Aktivis perempuan Muhammadiyah, Artati Haris, berpendapat, ruang dialog yang melibatkan kaum muda Indonesia dan Australia harus lebih dibuka lebar dan diintensifkan untuk membangun pemahaman yang lebih baik dan mengikis "stereotipe" di antara kedua bangsa."Ruang-ruang dialog itu sepatutnya diperbanyak sehingga bisa mengeliminir kesalahpahaman dan 'stereotipe' kedua bangsa," katanya kepada ANTARA Selasa malam berkaitan dengan hasil kunjungan sementaranya selaku peserta program Pertukaran Pemimpin Muda Muslim Australia-Indonesia (AIME).
Aktivis yang kini aktif mendukung kegiatan dialog dan kerja sama antarperadaban Jakarta itu berada di Australia selama dua pekan sejak 31 Maret lalu untuk mengikuti program AIME.
Artati mengatakan,kesalahpahaman dan "stereotipe" umumnya terjadi karena elemen masyarakat Indonesia dan Australia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam komunitas masing-masing bangsa.
Dalam hal ini, media massa kedua negara memainkan peranan yang sangat besar dalam menciptakan opini publik tentang kedua negara bertetangga ini.
"Ruang-ruang dialog ini sepatutnya dibuka buat siapa saja walaupun untuk kepentingan yang jauh ke depan perlu diprioritaskan untuk pemuda," katanya.
Artati mengatakan, sebagai dua negara yang bertetangga, perbedaan akan selalu ada namun membangun kerja sama yang saling menguntungkan adalah sebuah keniscayaan bagi keduanya.
"Ke depannya, kita berharap ada lebih banyak program-program yang bisa meningkatkan pemahaman yang lebih baik bagi kedua bangsa karena sebagai dua negara yang bertetangga, kita tidak punya pilihan lain kecuali berjalan bersama dan bekerja sama menciptakan dunia yang lebih baik," katanya.
Selain Artati, AIME gelombang pertama untuk tahun 2008 ini juga diikuti oleh Yulianingsih Riswan, peneliti di Pusat Studi-Studi Agama dan Lintas Budaya UGM,Jubaedah Yusuf,dosen dan peneliti di Universitas Paramadina, serta Melati Adidamayanti,pekerja sosial dan pendiri Yayasan Martabat yang membantu penanganan anak-anak jalanan.
Sependapat dengan Artati, Yulianingsih Riswan mengatakan, keikutsertaannya dalam program AIME yang menekankan pada dialog dengan berbagai kalangan di Australia ini telah membantunya memperluas jaringan kerja sama baru.
Di tengah perbedaan alami yang dimiliki Indonesia dan Australia, ia mengatakan, kedua bangsa sebenarnya memiliki sejumlah kesamaan nilai dan keprihatinan seperti bagaimana agama merespons tantangan globalisasi.
Dari serangkaian pertemuan dengan berbagai kalangan dalam rangka program AIME baik di Melbourne maupun Canberra, Yulianingsih mengatakan, ia menemukan kuatnya semangat dalam masyarakat Australia untuk membangun dialog antarkepercayaan.
Semangat membangun dialog antariman (kepercayaan) itu pun sebenarnya dapat ditemukan di Yogyakarta.
Bahkan ketika sekelompok orang di Yogyakarta berdiskusi tentang bagaimana sebaiknya masyarakat merespon globalisasi, tanpa diketahui sebelumnya, ternyata ada juga sekelompok orang di Melbourne membicarakan topik masalah yang sama, katanya.
Hidup di satu dunia
"Artinya, kita hidup di satu dunia yang sama...," kata Yulianingsih.
Dalam konteks kesejarahan, Indonesia dan Australia juga sebenarnya telah memiliki hubungan yang sangat lama, terbukti dari adanya pengaruh Makassar dalam kosa kata bahasa Aborigin yang merupakan penduduk asli Benua Australia, katanya.
"Kita sempat bertemu dengan seorang Aborigin Muslim. Ternyata terdapat sejumlah kosakata yang sama antara Indonesia (Makassar-red) dan Aborigin," katanya.
Sejak mengawali program AIME ini di Melboure akhir Maret lalu, ke-empat aktivis perempuan Muslim Indonesia ini sudah bertemu dengan kalangan tokoh Muslim, Kristen, Yahudi, akademisi dan anggota parlemen di Melbourne dan Canberra.
Selama di Melbourne dari 31 Maret hingga 4 April lalu, mereka antara lain berdialog dengan aktivis yayasan multi-kultural dan akademisi Universitas Melbourne dan Universitas Monash.
Lalu dalam rangkaian kegiatan AIME di Canberra dari 5 hingga 9 April, mereka bertemu tokoh sepuh masyarakat Indonesia, Achdiat K.Mihardja, serta menghadiri dialog tentang minoritas Islam dan fobia Islam di Australia dengan para anggota berbagai organisasi keislaman Indonesia.
Mereka juga bertemu beberapa anggota Parlemen negara bagian Australian Capital Territory (ACT), Pengamat Islam Universitas Nasional Australia (ANU), Prof. Virginia Hooker, dan Pakar Teologi Universitas Charles Sturt Prof.James Haire.
Seterusnya mereka juga bertemu Jenny Cartmill dan Kate Taylor dari Australia-Indonesia Institute Kementerian Luar Negeri Australia, serta Dubes RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb.
Setelah dari Canberra ke-empat aktivis perempuan Muslim ini melanjutkan perjalanan ke Sydney. Selama lima hari (9-13 April) di kota itu, mereka kembali bertemu tokoh Islam, kalangan pendeta, aktivis hak azasi manusia, dan akademisi, serta berkunjung ke Stasiun TV ABC dan Suratkabar "Sydney Morning Herald".
Koordinator AIME Canberra, Dr.Teddy Mantoro, sebelumnya mengatakan bahwa ke-empat tokoh muda Muslimah Indonesia itu merupakan peserta AIME gelombang pertama dari tiga gelombang sepanjang 2008.
Para peserta gelombang kedua program yang didukung penuh Kementerian Luar Negeri Australia itu dijadwalkan tiba pada Mei 2008.

1 comment:
finally, i get it.
trimakasih bang Rahmad,
masih di brisban kah?
Post a Comment