Wednesday, April 9, 2008

ISLAM DI INDONESIA MASIH DIPANDANG "POSITIF" DI AUSTRALIA

Pandangan intelektual Australia tentang Islam di Indonesia relatif lebih baik dibandingkan Islam di negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah, kata Peneliti Muda Universitas Gadjah Mada (UGM), Yulianingsih Riswan.

Pandangan positif tentang Islam di Indonesia itu mengemuka dalam pertemuan empat peserta program Pertukaran Pemimpin Muda Muslim Australia-Indonesia (AIME) dengan sejumlah Indonesianis Australia, katanya dalam perbincangan dengan ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Selasa malam.

Yulianingsih Riswan, peneliti di Pusat Studi-Studi Agama dan Lintas Budaya UGM Yogyakarta itu berada di Australia selama dua minggu sejak akhir Maret lalu bersama tiga peserta AIME lainnya.

Tiga peserta AIME lainnya adalah Aktivis sayap wanita Muhammadiyah Jakarta, Artati Haris, Dosen dan Peneliti Universitas Paramadina,Jubaedah Yusuf, serta Pekerja sosial dan Pendiri Yayasan Martabat yang membantu penanganan anak-anak jalanan, Melati Adidamayanti.

Yulianingsih mengatakan, pandangan positif tentang Islam di Indonesia itu mengemuka saat mereka bertemu dan berbincang dengan Pakar Hukum Islam Universitas Melbourne, Prof Tim Lindsey, dan Pakar Politik Islam dan Nahdlatul Ulama (NU) Universitas Monash, Greg Barton, dalam rangkaian program AIME di Melbourne.

Menurut pandangan mereka, dalam proses perkembangannya, Indonesia terlihat "jauh lebih baik" dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim lainnya karena Indonesia membuka peluang bagi berkembangnya demokrasi dan toleransi, katanya.

Menjawab pertanyataan tentang "Islamophobia" atau ketakutan terhadap Islam di negara-negara Barat, seperti Australia, peneliti muda UGM ini berpendapat bahwa Islamophobia tidak dapat dilepaskan dari peran media massa.

Media massa, katanya, masih cenderung "memberikan" kabar buruk tentang Islam karena pola pemberitaan semacam itulah yang dianggap laku dijual ke publik mereka.

Dalam konteks Australia, Yulianingsih berpendapat, kalangan terdidik Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Australia bisa berperan dalam menyampaikan pesan yang benar dan utuh tentang Islam dan Indonesia kepada media dan masyarakat di negara itu.

Hanya saja, tampaknya kendala bahasa masih memengaruhi kemampuan umumnya orang-orang Muslim Indonesia di Australia dalam menyampaikan pesan yang utuh tentang Islam, katanya.

Apa yang disampaikan Yulianingsih tentang kontribusi media pada terciptanya Islamophobia itu diamini Aktivis perempuan Muhammadiyah, Artati Haris.

Artati mengatakan, sejumlah tokoh Katolik, Kristen dan Yahudi di Australia yang sempat ia dan peserta AIME lainnya jumpai juga menyadari betapa media berperanan besar dalam memengaruhi citra suatu agama, individu, maupun budaya tertentu.

"Media memegang peranan penting dalam propaganda tentang isu tertentu yang mungkin tidak sama dengan fakta yang sebenarnya."
"Dari sini kita menyadari bahwa saat mendengar satu berita sebaiknya dicek kembali. Dan peran 'resource persons' (orang-orang yang layak menjadi sumber) menjadi sangat penting sehingga kita terhindar dari distorsi informasi," katanya.

Pemahaman dari dialog
Namun melalui dialog yang intens antartokoh dan penganut agama dan kepercayaan yang berbeda itu akan terbangun pemahaman yang lebih baik di antara mereka mengenai agama, kepercayaan dan perabadan yang beragam di dunia ini, katanya.

Sebagai orang yang aktif di pusat dialog dan kerja sama antarperadaban di Jakarta, ia sangat meyakini bahwa semua agama mengajarkan kedamaian dan tidak ada satu agama yang menginginkan terjadinya peperangan dan konflik.

"Kalaupun terjadi konflik, agama tidak pernah menjadi penyebab konflik itu sendiri karena penyebab konflik umumnya adalah kepentingan politik dari orang-orang yang terlibat," kata Artati.

Kembali ke masalah "Islamophobia", Peneliti UGM Yulianingsih Riswan berpendapat bahwa fenomena itu tidak hanya terjadi di negara-negara Barat, seperti Australia, tetapi juga bisa terjadi di Indonesia sendiri.

Salah satu faktor penyebabnya adalah masalah ekonomi. Di Pulau Bali misalnya, kaum pendatang Muslim membawa serta budaya dan agamanya saat berdomisili dan menekuni usaha di pulau dewata itu, katanya.

Ditanya tentang kesannya tentang warga Australia yang menaruh perhatian terhadap studi-studi Islam Indonesia, ia mengatakan, umumnya mereka yang ingin lebih banyak mengetahui masalah keislaman di Indonesia masih bertumpu pada "Islam arus utama".

Yang dimaksud dengan "mainstream Islam" (Islam arus utama) itu adalah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah padahal keduanya belum seutuhnya mewakili wajah Islam Indonesia karena ada kelompok-kelompok Islam lain di dua organisasi ini, katanya.

Sejak mengawali program AIME ini di Melboure akhir Maret lalu, ke-empat aktivis perempuan Muslim Indonesia ini sudah bertemu dengan kalangan tokoh Muslim, Kristen, Yahudi, akademisi dan anggota parlemen di Melbourne dan Canberra.

Selama di Melbourne dari 31 Maret hingga 4 April lalu, selain bertemu dengan akademisi Universitas Melbourne dan Monash, serta aktivis yayasan multi-kultural setempat, mereka juga berkesempatan mengunjungi sinagog (rumah ibadah Yahudi).

Lalu dalam rangkaian kegiatan AIME di Canberra dari 5 hingga 9 April, mereka bertemu tokoh sepuh masyarakat Indonesia, Achdiat K.Mihardja, serta menghadiri dialog tentang minoritas Islam dan fobia Islam di Australia dengan para anggota berbagai organisasi keislaman Indonesia.

Mereka juga bertemu beberapa anggota Parlemen negara bagian Australian Capital Territory (ACT), Pengamat Islam Universitas Nasional Australia (ANU), Prof. Virginia Hooker, dan Pakar Teologi Universitas Charles Sturt Prof.James Haire.

Seterusnya mereka juga bertemu Jenny Cartmill dan Kate Taylor dari Australia-Indonesia Institute Kementerian Luar Negeri Australia, serta Dubes RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb.

Setelah dari Canberra ke-empat aktivis perempuan Muslim ini melanjutkan perjalanan ke Sydney. Selama lima hari (9-13 April) di kota itu, mereka kembali bertemu tokoh Islam, kalangan pendeta, aktivis hak azasi manusia, dan akademisi, serta berkunjung ke Stasiun TV ABC dan Suratkabar "Sydney Morning Herald".

Koordinator AIME Canberra, Dr.Teddy Mantoro, sebelumnya mengatakan bahwa ke-empat tokoh muda Muslimah Indonesia itu merupakan peserta AIME gelombang pertama dari tiga gelombang sepanjang 2008.

Para peserta gelombang kedua program yang didukung penuh Kementerian Luar Negeri Australia itu dijadwalkan tiba pada Mei 2008.

*) My news for ANTARA on April 9, 2008

1 comment:

Anonymous said...

Yes exactly, in some moments I can phrase that I jibe consent to with you, but you may be making allowance for other options.
to the article there is stationary a definitely as you did in the fall publication of this request www.google.com/ie?as_q=jcvgantt pro 3.0.0.9 ?
I noticed the catch-phrase you have in the offing not used. Or you profit by the black methods of inspiriting of the resource. I take a week and do necheg

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity