Saturday, April 5, 2008

BANG AKBAR

Hotel Kartika Chandra di Jalan Gatot Soebroto Jakarta Sabtu ini (5/4) menjadi tempat perlehatan akbar peluncuran situs pribadi Akbar Tandjung, politisi tulen Indonesia yang tak lekang dimakan usia dan tak lenyap karena tak lagi “berkuasa”. Bang Akbar tak ada matinye!!! Mungkin ungkapan yang populer diucapkan anak-anak gaul ibukota ini tidaklah berlebihan mengingat begitu telanjangnya fakta di seputar kepiawaian sang mantan ketua umum Partai Golkar ini dalam meniti karir dan seni berpolitiknya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Ingatan saya kembali ke masa awal kejatuhan Orde Baru tahun 1998 – saat dimana semua hal yang bertalian dengan warisan Orde Baru, termasuk Golkar dan orang-orang yang aktif, pernah aktif di pemerintahan maupun Golkar sebagai mesin politik rezim, menjadi obyek pelampiasan kekesalan dan kemarahan kolektif masyarakat perkotaan Indonesia. Sudah barang tentu orang yang mengomandoi Golkar yang berubah nama menjadi Partai Golkar tak luput dari amok verbal dan fisik orang-orang yang kecewa itu. Saat itu suara-suara orang yang meminta Golkar dibubarkan adalah hal biasa. Dan, teramat biasa pula kantor sekretariat Partai Golkar yang letaknya tak jauh dari Stasiun Cikini Jakarta menjadi sasaran kekesalan orang-orang yang marah. Pembukaan masa kampanye Pemilu 1999 yang ditandai dengan sebuah acara mirip karnaval di kawasan Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat pun tak luput dari insiden massa yang merendahkan Golkar. Di saat-saat susah dan kritis itulah Akbar Tandjung memimpin Partai Golkar hingga Desember 2004.

Putra Sibolga, Sumatera Utara, kelahiran 14 Agustus 1945 yang pernah menjadi menteri beberapa kali di era Soeharto dan Habibie, serta ketua umum DPR-RI di era reformasi ini tampak tak kenal menyerah dalam perjuangannya menyelamatkan Golkar. Kekecewaan kolektif publik perkotaan terhadap Golkar di masa awal reformasi berbuah “kekalahan” Partai Golkar pada Pemilu 1999. Kendati tidak sampai terperosok jauh, ia tidak lagi menjadi yang pertama. Posisi yang selalu ia peroleh sepanjang 32 tahun sejarah kekuasaan rezim Soeharto itu diambil partainya Ibu Megawati Soekarnoputri. Tentu hal ini tak pernah terjadi di era Orde Baru karena siapa pun tahu bahwa Golkar disokong oleh dua mesin sekaligus: birokrasi dan militer (ABRI). Namun di tengah situasi kritis pascakejatuhan Pak Harto itu, Bang Akbar – begitu ia selalu disapa – berhasil membuktikan kehandalannya selaku pemimpin partai.

Mantan ketua umum PB HMI (1972-1974) itu membuktikannya sendiri dalam Pemilu 2004. Kendati Jenderal (Purn) Wiranto yang diusung Partai Golkar sesuai dengan hasil konvensinya kalah bersaing dengan Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden langsung pertama dalam sejarah politik Indonesia modern, Golkar kembali berhasil meraih jumlah suara terbanyak dalam Pemilu 2004 itu.

Prestasi inilah yang mengantarkan Golkar menjadi fraksi dominan di DPR-RI. Sayang, nasib baik tak berpihak ke Bang Akbar. Buah dari perjuangan mati-matiannya di Partai Golkar di masa sulit itu justru dinikmati oleh Jusuf Kalla, wakil presiden RI, yang berhasil mendepaknya dari kursi ketua umum dalam kongres partai berlambang pohon Beringin ini.

Kehilangan kursi kekuasaan tidak lantas membuat dirinya berputus asa dan mengalami post-power syndrome, penyakit jiwa yang sering menghampiri banyak mantan pejabat di negeri bernama Indonesia. Seperti kata pertama dalam nama pilihan orang tuanya – Akbar, ia pun kerap menciptakan terobosan-terobosan "besar" (akbar).

Setelah mendirikan The Akbar Tandjung Institute yang mendukung kasanah kajian politik dan ekonomi di Tanah Air, ia kembali mengejutkan publik Indonesia, termasuk saya, dengan langkahnya kembali ke kampus. Tak tanggung-tanggung, ia menjadi mahasiswa program doktor ilmu politik Universitas Gadjah Mada (UGM) dan berhasil merampungkan pendidikannya itu dengan predikat summa cumlaude.

Semua itu adalah bukti dari jejak-jejak kepiawaian seorang Akbar Tandjung. Selaku bagian dari insan citanya HMI yang memadukan keislaman dan keindonesiaan, ia tampak tetap memelihara denyut pengabdian dan kekaryaannya buat Indonesia. Gebrakan segar seorang Bang Akbar pun kembali menghampiri kita semua 5 April 2008 ini -- peluncuran situs pribadi yang menegaskan komitmennya untuk tetap “mengabdi untuk Indonesia”.

Ia berkata dalam lamannya http://www.bangakbar.com :

“...Hanya dengan kepemimpinan yang kuat, kompeten, demokratis dan didukung rakyat secara luas, suatu pemerintahan dapat mengembangkan kebijakan secara efektif, terutama dalam menangani krisis.”

Kata-katanya itu patut dicamkan siapapun yang menjadi pemimpin negeri ini. Selamat dan sukses selalu buat Anda, Bang Akbar. Kami tunggu kiprahmu yang tiada henti untuk Indonesia

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity