Monday, April 14, 2008

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA DISINGGUNG DALAM DIALOG ISLAM-KRISTEN DI UQ

Sejarah penyebaran Islam yang dilakukan para saudagar Muslim asal Gurajat secara damai di Indonesia beberapa abad silam mematahkan tuduhan dan argumentasi bahwa agama yang diturunkan Allah SWT di jazirah Arab melalui Nabi Muhammad SAW itu disebarluaskan dengan jalan kekerasan.

Sejarah masuknya agama yang kini dianut oleh lebih dari 80 persen penduduk Indonesia itu mengemuka dalam sesi tanya jawab acara "Dialog Muslim-Kristen" yang berlangsung sekitar tiga jam di kampus Universitas Queensland (UQ), St.Lucia, Senin malam.

Dalam acara dialog yang menampilkan Teolog Kristen Australia, Sam Green, dan Pakar Politik Islam dari Pusat Studi-Studi Islam Universitas Griffith, Halim Rane, itu, terungkap berbagai isu sensitif teologi, seperti kedudukan Jesus (Isa) dalam Kristen dan Islam, serta hal-hal yang terkait dengan sejarah politik dan hubungan Islam-Kristen.

Namun dialog yang diselenggarakan Perhimpunan Mahasiswa Kristen UQ itu berlangsung dalam suasana yang "cair" karena baik kedua pembicara utama maupun ratusan orang mahasiswa dan akademisi yang hadir tampak dewasa dalam bertanya dan menjelaskan posisi masing-masing.

Kedua pembicara sepakat bahwa dalam menginterpresikan makna dari ayat-ayat Injil Perjanjian Baru dan Lama maupun Al Qur'an, setiap orang sepatutnya melakukannya dengan memerhatikan konteks turunnya ayat-ayat tersebut untuk menghindari kekeliruan interpretasi.

Bagi Sam Green, karena Al Qur'an merupakan kumpulan dari wahyu-wahyu Tuhan sebagaimana kebenarannya diyakini kaum Muslimin, sepatutnya interpretasi dari isi kitab suci Muslim ini dapat dipahami tanpa semua orang harus menguasai dan lancar berbahasa Arab.

Pandangannya ini berbeda dengan apa diyakini Halim Rene. Menurut dia, penguasaan bahasa Arab justru sangat penting untuk membantu Muslim dan siapa pun supaya benar-benar bisa memahami Al Qur'an secara komprehensif dan sesuai konteks.

Sam Green dan beberapa hadirin juga sempat menyoroti masalah "penaklukan Islam".

Merespons masalah ini, Halim Rene mengatakan, sepatutnya orang tidak melihat persoalan "penaklukan Islam" semata-mata dari aspek teologis tetapi juga dari faktor politik yang berkembang pada era kekhalifahan dan kekaisaran saat itu.

Ia mengatakan, masuknya Islam ke sejumlah kawasan di dunia justru tidak melalui jalan militer melainkan jalan damai seperti perdagangan.

Untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh tentang Islam kepada ratusan hadirin yang mayoritas non-Muslim dalam waktu dialog yang terbatas itu, pakar keislaman yang merampungkan pendidikan doktornya di Universitas Griffith ini memaparkan secara lugas sirah (sejarah) Nabi Muhammad dan kedudukan Rukun Islam.

"Islam itu adalah agama yang diyakini dan dipraktikkan," kata cendekiawan muda Muslim Australia ini.

*) My news for ANTARA on April 14, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity