Indonesianis, cendekiawan, pemuda dan diplomat Indonesia akan berhimpun dalam Konferensi "100 Tahun Kebangkitan Nasional" dan "10 Tahun Reformasi" yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) di Melbourne pada 2-3 Mei mendatang.Ketua Panitia Konferensi PPIA, Mohamad Fahmi, kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Jumat, mengatakan, konferensi dua hari yang mengusung tema "Suara Pemimpin Masa Depan Indonesia" itu menghadirkan tujuh orang pembicara utama dan 40 orang yang mengirimkan makalahnya untuk konferensi ini.
Ketujuh pembicara utama tersebut adalah Indonesianis Universitas Victoria, Prof. Richard Chauvel, Prof.Arief Budiman (Universitas Melbourne), Chusnul Mar'iyah, PhD (Universitas Indonesia), Elfansuri Chairah, SIP (Universitas Murdoch), Luky Djani (Universitas Murdoch), Untung Wiyono (Bupati Sragen), dan Nani Pollard (Universitas Melbourne), katanya.
Mohamad Fahmi mengatakan, para pembicara utama maupun 40 orang pemakalah terpilih akan mengaji masalah kebangkitan bangsa Indonesia dan persoalan yang melingkupi perjalanan bangsa dari aspek kesejarahan, kekinian, maupun harapan ke depan baik dalam sesi diskusi panel, paralel, maupun temu wicara.
"Masalah 'good governance' (kepemerintahan yang baik) di pemerintahan daerah merupakan salah satu isu yang diangkat. Namun dalam diskusi paralel, para mahasiswa, pemuda, dan intelektual Indonesia di Australia yang telah mengirim makalahnya akan memaparkan pandangan mereka," katanya.
"Yang pasti, kita ingin mengusung 'the voice of Indonesian future leaders' (suara para pemimpin masa depan Indonesia) dalam konferensi ini untuk mengetahui apa dan bagaimana pandangan mereka tentang sepuluh tahun reformasi," katanya.
Topik-topik yang mereka angkat sangat beragam, mulai dari masalah pendidikan, politik, militer, ekonomi, hingga kesehatan, kata mahasiswa Universitas Victoria ini.
Beberapa dari 40 orang penyumbang makalah di luar tujuh orang pembicara utama adalah I Ngurah Suryawan, Dedy Saputra, Reza Anggara, dan Heni Kurniasih.
Suryawan yang berasal dari Universitas Udayana Bali misalnya akan memaparkan tentang kajian budaya bertajuk "Di Tepi Gemerlap Dewata (Sweeping Penduduk Pendatang Pasca Bom Bali 2002 dan 2005", sedangkan Dedy selaku peneliti LIPI mengupas satu dekade reformasi dalam makalahnya yang berjudul "A Decade of REFORMASI : Why Does Indonesia Still Lag Behind in Science & Technology", katanya.
Selain peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional dan 10 Tahun Reformasi yang diselenggarakan PPIA cabang dan ranting yang ada di negara bagian Victoria bersama Atase Pendididikan dan Kebudayaan RI di KBRI Canberra serta Konsulat Jenderal RI Melbourne itu juga diisi dengan pemutaran film serta pameran foto dan karya seni.
"Hasil akhir dari konferensi ini adalah kita ingin menerbitkan buku yang akan diluncurkan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2008. Buku ini adalah sumbang pemikiran anak-anak bangsa untuk Indonesia yang lebih baik. Kita ingin semua orang mendapat manfaat dari buku itu nantinya," kata Mohamad Fahmi.
Ia mengatakan, sumbang pemikiran untuk Indonesia yang lebih baik itu diharapkan bisa menjadikan seluruh bangsa Indonesia senantiasa optimis dalam memandang masa depannya.
Buku ini nantinya berisi tulisan dalam bahasa Indonesia dan Inggris karena sejak awal panitia mengakomodir tulisan-tulisan yang ditulis dalam bahasa Inggris, disamping Indonesia, dan konferensi itu pun terbuka bagi orang-orang asing yang menaruh minat pada masalah Indonesia, katanya.
Selain dihadiri para cendekiawan dan kalangan kampus, konferensi itu direncanakan juga dihadiri para diplomat Indonesia, termasuk Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb.
"Insya Allah Dubes Thayeb akan hadir dalam acara yang berlangsung di kampus Universitas Victoria itu," kata Juru Bicara KBRI Canberra, Dino Kusnadi, dalam penjelasan terpisah.
Kebangkitan nasional yang resmi diperingati pada 20 Mei setiap tahun itu merujuk pada peristiwa sejarah tahun 1908, sedangkan 10 tahun reformasi berhubungan dengan berakhirnya era pemerintahan Orde Baru yang ditandai dengan pengunduran diri Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

No comments:
Post a Comment