarakan Perhimpunan Mahasiswa Kristen UQ itu berlangsung dalam suasana yang "cair" karena baik kedua pembicara utama maupun ratusan orang mahasiswa dan akademisi yang hadir tampak dewasa dalam bertanya dan menjelaskan posisi masing-masing.
Kedua pembicara sepakat bahwa dalam menginterpresikan makna dari ayat-ayat Injil Perjanjian Baru dan Lama maupun Al Qur'an, setiap orang sepatutnya melakukannya dengan memerhatikan konteks turunnya ayat-ayat tersebut untuk menghindari kekeliruan interpretasi.
Bagi Sam Green, karena Al Qur'an merupakan kumpulan dari wahyu-wahyu Tuhan sebagaimana kebenarannya diyakini kaum Muslimin, sepatutnya interpretasi dari isi kitab suci Muslim ini dapat dipahami tanpa semua orang harus menguasai dan lancar berbahasa Arab.
Pandangannya ini berbeda dengan apa diyakini Halim Rene. Menurut dia, penguasaan bahasa Arab justru sangat penting untuk membantu Muslim dan siapa pun supaya benar-benar bisa memahami Al Qur'an secara komprehensif dan sesuai konteks.
Sam Green dan beberapa hadirin juga sempat menyoroti masalah "penaklukan Islam".
Merespons masalah ini, Halim Rene mengatakan, sepatutnya orang tidak melihat persoalan "penaklukan Islam" semata-mata dari aspek teologis tetapi juga dari faktor politik yang berkembang pada era kekhalifahan dan kekaisaran saat itu.
Ia mengatakan, masuknya Islam ke sejumlah kawasan di dunia justru tidak melalui jalan militer melainkan jalan damai seperti perdagangan.
Untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh tentang Islam kepada ratusan hadirin yang mayoritas non-Muslim dalam waktu dialog yang terbatas itu, pakar keislaman yang merampungkan pendidikan doktornya di Universitas Griffith ini memaparkan secara lugas sirah (sejarah) Nabi Muhammad dan kedudukan Rukun Islam.
"Islam itu adalah agama yang diyakini dan dipraktikkan," kata cendekiawan muda Muslim Australia ini.
*) My news for ANTARA on April 14, 2008

No comments:
Post a Comment