Thursday, March 20, 2008

AUSTRALIA MINTA CHINA IZINKAN MEDIA ASING MASUK KE TIBET

Australia meminta China menghormati hak azasi manusia para warga Tibet yang ditahan serta membebaskan media asing masuk ke Tibet supaya mereka mendapatkan pemahaman yang benar tentang apa yang sesungguhnya terjadi di sana.

Menteri Luar Negeri Stephen Smith, Kamis, mengatakan, Canberra mengimbau Beijing memberikan akses yang bebas kepada masyarakat dan media internasional untuk masuk ke Tibet dan wilayah-wilayah lain di China yang juga dilanda aksi kekerasan.

Pemberian akses itu penting karena akan membantu masyarakat internasional dan media asing memiliki pemahaman yang benar tentang apa yang sesungguhnya terjadi, katanya.

Menlu Stephen Smith juga kembali menyampaikan keprihatinan mendalam Australia atas situasi di Tibet dan adanya laporan tentang aksi kekerasan yang meluas ke sejumlah provinsi lain di China.

Untuk itu, ia kembali mengimbau semua pihak yang terlibat untuk menahan diri dan mengakhiri aksi-aksi kerusuhan guna menghindari jatuhnya korban yang lebih besar. "Ini adalah tragedi untuk pihak mana pun jika situasi semakin memburuk," katanya.

Penanganan situasi di Tibet dan wilayah-wilayah lain yang terkena imbas oleh masalah di Tibet secara damai dan konstruktif adalah kepentingan nasional China sendiri, kata Menlu Stephen Smith.

"Dialog-dialog yang konstruktif dan bermakna sudah sepatutnya menjadi prioritas," katanya.

Keprihatinan Pemerintah Australia itu telah disampaikan ke para pejabat China di Beijing maupun Canberra, disamping pernyataan yang disampaikan dirinya dan Perdana Menteri Kevin Rudd, katanya.

"Saya telah perintahkan para pejabat (Australia) di Beijing untuk kembali berbicara dengan pejabat pemerintah China di Beijing dan mencari klarifikasi lebih lanjut tentang kejadian di Lasha dan wilayah-wilayah Tibet lainnya," katanya.

PM Rudd sendiri telah berencana mengunjungi China untuk bertemu Presiden Hu Jintao, PM Wen Jiabao, dan generasi baru kepemimpinan China hasil Kongres ke-17 Partai Komunis China pada 9-12 April mendatang.

Kembali ke soal keprihatinan dan himbauan Canberra agar semua pihak memahan diri dan segera mengakhiri aksi kekerasan, dalam dua pekan terakhir ini, Menlu Stephen Smith setidaknya sudah dua kali menyampaikan pernyataan yang sama.

Pada 15 Maret lalu, Pemerintah Australia juga sudah menyampaikan keprihatinannya pada cara China menangani para demonstran pro-kemerdekaan Tibet di Lasha.

Canberra juga terus memonitor kondisi delapan orang warga negaraya yang berada di kota itu.

"Kami mengimbau Pemerintah China mengizinkan warga (Tibet) menyampaikan aspirasinya secara damai. Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) telah berhubungan dengan delapan orang warganya yang masih berada di Lasha saat ini dan terus memonitor kondisi mereka," katanya.


"Travel advisory"
Menyusul terjadinya demonstrasi yang berakhir dengan kerusuhan di Lasha itu, Pemerintah Australia memperbaharui status "peringatan perjalanan" (travel advisory) terhadap China sejak 14 Maret dengan meminta semua warganya mempertimbangkan kembali rencana mereka untuk bepergian ke Lhasa saat ini, kata Menlu Smith.

Dalam kerusuhan politik di Lasha Jumat pekan lalu, Kantor Berita China, Xinhua, melaporkan setidaknya sepuluh orang tewas terbakar. Jumlah korban yang tewas versi pemerintah China itu jauh lebih rendah dari jumlah korban yang diklaim sumber-sumber pendukung Pemimpin Spiritual Tibet di pengasingan, Dalai Lama.

Para pendukung Dalai Lama menyebutkan setidaknya 30 orang tewas di Tibet.

Kantor berita Reuters menyebut protes pro kemerdekaan rakyat Tibet itu merupakan yang terkeras melanda wilayah itu dalam dua dasawarsa dan mencoreng citra China beberapa bulan menjelang Beijing menjadi tuan rumah Olimpiade 2008.

Dalam aksi protes pro-kemerdekaan yang berakhir rusuh di Lasha pekan lalu itu, terjadi lebih dari 160 kebakaran.

China menuduh Dalai Lama mendalangi aksi kekerasan itu. Namun tuduhan Beijing itu dibantah Dalai Lama dengan menyebut tuduhan tersebut sebagai sesuatu yang "tidak berdasar sama sekali".

Menyusul terjadinya kerusuhan tersebut, para wisatawan asing dilaporkan tidak diizinkan memasuki Tibet, apalagi pekerja media asing. Pada Kamis, berbagai media internasional melaporkan dua orang wartawan asing diusir dari Lasha.

Kedua wartawan itu adalah Georg Blume, koresponden suratkabar mingguan Jerman Die Zeit dan Harian Taz Berlin, serta Kristin Kupfer, koresponden majalah "Profil" Austria.

Mereka mengatakan, China sedang memperkuat kehadiran pasukan keamanannya di dan sekitar Tibet menyusul aksi kekerasan setiap hari di sana. Mereka pun melihat ratusan truk militer memasuki wilayah itu.

"Saya melihat satu konvoi paling tidak 200 truk dengan 30 personil dalam setiap kendaraan itu. Jadi ada sekitar 6.000 tentara yang saya lihat datang dalam satu hari," kata Blume kepada radio Inggris BBC, segera setelah meninggalkan Lhasa Kamis pagi.

Seorang wartawan BBC melaporkan dari China barat ia menghitung lebih dari 400 kendaraan militer bergerak dalam konvoi-konvoi sampai 80 kendaraan yang menurut dia menuju Tibet.

China menguasai Tibet sejak 1951 dan perlawanan terhadap kekuasaan Beijing terus berlangsung.

*) My news for ANTARA on March 20, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity