Australia diyakini mampu bertahan di tengah turbulensi resesi ekonomi Amerika Serikat (AS), demikian Harian "The Australian" melaporkan, Kamis.Keyakinan itu didasarkan pada hasil analisa Dana Moneter Internasional (IMF) yang memperkirakan ekonomi Australia tumbuh lebih dari tiga persen sepanjang 2008 dan 2009.
AS merupakan negara mitra dagang terbesar Australia selain China.
Suratkabar milik konglomerat media global, Rupert Murdoch, ini menyebutkan IMF memperkirakan ekonomi Australia tumbuh masing-masing 3,2 dan 3,3 persen pada 2008 dan 2009 atau jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Jepang dan Inggris.
Ekonomi kedua negara yang juga merupakan mitra dagang penting Australia itu diperkirakan IMF tumbuh kurang dari dua persen.
IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jepang pada 2008 dan 2009 hanya sebesar 1,4 dan 1,5 persen, sedangkan ekonomi Inggris tumbuh sebesar 1,6 persen pada periode yang sama.
Ekonomi AS diperkirakan hanya tumbuh sebesar 0,5 persen pada 2008 dan 0,6 persen pada 2009, sedangkan pertumbuhan ekonomi dunia pada dua tahun mendatang diperkirakan IMF sebesar 3,7 dan 3,8 persen.
Kondisi pertumbuhan ekonomi Australia maupun negara-negara di dunia, termasuk China dan India, pada 2008 dan 2009 lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi mereka tahun 2007.
Menteri Perdagangan Australia, Simon Crean, pada 6 Maret lalu mengakui adanya defisit perdagangan pada Januari 2008 sebesar 2,7 miliar dolar Australia akibat pertumbuhan ekspor jauh lebih rendah dari impor.
Ia mengatakan, ekspor Australia hanya meningkat sekitar lima persen dari periode yang sama tahun 2007 namun pertumbuhan impor naik 16 persen.

No comments:
Post a Comment