Menteri Negara Lingkungan Hidup Ir.Rachmat Nadi Witoelar Kartaadipoetra menjadi orang Indonesia pertama yang ditunjuk sebagai profesor honoris untuk mengajar di Sekolah Lingkungan Universitas Griffith (GU) Australia."Saya sangat terharu diberikan tanggung jawab dan dukungan ini. Saya akan mengajar di School of Environment (Sekolah Lingkungan) Universitas Griffith," katanya kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane beberapa saat setelah ia menerima status profesor honoris di kampus GU Gold Coast, Kamis sore.
Rachmat Witoelar mengatakan, penunjukan dirinya sebagai profesor honoris bidang lingkungan hidup ini merupakan kehormatan bagi Indonesia.
"Saya akan mengajar masalah lingkungan, khususnya yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup," katanya.
Kamis sore , Rachmat Witoelar menerima penunjukan dirinya sebagai profesor honoris untuk Sekolah Lingkungan GU Australia dalam sebuah acara yang berlangsung di kampus GU Gold Coast, Queensland.
Status profesor honoris itu disampaikan langsung oleh Vice Chancellor GU Prof.Ian O'Connor.
Dalam acara itu, Konsul Jenderal RI Sydney,Sudaryomo Hartosudarmo, dan Sekretaris III/Wakil Konsul KJRI Sydney, Fery Iswandy, turut hadir.
Fery Iswandy mengatakan, dalam acara pemberian status profesor honoris itu, Menteri Rachmat Witoelar menyampaikan presentasi bertajuk "Hasil dan kemajuan konferensi perubahan iklim Bali".
Informasi yang dihimpun ANTARA dari kantor Vice Chancellor GU menyebutkan, penunjukan Menteri Rachmat Witoelar sebagai profesor honoris didasarkan pada rekomendasi dua orang staf pengajar senior GU.
Keduanya adalah Prof.Dr.Ned Pankhurst, Pro Vice Chancellor GU untuk bidang sains, lingkungan hidup, teknik dan teknologi, serta Dr.Peter Davey, dosen senior di Sekolah Lingkungan GU.
Rachmat Witoelar adalah menteri LH yang ke-sembilan setelah Emil Salim (tiga kali menjadi menteri), Ir. Sarwono Kusumaatmadja, Prof. Dr. Juwono Soedarsono, Panangian Siregar, Sonny Keraf, dan Nabiel Makarim.
Putra kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat 2 Juni 1941 itu menyelesaikan pendidikan sarjananya di Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung tahun 1970 namun ia dikenal luas sejak lama sebagai orang yang menaruh minat pada lingkungan hidup.
Rachmat Witoelar dinilai berhasil memainkan perannya sebagai Presiden COP XIII Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Bali Desember 2007 yang berlangsung alot namun berakhir dengan sukses.
Kesuksesan UNFCCC ke-13 di Bali itu ditandai dengan pengesahan Peta Jalan Bali (Bali Road Map).

No comments:
Post a Comment